Thor Kembali ke Program

Ini mengingatkan banget bagi kita, deh, pihak sekolah untuk bener-beneran make sure waktu menerima siswa yang spesial saat penerimaan siswa baru. Karena tentu saja, sebagai pihak sekolah swasta, yang sering juga saya ulang, bos kita itu banyak. Dari ortu murid, yayasan, dinas, dan bahkan masyarakat setempat yang kadang-kadang bikin kita juga ikutan keliyengan, hehe..

Jadi anak ini, kita sebut saja Thor, sejak awal penerimaan siswa baru sudah dipertanyakan sebetulnya. Pada saat itu, sekolah belum menjadi sekolah inklusi, dan belum memiliki suport untuk itu tentu saja. Nah, anak ini sudah terlihat memiliki permasalahan dalam hal mengenali huruf. Boro-boro bisa baca, deh.

Oh, ya, saat itu kami hanya menerima anak yang sudah bisa baca. Lima tahun yag lalu, sudah banyak perubahan di sekolah kami ini dwooong..

Sang orangtua memohon mati-matian agar anaknya diterima. Pasalnya, ini anak gak diterima di sekolah manapun! Termasuk sekolah negeri yang harusnya sih, mereka kan menerima siswa tanpa mandang bisa baca atau tidak, ya.. Sang walikelas satu yang baik hati ini kemudian mengambil keputusan untuk menerima Thor. Saya gak tau panjang lebar ke belakang lagipula, saya tahu persis sang walikelas udah mati-matian lah berusaha mengajar anak itu.

Sampai pada akhir tahun, ini anak teteup kesulitan juga mengenali huruf. Bu Kirsan yang pengetahuannya tentang anak berkebutuhan khusus itu bisa dikatakan nyaris gak ngeh apa-apa pun mulai kepikiran kalau anak ini disleksia, deh, ya.. Minta agar ortunya memeriksakan kepada lembaga yang kompeten dalam hal itu. Ya, karena kita sebagai guru pun gak bisa melakukan apa-apa selain menyaamakan standar kalau tidak ada hitam diatas putihnya, kan?

Sang ortu memenuhi. Dan memang anak ini disleksia. Maka si anak pun naik kelas dengan catatan kalau dia akan diberikan bantuan dari pihak lain karena sekolah tidak memiliki suport untuknya. Walaupun saat itu Bu Kirsan sih menganjurkan agar Thor masuk sekolah inklusi aja.

Kelas Dua.

Bah, ini kelas paling parah mungkin bagi Thor. Lah, gimana enggak, dia siyal dapet guru kelas yang, ngakunya sudah berpengalaman dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus itu tapi yang dilakukannya hanya ‘perang’ dengan sang ortu. Ancur banget! Yah, kebayang banget gimana akhirnya, kan?

Pada akhir tahun ajaran itu, yayasan berkeputusan untuk menjadikan sekolah ini menjadi sekolah inklusi. Guru-guru garuk kepala. Lah, gimana ini kita kan gak ngerti apa-apaaa.. Tapi, inklusi tetap dibuka dan saya sebagai salah seorang yang awalnya menentang, mulai mengerti bawa apa yang saya lakukan itu (yaitu mmenentangnya) mungkin jahat pisan, lah.

Kelas Tiga.

Keadaan sudah lumayan baik bagi Thor. Selain sudah mendapatkan bantuan yang diperlukannya, di kelasnya pun ada satu lagi siswa berkebutuhan khusus lain yang autis. Dan terus terang saja, pada masa awal perubahan sekolah ini, saya justru paling salut dengan kelasnya Thor. Anak-anak regulernya lah yang paling mau menerima ABK. Bukan hanya hampir tidak ada bullying verbal, mereka pun memperlakukan ABK sama dengan teman-temannya yang lain.

Walaupun si (nama samaran) Max, siswa yang autis, suka juga dikerjain. Tapi bukan dikerjain yang jahat, mereka pun sangat-sangat membantu Max jika dia membutuhkan. Bisa dibilang, Max itu bener-bener bagian kelas mereka. Gak ada yang menyisihkan Max. Kalau main juga sama-sama, walaupun si Max selalu bikin anak lain kesel karena ditengah main tau-tau dia pergi aja.

Suka lucu juga kalau suatu saat si Max diajak ngobrol sama anak-anak yang masa bodo teing mau si Max ngeh apa enggak, walaupun Max nimpalin obrolan mereka juga gak pernah jelas arah juntrungannya, yang penting mereka ajak ngobrol, hehe..

Paling yang bikin guru kesel pas ulangan matematika atau IPA nah anak-anak tau-tau rebutan duduk di sebelah Max. GAK TAUNYA mereka tuh nyari kesempatan buat ngelirik kertasnya Max! Soalnya kan Max pinter matematikan dan IPA (dan hafalan qur’an), dan dia sama sekali gak keberatan ada anak lain yang ngelongok kertasnya dia. Bahkan kadang, itu kertas ulangannya dikasihin aja sama dia ke anak lain.

DOASAR!!!

Tapi ini gak berlaku begitu untuk Thor. Iya, sih, anak-anak lain sudah lebih menghargai Thor, tapi urusannya lebih ruwet.

Kebayang dong gimana perasaannya Thor? Dia yang awal-awalnya biasa aja tau-tau musti ikutan program yang anak lain enggak ikutan. Bareng (waktunya) sama Max pula yang kayaknya dia malah alergiiii banget sama Max.

Satu-satunya anak di kelasnya yang ogah ngobrol sama Max. Boro-boro ngobrol, ngeliat Max aja gak mau! Belom lagi kenyataan kalau pada pelajaran-pelajaran tertentu, dia pun musti didampingi oleh shadow teacher pula. Dan akhir kelas tiga, ibunya Thor minta agar Thor gak usah didampingi lagi, titik! Pokoknya gitu!

Anaknya stress, katanya.

Kelas Empat.

Ini walikelasnya Thor paling liuer ngadepin, bukan Thor, tapi ortunya yang ngotot surotot kalo Thor gak perlu diikutin program. Alasannya, toh gak keliatan hasilnya. Laaah, namanya juga baru berjalan setengah tahun. Ini kan baru dimulaiiii..

Masalahnya juga, ortunya Thor ini seorang wiraswasta (pemilik rumah makan) yang dua-duanya hanya lulusan SD. Bukan bermaksud merendahkan lulusan SD tentu saja, saya Cuma mau menggambarkan saja gimana pemikiran Sang Ortu yang selalu bilang, saya sama ibunya Thor juga gak pinter pernah gak naik kelas, toh bisa kaya juga.

Saya sudah ikut program selama setengah tahun, mana hasilnya?

Haduh, ini kan bukan beli ayam yang kita keluarin uang sekarang dapet ayamnya.

Tapi bagi ortunya Thor memang hasil itu harus jelas dan kongkrit terlihat di depan mata.

Ulangan tengah semester pertama, Thor masih mmendapat bantuan dan sedikit modifikasi. Lebih banyak bantuan dengan soal yang dibacakan. Dan hasilnya bagus. Tapi pada saat pengambilan rapot, justru Sang Walikelas dimarahin oleh ibunya Thor. Soalnya dia kan sudah minta agar anaknya keluar dari program, soalnya itu kan dia musti bayar tambahan bayaran, jadi kenapa musti diberi bantuan segala.

Padahal itu sudah diketahuinya sebelumnya. Pada bulan pertama, sudah ratusan juta kali (okeh ini lebay) walikelas menelpon yang gak pernah diangkat, atau memanggil yang gak pernah datang, meng-sms yang gak pernah dibalas, dan mendatangi ke rumah yang ujung-ujungnya hanya ngangguk iya-iya aja (gak tau juga Sang Ortu sebenernya ngerti apa enggak sih?) dan tau-tau, begitulah..

Akhirnya, setelah ngobrol dengan pihak BK, BK pun memutuskan untuk menghentikan program untuk Thor sampai Sang Ibu mau datang ke sekolah dan membicarakan ini.

Gak dateng-dateng.

Loh, rapot?

Diambil sama asisten rumah tangganya dong..

Lah, bayaran?

Transfer dong.

Sekali-kalinya dateng dan Sang Walikelas membicarakan nilainya Thor yang terjun bebas, Sang Ibu bilang, ‘Tuh, kan. Apa sih fungsinya program itu? Anak saya nilainya teteup jeblok.’

*tepokjidat

Okeh, mari omongin hal yang paling bikin takut ortu. Masalah naik kelas atau tidak.

‘Bapak tulis aja berapa jumlahnya biar anak saya bisa naik kelas.’

*tepokjidatlagi

Emang lo kira gua guru macem apa? Begitu kira-kira yang tercetus dalam hati sanubari Sang Guru yang alhamdulillah jujur ini.

Seiring dengan berubahnya status si Thor ini, keadaan malah tambah buruk bukan Cuma akademis, tapi juga hubungannya dengan anak lain. Iya, dong, dia jadi anak reguler. Dan kebayang bagaimana nasib anak reguler yang udah kelas 4 tapi bacanya masih patah-patah.

‘Goblok banget sih lo udah kelas empat masih belon bisa baca. Ade gua yang kelas satu aja bacanya lebih lancar dari elo!’

‘Mangkanya belajar dong! Jangan mikirin makanan melulu!’

Ini anak emang pikirannya makanan melulu. Jadi dulu waktu kelas satu, Bu Kirsan sering mengiming-imingi permen atau kue biar dia mau ngerjain tugas. Dan berhasil! Kalo anak lain stempel dan stiker, anak ini kue!

Mulai dijauhin dengan alasan: takut ketularan males, Pak.

Di kelas 4 ini ada tiga anak ABK lain dan setiap kali kerja kelompok, gak ada yang menolak untuk satu kelompok dengan ABK, gak ada! Tapi semua anak, kecuali yang ABK, ogah satu kelompok dengan Thor.

‘Gak mau soalnya dia gak bisa apa-apa. Nanti kelompok saya nilainya jelek.’

Gak bisa apa-apa! Padahal Thor hanya gak keren bacanya dowang.

‘Max kan keren ngapalnya, Bu!’

‘Anta kalo ngomong resmi bener kayak buku Bahasa Indonesia! Tapi kan jadi dia yang ngoreksi kalo kita salah-salah nulis.’

‘Alvin kan cuma gak bisa ngomong aja.’

‘Thor mah gak bisa apa-apa!’

*gurunyangelusdada

Kebayang dong pas kenaikan kelas betapa dilematisnya situasi Thor buat walikelas. Mau dinaikin kelas, lah, nilainya ancur ancuran gituh. Mo gak naik kelas mo sampai kapan? Bisa bertahun tahun nantinya di kelas empat. Yah, kan situasinya udah jelas, ini anak disleksia.

Atau dikasih jalan keluar yaitu tari lemon? Naik kelas tapi musti pindah! Beuh, yayasannya kebakaran jenggot! Enak aja ngeluarin anak, duit, tuh!

Tapi, yah, memang sudah bisa diprediksi, menjelang kenaikan kelas, mendadak ortunya Thor jauuuuh lebih komunikatif. Mulai bisa dihubungi. Dan pertama kali yang diminta adalah:

Udah deh Pak kasih anak saya shadow teacher lagi buat UAS biar nilainya bagus.

*ETDah

Bener-bener pikirannya nilai dowang, ya?

“Soalnya anak saya juga sudah saya gebukin juga tetep aja nilainya jelek.’

Yaiyalaaaah. Emang ada anak di dunia ini yang nilainya bagus hanya gara-gara digebukin ortunya?

Yaaa, akhirnya sih, si Walikelas ngasih pilihan gitu. Mau tetep di reguler, anaknya gak naik kelas. Mo naik kelas, dia harus dikembalikan ke program. Mau naik kelas tapi gak mau ikutan program, okey, tapi silahkan mengundurkan diri dari sekolah ini. Kali ini harus ada surat perjanjiannya. Kalau gak mematuhi itu, wassalam, cari sekolah lain. Itupun kalo ada sekolah yang mau menerimanya.

Dan berhenti gebukin anaknya!

Ortunya menerima. Thor kembali ke program.

2 pemikiran pada “Thor Kembali ke Program

  1. Ralat: Pas kelas dua makanan udah nggak efektif lagi buat Thoriq. Malah kalo diingetin soal makanan, dia jadi gak konsen sampe pulang karena mikirin makanan mulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s