Bupati Yudhoyono

Di lemari saya di kantor guru tersimpan tumpukan gambar-gambar para pahlawan. Kenapa saya sebut gambar? Yaa, sebab toh gak semuanya memang foto aseli para pahlawan, kan? Ada yang sebetulnya hanya model saja. Dan kenapa musti tersimpan di lemari? Tentu ini kebijakan dari yayasan yang melarang terpampangnya gambar-gambar makhluk hidup. Gambar para pahlawan salah satunya.

Saya kira, udah capek lah ya kalo musti dibahas kenapa musti dilarang. Begitulah!

Maka gambar-gambar itu tetap digunakan, hanya jika sedang dibahas. Jika sudah selesai, dikumpulkan lagi, hehe.. Termasuk pula gambar presiden dan wakil presiden, lowh! Jadi di sekolah tempat saya bekerja, pada kelas-kelasnya, yang terpampang di dinding depan atas papan tulis hanya satu gambar yaitu burung garuda yang gagah itu dengan perisai pancasilanya. Serta bendera merah putih yang diletakkan di sisi kanan meja guru. Foto presiden dan wakilnya tetap ada di setiap kelas, tersimpan di dalam lemari kelas masing-masing. Terkadang tentu saja tetap ditempel di dinding. Jika ada tamu dari dinas atau saat ulangan saja.

Saya kira semua sudah tahu, ya, kalau sekarang ketentuan yang seperti itu tidak lagi seketat jaman orde baru. Sekolah saat ini tidak harus menyelenggarakan upacara tiap senin pagi. Bisa sebulan sekali setiap tanggal 17, bisa juga hanya pada saat 17 agustus saja. Di sekolah kami, upacara bendera tetap dilaksanakan tapi dengan sedikit modifikasi yaitu kami tidak menaikan bendera merah putih. Benderanya sudah berada di atas tiang sana sejak awal. Kami hanya menyanyikan lagu Indonesia Raya saja. Mungkin lebih tepatnya, itu disebut dengan apel pagi, kali, ya, hehe..

Baidewei, beberapa jam sebelumnya, saya menonton sebuah acara di TV yang mengulas tentang kehidupan sekolah di salah satu daerah di Indonesia. Kelas satu sampai kelas enam berada di dalam satu kelas dan kenaikan kelas di tempat itu dilaksanakan tiap dua bulan sekali! Astaga! Lah, setahun juga kita udah bisa lulus kalo gitu, ngng..?

Membuat saya tertarik saat si pembawa acara bertanya sama anak-anak siapa orang yang fotonya ada di dinding itu. Foto Presiden Yudhoyono yang ditunjuk. Dan anak-anak menjawab: Bupati!

*gabruk

Kebalikan di tempat saya, tiap masuk pertama kali pelajaran Kewarganegaraan kelas empat yang topiknya tentang pemerintahan daerah, anak-anak mana tau apa itu bupati. Mereka gak tahu apa itu walikota atau kotamadya, mereka gak tau apa itu kecamatan atau bahkan kelurahan. Mereka hanya tahu presiden, DPR, dan KPK. Pokoknya sering-sering ada di TV, lah.

Siapa tokoh pahlawan yang paling anak-anak kenal? Tentu saja Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, RA Kartini, KH Ahmad Dahlan dan Jenderal Sudirman. Pahlawan selain itu, musti banyak dibahas dulu.

Dua nama pertama banyak anak yang baru ngeh kalo itu dua orang yang beda. Mereka awalnya selalu menganggap itu satu orang karena yang mereka tahu, nama itu disebut dalam teks proklamasi yang akhirnya: Soekarno-Hatta. Jadi saat kelas 4 selalu ada saja suara-suara terkejut di dalam kelas:

‘OOOh, itu dua orang, ya?’

Ki Hajar Dewantara dan RA Kartini dikenal anak-anak karena ada dua hari perayaan nasional kita yang berhubungan dengan dengan dua tokoh tersebut yaitu hari pendidikan nasional 2 mei dan hari Kartini tanggal 21 April. Dua nama terakhir, ya, karena ada filmnya.

KH Ahmad Dahlan dikenal anak lewat film Sang Pencerah sementara Jenderal Sudirman mereka tahu namanya dari film Merah Putih 2: Darah Garuda yang walaupun gak nungul tokohnya tapi namanya toh disebut-sebut. Jadi saat koleksi foto pahlawan yang selalu saya bawa setiap pelajaran IPS atau PKN yang berkaitan dengan sejarah dan mereka lihat-lihat, kagetlah mereka melihat nama Jenderal Sudirman ada di situ.

‘Jenderal Sudirman itu beneran ada, Bu?’

Ya, dan mari kita berceritaaaa, hehe…

Tahun ini, nama-nama kelas kami dikembalikan menjadi nama-nama pahlawan nasional dan ada satu kelucuan yang terjadi. Kelas empat kami memiliki tiga kelas yang tiga nama tersebut adalah: Agus Salim, Sudirman, dan M. Husni Thamrin. Pada hari pertama masuk sekolah, anak-anak dari dua kelas empat pada protes dan minta pindah ke kelas Sudirman dengan alasan:

‘Jenderal Sudirman kan orang keren, Buuu..’

*ngakak

Jadi gimana dooong? Masakah kita musti ganti nama kelasnya lagi jadi kelas 4 Sudirman 1, kelas 4 Sudirman 2, dan kelas 4 Sudirman 3?

*Nyahahha

Maka tugas pertama walikelas masing-masing tuh jadinya kudu menceritakan kekerenan dari dua tokoh yang lain. Iya, emang Jenderal Sudirman itu keren banget, tapi KH Agus Salim dan M. Husni Thamrin gak kalah kerennya, lowh, Nak..

Saya kira, yang ingin saya katakan di sini adalah betapa berartinya film bagi mereka. Ngenes, kan, jika pahlawan yang mereka kenal hanyalah Kapten Amerika, Iron Man, atau Ghost Rider dan hanya itu-itu saja yang mereka bicarakan. Bahkan anak-anak kita itu jauh lebih kenal dengan Abraham Lincoln atau Nelson Mandela daripada Danudirdja Setiabudi dan Sutan Syahrir (Atau jangan-jangan, Anda juga?). Hari ketika kita membicarakan Sudirman pada saat itu adalah hari pertama dari sekian hari saat seorang pahlawan nasional terlihat jauh lebih keren daripada Bhisma Karisma-nya grup Sm*sh.

Kenapa kita selalu membahas pahlawan-pahlawan kita pada suatu media yang serius seperti dokumenter yang gak menarik untuk anak-anak? Itupun gak ada pula jika kita mencari rekamannya yang gak seperti film-filmnya National Geography atau BBC yang kita bisa cari dengan mudah. Tahu tidak, topik pelajaran sejarang paling mudah bagi anak-anak saya adalah topik mengenai tokoh-tokoh dewa Hindu yang sudah mereka tahu namanya dari film kartun Little Ganesha.

Apakah Anda sebagai orangtua pernah menceritakan tokoh-tokoh sejarah kita kepada anak-anak Anda sebagai bahan obrolan? Jika tidak, maka jangan mengeluh jika anak Anda lebih lebih tahu siapa creator Facebook dari ada siapa presiden pertama kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s