Hilang dan Susah Dapet Lagi I: Orang Bilang Ayah Teroris karya Paridah Abas

Kalo kata beberapa sobat, saya ini kayak orang yang pasrah kalo menyangkut kehilangan sesuatu. Hilang duit, entah sudah beberapa kali. Bahkan pernah sampai satu bulan gaji hilang semuanya sampe amplop-amplopnya juga, hehe.. Gak usah heran, saya emang bekerja di tempat yang masih jadul gitulah. Hilang HP, juga, selow ajalah. Tapi kalau udah hilang buku, beuh..

Hati-hati kalau pinjem buku sama saya dan menghilangkannya, ya. Saya, sebagai orang yang penyendiri dan susah berteman, tentu saja akan memaafkan. Lah, daripada hilang temen gara-gara dia gak enak sama saya, ya, kan? Ya, kaaaan!

Nyari temen udah susah-susah kok ditinggal!

Hihi, soalnya pernah kejadian, tuh. Seorang teman yang sangat-sangat baik tau-tau ‘menghilang’ dari hidup saya. Lalu beberapa tahun kemudian, dia gak sengaja menemukan blog saya yang walaupun pake nama lain, tapi dia nampaknya ‘ngeh’ kalo yang nulis itu, ya, saya.

Bayangin, betapa hepinya saya saat itu.

Dan sedih pas tahu bahwa alasan dia ngilang adalah karena dia gak enak sudah, dengan tanpa keinginan dia tentu saja, telah menghilangkan beberapa buku koleksi saya. Itu pun sebenarnya bukan dia yang menghilangkan.

Si kawan yang memang baik hati dan peduli sesama ini (Eh, Abang, gua baik kan nulis lo baik-baik gini. Traktir pokoknya!) ceritanya iseng bikin perpustakaan gratis. Nah, dia minta bantuanlah teman-teman yang punya koleksi buku untuk meminjamkan ke perpustakaan tersebut. Yaaa, akhirnya pada ilangan, hehe..

Jadi, karena saya MOARAH BESAR, takutlah dia.

Yaaa, tapi walopun memaafkan, bukan berarti saya gak akan sering-sering membahas itu.

‘bla..bla..bla…’ lagi ngomongin sesuatu. ‘Jadi inget kata Paridah Abas di Orang Bilang Ayah Teroris. Ah, elo sih ngilangin buku gue. Buku keren, tuh!’

Hihihi..

Lebih ngeselin lagi, kalau saya kehilangan buku yang sussssah dicari lagi! Tentu saja ini dimaksudkan buku-buku belum terbit lagi di negara kita yang tercinta ini, tsaaaah..

Ini adalah beberapa buku yang masup kategori tersebut diatas. Yah, walopun, saya harap, ini tidak akan selamanya susah dicari alias, penerbit mau menerbitkan lagi.

1. Orang Bilang Ayah Teroris karya Paridah Abas.

Ini adalah kisah tentang buku Orang Bilang Ayah Teroris dari tulisan saya sendiri di blog yang udah ditinggal lama. Gak sengaja ketemu lagi, euy! Etapi udah lupa password-nya.

Kisah dimulai pada Ramadhan, ketika suami yang ditunggu janji untuk pulang, malah terdengar kabar ditangkap polisi. Paridah sedang di Indonesia saat itu, tertinggalkan di sebuah rumah kontrakan lusuh dengan selembar kasur dan tikar, serta peralatan rumah tangga yang jauh dari layak. Hamil dengan anak-anak yang masih kecil.

Suaminya meletakkannya beserta anak-anak di tempat itu lalu pergi. Dengan janji, akan pulang saat lebaran nanti. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang.

Kisah bergulir silih berganti, antara masa kini dengan masa lalu yang saling lompat. Seakan kita sedang duduk dihadapannya yang bercerita, dengan tenang, dan baik hati, mengenai masa-masa yang mungkin adalah merupakan salah satu saat tergelap di hidupnya. Dari bingungnya menghadapi pertanyaan anak-anak tentang sang ayah yang tak kunjung datang, kemudian memori bagaimana dua orang yang pikirannya utara selatan ini bisa saling berdampingan.

Tulisannya mengisyaratkan bahwa dia adalah perempuan yang cerdas sekali, kritis, dan mandiri. Orang yang hanya bisa ditaklukan dengan ilmu. Kemudian suatu hari, dia mengutarakan keinginan kepada ayahnya bahwa dia ingin pergi ke Indonesia. Ingin menimba ilmu agama di pesantren. Ayahnya bilang, tidak usah ke Indonesia. Sang ayah akan mencarikan seorang ustadz untuknya.

Paridah tentu senang. Dia menyangka bahwa ayahnya akan mendatangkan seorang ustadz sebagai gurunya. Tapi yang terjadi adalah, sang ayah mencarikan ustadz orang Indonesia untuk dinikahkan kepadanya.

Paridah menolak mati-matian.

Tapi kemudian, dia mengalah. Menurutnya, karena jelas tidak ada alasan syar’i yang dapat dipergunakannya untuk menolak pernikahan tersebut.

Saya baru sadar betapa menyesakkannya keadaan yang saat itu menjepitnya. Paridah adalah seorang warganegara Malaysia, tertinggalkan di negara asing baginya. Suaminya ditangkap dengan tuduhan yang begitu berat. Anak-anak serta keadaannya yang sedang hamil. Lalu tangan hukum pun sampai pula kepadanya saat dia harus dijerat UU imigrasi yang memojokannya.

Semua passport dan surat-suratnya dibawa sang suami, dan entahlah dimana itu semua.

Namun, dalam keadaan paling menjepit pun, figure seorang ibu, seorang pendidik yang baik tetap mempertahankan bijaksananya.

Kepada anak-anak, tidak ada suatu kebencian yang coba dia kobarkan kepada pihak yang lain. Dia tidak mengutuk, mengeluh, atau berurai ratap. Dia hidupkan pikiran dengan menahan diri, atau dialog yang terbuka.

Yep, ini adalah buku yang berdasarkan catatan pribadi dari Paridah Abas, isteri dari terhukum mati kasus bom Bali I, Ali Ghufron.

Saya tidak terlalu mempermasalahkan siapa suaminya dan apakah saya setuju atau tidak setuju dengan apa yang dilakukan Ali Ghufron. Tapi di sini saya sangat mengagumi figur Paridah Abas saat harus bertahan menghadapi konflik yang sangat berat tersebut. Bayangkan saja, tertinggalkan bersama tujuh (atau delapan?) anak dan dia sendiri pun dalam keadaan hamil di suatu negara yang dia tidak kenal, sementara suaminya di tahan polisi sebagai teroris. Bagaimana rasanya?

Jangan Anda kira dia tahu apa saja kegiatan suaminya saat keluar dari rumah, karena seperti dia sendiri bilang, sebagai seorang istri dia berhak menanyakan suaminya mau berbuat apa. Tapi jika tidak diberi jawaban, isteri tidak boleh menuntut harus diberi jawaban.

Ada satu adegan saat anak-anaknya yang masih kecil melihat foto ayah mereka di surat kabar sedang berdiri dengan tangan diborgol bersama polisi. Saya kira, kita semua bisa membayangkan sesulit apa seorang Paridah Abas harus dapat dan dituntut menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anak-anaknya. Lalu bagaimana saat dia pun harus bolak balik ke kantor polisi untuk upaya penyelidikan. Paridah ini sangat kooperatif, lowh! Jika dipanggil polisi, dia selalu datang. Walaupun demi itu dia harus meninggalkan anak-anaknya di suatu kota kecil di jawa sana dan menyusuri jalanan sampai Jakarta dengan anak laki-lakinya yang masih kanak-kanak.

Hal paling besar yang saya pelajari di buku ini adalah bahwa dalam keadaan sesulit apapun, kita sebagai seorang ibu, atau sebagai orang tua, harus mampu mendampingi anak-anak kita melewati krisis, dengan tanpa mengutuk dan mencaci pihak lain. Di sepanjang buku ini, tidak satu kali pun Paridah Abas sewot atau mengatakan hal-hal yang buruk mengenai polisi, atau pers. Salah satu dialog, seingat saya tentu saja:

Anak: Ayah di mana Umi? Masih sama polisi?

Paridah: Iya (Kepada anak-anak yang masih sangat kecil, Paridah bilang ayah mereka sedang bersama polisi karena ada satu urusan yang sangat penting)

Anak: Kapan ayah pulang?

Paridah: Nanti kalau kita ke Jakarta, kita tanya sama Pak Da’i Bachtiar (KA Polri saat itu). Pak Da’i Bachtiar itu kepala polisi Indonesia. Dia orang baik.

Lalu, apa alasannya Ibu Paridah Abas menerbitkan ‘curahan hati’ tersebut.
Ini dari petikan wawancara kepadanya beberapa saat yang lalu. Saya ambil dari sini.

Saya perlu terangkan bahwa pada asalnya buku tersebut bukan untuk diterbitkan. Saya sama Ustadz (Ustadz Ali Ghufron alias Mukhlas) biasa saling berkomunikasi sebagaimana pasangan lain, dan alhamdulillah, ustadz adalah seorang pendengar yang setia. Jadi, sewaktu saya di Klaten dan beliau sudah ditahan, tidak ada teman khan disana, otomatis saya menumpahkannya di atas tulisan. Nah buku itu kemudian saya serahkan ke Ustadz, dan Ustadz teryata memandang maslahatnya baik jika buku itu di kongsi (share) untuk muslimah yang lain. Jadi sepenuhnya kemudian saya serahkan ke Ustadz, hingga kemudian jadilah buku itu. Saya secara pribadi malu, soalnya gini, teryata setelah orang membaca orang kemudian memandang tinggi, padahal saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari segala kesalahan.

Eniwey, buku saya ini hilang di tangan seorang rekan kerja. Entah, gimanalah ceritanya soalnya dia gak inget. Pokoknya, dia pinjem ke saya, kemudian saat saya tanya, buku itu tidak ada karena dia lupa meletakkannya di mana.

Jiaaaaaaah…

Ya, kalau ada di toko buku kan sudah digantikan oleh yang menghilangkan atau saya beli sendiri, ya..

Hiks..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s