Bu Guru Kelas Tiga tersenyum-senyum simpul berjalan sambil menenteng sebelah sepatu ke dalam ruang guru. Alhadulillah, komentar guru-guru. Akhirnya ketemu juga. Dimana, Bu?

‘Di semak-semak di kebon depan pagar luar. Deket kebon terong.’

Lah, bisa sampai di situ, ya?

….

Dua minggu yang lalu, Ali, salah seorang anak kelas 3, tertinggal sepatunya di sekolah. Dan keesokan harinya dia datang dengan tanpa alas kaki sama sekali. Nyeker meeen! Itu sebagai hukuman dari ayahnya. Ini anak harus nyeker di sekolah sampai sepatunya kembali!

Bagaimana menurut anda hukuman seperti ini?

Saya mengerti maksud orangtua mungkin untuk memberi efek jera, tapi menurut saya ini hukuman tanpa mikir. Hanya ikutan kebawa marah saja.
Ya, kalo ternyata sepatunya si anak memang ada di sekolah, atau pasti ada di suatu tempat di sekolah yang langsung akan ketemu pada pagi hari esoknya sih gak apa-apa. Tapi gimana kalau sepatu itu benar-benar tidak ada atau berada di tempat yang tidak terpikirkan? Memangnya anak-anak kita itu bisa ngeh dengan cepat. Mana mereka ingeeeeeet itu tadi sepatu ditinggal di mana.

Kebayang kan dengan ngasih hukuman ‘HARUS NYEKER SAMPAI SEPATUNYA KETEMU’ itu mau sampai kapan? Satu hari saja sudah ribet.

Semakin siang maka hukuman anak itu bertambah bukan hanya harus menahan malu diliatin orang karena nyeker tapi juga ditambah terkurung di kelasnya dan gak bisa ikutan main. Lah, emangnya situ mau main lari-larian di lapangan sabil nyeker? Panas, bok!

Karena sepatunya si Ali belum ketemu hari ini, maka besok pun dia harus ke sekolah dengan nyeker!

Masalahnya, besok adalah jadwal olahraga. Runyam, kan?

Mo kita kasih sepatu, anaknya nangis bombay. Nanti dimarahin ayah, katanya. Ayah bilang gak boleh pakai alas kaki sampai sepatu ketemu.

Doh, bingung pisan kita.

Ngehukum anak kok sampai segininya!

Saya ingatkan, yah, konsep waktu anak-anak dengan orang dewasa itu berbeda. Lima menit bagi kita mungkin itu sama dengan 30 menit bagi anak-anak. Itulah kenapa kita harus bicara dengan lugas kepada mereka. Gak usah panjang lebar baik itu nasihatin maupun ngomelin. Jangankan sama anak kecil, coba saja kalo kita lagi diomelin atasan, berapa menit kita bisa dengerin sampai kita akan tersesat dalam lamunan nan indah.

Makanya jangan ngomel lama-lama. Makin lama, semakin gak efektif. Malah omelan kita yang pertama, yang tadi masih di dengarkan itu juga mereka lupakan.

Sama dengan menghukum. Jangan lama-lama. Memangnya apa sih fungsinya hukuman itu? Untuk memberi pelajaran. Bukan untuk membuat kita puas.

Hari pertama, Ali masih nurut. Mencari-cari sepatunya yang tak kunjung ketemu.

Hari kedua, masih nurut. Tapi jadi uring-uringan di sekolah.

Hari ketiga, dia pakai sepatu! Uhuy! Sepatunya sudah ketemu, Ali?

‘Belum.’

Owh, sudah boleh pakai sepatu?

‘Enggak. Ini sepatuku yang lain. Kakakku yang ngumpetin di tasnya. Pas ayah sudah pergi, dikasihin ke aku.’

Owh..

Nah, gimana ini, ya?

Hukuman memang maksudnya untuk bahan pelajaran. Tapi kalau kita gak pikir panjang dulu, jatuhnya sama dengan kita ngajarin mereka untuk ngelawan atau melanggar aturan.

Noh, kan? Emangnya gampang ngehukum itu?

Hari keempat, baik Ali maupun Hasan (kakaknya) tidak bersepatu. Nah, loh!
Ikut hilang juga sepatunya?

‘Ini gara-gara si Ali lupa, Bu. Aku udah kasih tau, kalau mau pulang, sepatunya dilepas. Kasihin lagi ke aku. Tapi dia lupa. Sampai di rumah masih pakai sepatu. Ketahuan ayah. Jadi aku kena hukum juga. Gak boleh pake sepatu sampai sepatunya Ali yang hilang itu ketemu.’

Oh, may.. Galaknyo bapakmu, Nak.

Akhirnya, yah, teteup aja guru-guru yang repot juga nyariin itu sepatu!

Tiga lantai 18 ruang kelas, check.

6 kamar kecil, check.

4 lab, perpust, ruang terapi, klinik, dan ruang guru, check.

Lapangan dan masjid, check.

Gedung TK, check.

Kebuuuuuuuuuuun..

Hari ini ketemu! Alhamdulillah…

About these ads