Hari Pertama II: It’s Good to be Back

Jadi, sekolah sudah penuh dengan orangtua dan saya pun melipir masup kantor dan bersembunyi di sana lalu, berharap, gak ada yang ganggu sampai agak siang. Sampai saya bisa keluar dan mengunjungi kelas-kelas. Khususnya kelas-kelas kecil yang selalu saja ada kegiatan yang menyenangkan pada hari ini.

Tapi, tentu saja itu tidak bisa.

Saya, mau gak mau, haruspun ngobrol-ngobrol dengan beberapa orangtua. Beramah tamah. Kemudian beberapa pengurus yayasan pun pasti hadir. Apel pagi dan saya harus bicara di depan semuanya. Daaaan, sampai hari ini habis, saya harus menyiapkan diri untuk masih terus berbincang-bincang.
Harusnya begitu. Takdir menyelamatkan saya hari ini, hehe..

Salah satu rekan gak masuk sekolah karena ada sesuatu dan dia adalah salah satu walikelas. Hupft, mana ada yang kosong hari ini? Maka saya, terpaksa, atau sengaja, lebih cenderung sengaja, mengajukan diri untuk menggantikannya masuk kelas pada hari pertama.

IT WAS FUN!

Kami bersenang-senang.

Tahulah hari pertama sekolah itu bagaimana. Seharian di kelas bicara ini dan itu dengan anak-anak yang sama sekali tidak dibelenggu dengan kurikulum yang menyesakkan nafas. Membicarakan bukan hanya apa saja yang kita alami saat liburan yang baru saja berlalu, tapi apa saja harapan kita semua pada tahun yang akan datang. Bagaimana kita bisa membuat satu tahun yang akan datang menjadi tahun yang lebih hebat lagi dimana kita bisa belajar banyak, sekaligus bersenang-senang saat melalui prosesnya.

Dan kelas mana yang paling menyenangkan pada hari pertama? Tentu saja bukan kelas anak-anak baru! Tapi kelas anak-anak lama di mana kita sudah saling mengenal sebelumnya.

Jadi, saya harus mengisi hari pertama untuk salah satu kelas empat. Kelas yang hari selanjutnya akan ditandai oleh para guru sebagai kelas (atas) paling rusuh tahun ini. Dan, tentu saja, kelas rusuh adalah kelas yang paling saya minati.
Beneran, saya tidak pernah semangat jika harus mengajar di kelas yang damai adem tentram dengan anak-anak yang rapih disiplin tinggi. Tidak terimakasih. Saya jauh lebih senang jika harus berhadapan dengan para begundal tukang bikin guru menggertakan gigi. Yah, walaupun pada hari pertama itu, kami tidak tahu bahwa kelas ini akan menjadi kelas yang rusuh.

Jadi ada dua kelas di angkatan ini. Dan tahun kemarin, kami memisahkan mereka berdasarkan anak-anak yang gampang diatur dan yang ribet kalau disuruh diam. Hasilnya? Well, mungkin sangat memudahkan di satu sisi, tapi menyusahkan di sisi yang lain. Kelas tiga yang satu mungkin jauh lebih tentram dan damai dengan hampir tidak ada insiden apapun!

Bayangin, betapa membosankannya, ya, kelas tersebut! Dan bayangin aja gimana jadinya sebuah kelas yang bahkan para gurunya sendiri pun merasa bosan setengah mampus. Paling enggak menurut saya yang bahkan terkadang malah jadi bikin mati gaya mengajar di kelas tersebut. Bahkan dari awal saya sudah menyadari bahwa ini kesalahan yang besar. Anak-anak berubah menjadi pasif bahkan anak-anak yang tadinya cukup aktif pun ketularan melempem.

Hasilnya, jumlah prestasi belajar mereka secara umum terjun bebas.

Sementara kelas yang satu lagi, itu adalah kelas yang setiap harinya bikin walikelasnya tertekan stres sampai ke ubun-ubun, yang tentunya, seperti selalu, menjadi kelas yang paling sulit diakhiri. Dengan terlalu banyak kasus yang mmenjengkelkan saat dialami tapi menyenangkan saat dikenang, pada akhirnya akan menjadi kelas yang paling berat untuk ditingkalkan. Secara alamiah, sang walikelas akan menjadi orang yang paling dituntut untuk putar otak setiap harinya.

Bayangkan jika ada satu kelas terdiri dari segerombolan anak yang lebih suka ngatur daripada diatur dan jumpalitan setiap waktu, bahkan yang paling ancur nilainya jadi ikutan kebawa lari-larian seperti rekan-rekannya yang lain. Dan inilah alasannya kenapa saya jauh lebih suka kelas yang jumpalitan dibanding kelas tertib tenang siap duduk rapih saat guru datang. Kita bahkan tidak perlu mengeluarkan banyak energi untuk memaksa mereka bergerak. Mereka yang geregetan setengah mati gak sabar untuk segera bertualang.

Tentu saja, mengajar di kelas aktif itu artinya guru harus selalu siap. Kalau gurunya malah tipikal gitu-gitu aja, anak-anak setengah HDHD ini jatuhnya Cuma jadi tukang bikin onar dowang.

Seperti kata sensei aikido saya dulu, ini hanya soal momentum. Dia punya energi, dan yang kita harus lakukan adalah memanfaatkan energi mereka kita demi keuntungan kita. Atau dalam hal ini, demi keuntungan mereka sendiri.

Jadi, jangan pernah terlalu benci dengan anak-anak yang punya energi lebih di kelas. Mereka lah yang membuat kelas menjadi tidak pernah membosankan.

Iya, iyaa… Baiklah, jangan sama ratakan semuanya. Saya mengatakan ini karena yang saya hadapi adalah anak-anak sekolah dasar yang normal dan tidak memiliki kecenderungan menjadi psikopat tentunya. Maka jika apa yang disebut dengan nakal di tempat saya, tentu saja berbeda dengan nakalnya anak-anak SMA.

Jadi tahun ini, kelas kembali digabung dan dipisahkan. Tetap dua kelas tentunya. Dan saya menyaksikan bagaimana setengah dari dua kelas yang bertolak belakang karakter ini harus mengalami hari pertama mereka menjadi satu tim.

Mereka bahkan duduk berpisah. Pilihan mereka sendiri, secara naluriah. Dan saya sama sekali tidak ada niat untuk memaksakan mereka duduk di mana pada hari ini. Terserah meraga. Bagaimana nyamannya saja. Maka bagian kiri anak-anak tertib, bagian kanan anak-anak yang ogah diam.

Di kelas sebelah, kelas empat yang pertama nampaknya anak-anak diam yang menang. Anak-anak kelas rusuh mendadak lebih kalem mengikuti kalemnya anak-anak yang diam. Tapi tentu saja gak sediam sebelumnya. Atau mungkin juga mereka ikutan kalem mengikuti kalemnya sang walikelas mereka, huehehe.. Itu teori para guru. Jadi kalau gitu kelas satu lagi yang jatuhnya malah ikutan ngerusuh itu salah saya yang mengisi hari pertamanya, gitu?

Lucu, loh menyaksikannya. Anak-anak yang kiri dari awal dan semakin terheran-heran dengan energi anak-anak sebelah kanan yang seakan gak ada habis-habisnya. Segalanya dikomentarin dan semuanya mau ikutan terlibat dengan apapun. Sementara sisi sebelah kiri tipikal penurut apa kata bu guru aja, deh. Kita ikutan.

Bayangin saja, bahkan saat bel pulang berdering, yang hari itu kami masih menjalani hari sekolah setengah hari saja, anak-anak bagian kanan masih juga sibuk mendebat dan mencoba menegosiasi point-point kesepakan kelas mengenai tata tertib belajar. Sementara itu anak-anak sisi kiri sudah siap dengan backpack masing-masing bersanding menatap hoples rekan-rekan mereka yang bahkan ngeberesin buku-buku dan perlengkapan pun belum dimulai. Sampai beberapa anak sisi kiri berseru lemah:

‘Ayo, dong.. Ini kan udah bel pulang. Besok aja deh dilanjutin lagi.’

‘Besok itu udah hari belajar,’ seru salah seorang anak sisi kanan. ‘Kita udah gak ngurusin kesepakatan kelas lagi. Udah ditempel!’

Betuuuuuul… Memang begitu biasanya. Bagaimanapun, pembicaraan kesepakatan kelas harus berakhir hari ini. Karena besok, semua kesepakatan sudah jadi. Maka kalau gak selesai hari ini, setiap butir kesepakatan menjadi hak preogratif walikelas. Itu semacam kesepahaman yang tak terucapkan di sekolah. Dan anak-anak yang jeli tahu ini.

Hari pertama di sekolah memang jadinya sangat politis. Sepolitisnya anak-anak SD tentunya.

Sebelum itu kami mengadakan pemilihan ketua kelas dan pengurus kelas. Sumpaaaaah, lucu pisan. Anak-anak sisi kiri begitu serius dan anak-anak sisi kanan menganggap itu semua hanya permainan belaka.

Tapi bukan berarti mereka gak memikirkan juga loh.

Sejak awal, nampaknya semua anak sudah sepakat untuk memilih Rifqi yang duduk di sisi kiri. Bagi anak-anak kiri, ini semacam kebanggaan. Ketua kelas kita harus yang berasal dari kiri! Masa sih kita kalah sama mereka! Sementara anak-anak kanan bukannya gak ada yang mampu menjadi ketua kelas. Saya kira anak yang bernama Sabil sangat cocok karena dia memang punya bakat memimpin dan disegani kawan-kawannya. Tapi apakah si Sabil ini lebih pengen jadi ketua kelas atau justru malah menggiring kawan-kawannya membuat lelucon yang gila-gilaan? Yah, saya kira Anda pun sudah menebaknya.

Bagi saya pribadi, Sabil lebih cocok jadi ketua kelas. Selain mampu, dia punya kekuatan untuk itu. Dia orang yang bisa membuat semua anak lain mematuhi apa yang menjadi keinginannya. Itu terbukti dari kisah-kisah tahun kemarin. Saya sendiri yang mengatakan kepada rekan-rekan bahwa kalau kalian pengen bisa pegang anak kelas tiga yang itu, kalian harus bisa pegang Sabil. Begitu Sabil sudah bisa dipegang, itu berarti kita sudah memegang semua anak lain di kelas itu.

Tapi Sabil bukan tipe orang yang kepengen jadi pemimpin. Dia anak yang lebih suka bersenang-senang.

Jadi, setelah satu putaran terlewati (Anak-anak sisi kanan ngotot melakukan pemilihan ketua kelas dua putaran karena kata mereka lagi musim gitu. Kayak milih gubernur Jakarta.) maka calon yang tersisa adalah Rifqi, Sabil, Manda, dan Uqi. Rifki, dalam kampanyenya, yang sesungguhnya hanya bicara dua menit di depan kelas, hanya ngoceh seadanya saja. Yah, begitulah. Bahwa kalau terpilih, dia akan mencoba amanah. Blablabla… Uqi pun gitu. Amanda yang jelas-jelas gak kepengen cuma senyum aja dan bilang kalau dia gak tau mau ngapain. Soalnya kan pemilihan yang pertama adalah pemilihan yang terbuka. Siapapun boleh memilih siapapun di kelas. Dia jelas merasa keberatan kalau musti jadi ketua kelas.

Lalu Sabil, apa yang dia katakan?

Well, setelah mengucap salam, dia malah menggiring anak-anak untuk memilih Rifqi dan…. Manda. Soalnya, kata dia, mereka berdua pasangan yang serasi.

‘Coba temen-temen, bayangin. Ketua kelas kita Rifqi dan wakilnya Manda. Cocok kan mereka? Ciecieeeeee…..’

*ngakak

Maka putaran kedua pemilihan ketua kelas ini hanya joke saja. Karena hampir semua anak, kecuali Manda dan Rifqi, menulis nama Rifqi sebagai ketua kelas dan Manda sebagai wakilnya.

Laaaaah, ini pagimane urusannyaaaa?

Mau di veto pun percuma. Toh, anak-anak semuanya sepakat kalau itu sah.

Yaaa, iya juga, sih, ya..

Setelah ketua dan wakil, maka pengurus kelas yang lain pun berlangsung sama aja. Kayaknya setiap kali kita memilih untuk satu posisi di kelas, anak-anak kanan udah bisik-bisikan siapa yang cocok. Dan lucunya, polanya kebaca banget. Si ketua adalah orang yang memang cocok untuk posisi itu, sementara orang yang kedua hanyalah lelucon ledek-ledekan saja. Dan semua pengurus kelas ini, semuanya, berasal dari sisi kiri. Anak-anak sisi kanan hanya cengengesan cengar-cengir lebar dowang.

Well, saya kira ini akan menjadi tahun yang akward buat kelas ini. Karena diatas kertas, pengurus kelasnya anak-anak dari sisi kiri, tapi toh kita semua tahu siapa yang benar-benar memegang kendali di kelas ini pada akhirnya.

Sungguh kasihan para pengurus kelasnya.

Eniwei, its good to be back. Walau cuma satu hari.

2 thoughts on “Hari Pertama II: It’s Good to be Back

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s