Dihukum Juga

Saya sedang menjelaskan bagaimana aturan-aturan pada kerja kelompok di kelas 5 pelajaran PKN, dan anak-anak sudah ribut duluan sebelum selesai saya bicara.

Diam dulu, dong, tolong. Semuanya..

Gak ada yang gubris. Semuanya ngoceh.

Ibu hitung sampai tiga, ya. Kalau sampai hitungan tiga masih ada yang bicara ribut selain Ibu, maka kalian semua dapet PR tambahan 20 soal essay.

Satu…

Dua….

Mulai tenang. Sssttt… Ssstt…

Tiga…

Sekarang kelas hening.

…..

Nah, itu bisa tenang. Coba kenapa Ibu minta kalian diam?

‘Soalnya Ibu mau nerangin instruksi. Kalau berisik nanti ada yang gak denger. Nanti salah.’

Benar. Dan kalian tahu itu. Tapi kok tetep butuh ancaman, ya, buat kalian bisa tenang?

….

Kalian kan udah gede, Nak. Sudah kelas lima SD. Masa sih masih perlu ancaman segala Cuma bikin kalian melakukan sesuatu yang kalian sendiri tahu itu untuk kepentingan kalian?

…….

Dan saya kembali melanjutkan apa yang ingin saya katakan.

Dua jam pelajaran kemudian, anak-anak mulai pengumpulkan pekerjaan. Dan mereka tanya-tanya.

‘Bu, yang tadi itu berarti Cuma ancaman, dong?’

Iya.

‘Berarti, Ibu gak beneran ngasih PR 20 soal essay?’

Kalau kalian tadi tetep ribut, ya, ibu berikan.

‘Oooo…’

Ibu gak akan memberikan ancaman yang gak Ibu laksanakan, lowh.

‘Iya, siiih.’

‘Untung kita nurut, tadi, ya…’

Iya, untung kalian nurut. Seandainya enggak, waduh, bete banget Ibu musti dapet tambahan tugas ngoreksi PR 20 soal essay punya 28 anak, hehe…

‘Jadi, kalo Ibu ngasih hukuman, hukuman itu juga buat Ibu dong?’

Iya.

*sigh

One thought on “Dihukum Juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s