Mengerti I: Cerita Andrei

Saat makan siang, tau-tau Andrei, 11 tahun, kelas 4 SD, salah satu siswa berkebutuhan khusus Asperger Syndrom (salah satu spektrum dalam autistic)mendatangi.

Seperti biasa, ini anak akan langsung berteriak mencoba sekuat tenaga menjelaskan apa yang dia rasakan dan apa yang dia ingin komunikasikan. Tapi dia tidak dapat bicara dengan runtut seperti anak lain seusianya. Dia akan melontarkan beberapa patah kata yang pendek-pendek bikin kita yang diajak berkoumikasi berkerut bingung. Misalnya:

‘Ibu Alifia! Ditumpahin sayur! Itu si Kahlil. Nakal si Kahlil. Aku tampar dia! Tumpahin sayur ke celananya! Hukum aku, Bu!’

Hah? Siapa yang nakal.

‘KAHLIL!’

Kahlil nakal sama kamu?

‘AKU NAKAL SAMA KAHLIL NAKAL AKU!’

Kahlil nakal sama kamu? Terus kamu nakal juga ke Kahlil?

‘IYA! AKU DITUMPAHIN SAYUR CELANANYA KAHLIL!!!’

Nah, kan, kita mustilah sabar menghadapinya. Baru sekitar sepuluh menit kemudian saya mengerti. Kahlil gak sengaja numpahin sayur ke celananya Andrei. Tapi bukannya minta maaf, si Kahlil malah ketawa ngakak. Si Andrei sewot dan menampar Kahlil. Dan dia datang untuk (minta) dihukum karena dia menampar Kahlil.

*tarik nafas panjang*

Jadi, beberapa saat yang lalu, si Andrei datang lagi dengan terengah-engah. Dan marilah kita singkat saja masalah kata-kata yang gak runtut itu, karena terus terang, mmenuliskan lagi membuat saya jadi bingung sendiri juga, hehehe..

Intinya, 45 menit kemudian saya mulai mengerti ini anak mau bercerita apa. Mengenai seorang anak bernama Stephanie.

Si Andrei, punya seorang anak perempuan yang dia sayangi (bukan keluarga), namanya Stephanie. Satu mobil jemputan dengannya. Si Stephanie ini, anaknya emang suka bikin masalah. Tipe cewek yang demen mendominasi gitu. Bayangin sedangkan ini anak baru kelas 4 SD! Fiuuuuh!

Lalu kenapa justru si Andrei milih Stephanie sebagai seorang teman yang disayanginya?

Lah, itu mah haknya si Andrei, ya, hihi…

Emangnya kita bisa ngatur itu.

Suatu hari, Stephanie nyuruh Andrei untuk mencium (pipi) beberapa anak perempuan di mobil jemputan. Saat bicara dengan Andrei itu, saya belum tahu bagaimana tanggapan anak-anak perempuan yang kena cium Andrei. Hanya nampaknya ini membuat Andrei gelisah. Dia merasa gak enak dan merasa yang dilakukannya itu tidak benar. Tapi itu Stephanie yang nyuruh. Seorang kawan yang dia sayangi. Tapi itu tidak benar. Tapi kenapa Stephanie nyuruh itu ya? Kenapa? Lalu bagaimana?

Bayangin, bagaimana kisah kecil ini jadi konflik yang besar pada seorang penderita Asperger Syndrome yang susah mengerti jika bicara tentang perasaan.

Eniwey, coba nonton film animasi Max and Mary, Anda akan mendapatkan gambaran yang cukup detil mengenai penderita Asperger Syndrome ini.

Si Andrei gak bisa tidur!

Kebawa-bawa mimpi!

Bahkan sampai dia menolak tidur untuk beberapa saat.

Dia bingung setengah mati!

Ngamuk-ngamuk di rumah!

Lempar-lemparin barang!

Setreeeeeesss!!!

Akhirnya saya katakan kalau dia harus minta maaf kepada anak-anak yang dia cium itu.

Memang sudah berapa kali?

‘TIAP HARI IBUUUUU…’

*buset!

Andrei memberikan nama-nama anak perempuannya.

Saya panggil semuanya ke ruangan saya. Kemudian saya suruh Andrei menyampaikan permohonan maaf, dengan kata-kata yang sebelumnya sudah, dengan bekerja sangat keras, kami berdua susun bersama. Jadi Andrei tinggal membacakan saja. Biar gak bingung semuanya!

Anak-anak cewek, ada lima anak, hanya senyum-senyum saja lalu mengatakan bahwa mereka memaafkan. Tapi jangan diulang lagi, ya, Kakak Andrei.

Andrei pergi sambil berteriak ‘LEGHAAAA’ dengan membahana.

‘Gak apa-apa, kok.’ Kata anak-anak cewek itu. ‘Kakak Andrei gak salah. Kita ngerti kok, Bu. Itu si Stephanie-nya aja yang ngaco!’

‘Iya, tuh!’

Hihihi..

Anak-anak ini tentu saja tahu kalau Kakak Andrei itu anak yang spesial.

Yaa, selanjutnya tentu saya panggil Stephanie. Dan yang namanya usia SD tentu masih gampang. Dinasihati saja cukup.

Jangan seperti itu Stephanie, Kakak Andrei itu sayang sama kamu.

Saya ceritakan mengenai Andrei yang sampai-sampai gak mau tidur karena terus-terusan mimpi buruk karena masalah itu.

Masa sih kau tega bikin Kakak Andrei sampai kayak gitu, Nak?

Stephanie-nya nangis. Bukan karena dimarahin. Tapi meleleh air mata gituuuuu.

*hiks

Beberapa hari kemudian, Andrei berteriak lagi kepada saya.

‘IBU! AKU SUDAH BERTEMAN LAGI DENGAN STEPHANIE! DIA MINTA MAAF! DIA GAK MAU JADI ORANG JAHAT LAGI!’

One thought on “Mengerti I: Cerita Andrei

  1. saya ingin punya hati seluas anak kecil yang mudah menerima. punya pikiran sepositif anak kecil yang mudah memaafkan dan melupakan kesalahan. dan percaya kalau semua orang baik.

    ada juga tentang sindrom asperger di buku dengan sampul shocking pink, kalau ga salah judulnya “pencurian anjing di tengah malam yang menghebohkan”. sudut pandang orang pertama, si anak penderita asperger. tapi entah kenapa membuat air mata menderas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s