Si Anak Chitato

elicPada suatu hari, beberapa tahun yang lalu, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun datang kepada saya dengan menenteng satu bungkus Chitato ukuran sedang. Dia lempar aja gitu ke pangkuan saya seraya berkata:

‘Buat anak yatim.’

Melengos pergi.

Dasaaaar…

Yah, kita yang biasa kerja dengan orang-orang, khususnya anak-anak, paling cuma geleng-geleng kepala saja. Namanya manusia, setiapnya pasti unik, kan? Ada yang kalau memberi dengan syahdu gituuuuu (eh, gimana tuh syahdu, ya?), ada pula yang gitu ajalaaaah… Makanya saya suka sebel kalo ada orang, khususnya yang disebut ustadz, yang bilang:

‘Lebih baik gak usah ngasih dibanding kalo ngasih dengan muka jutek.’

Eh, Pak Ustadz. Emangnya kenape kalo muka orang jutek?

Pernah gak ketemu orang yang mukanya emang aja susah banget keliatan ramah tapi sebenernya orang itu baik banget? Trus yaa, mau diapain lagi? Emang orangnya gituuu..

Kalo Ustadz atau ustadzah atau model-model Mario Tegar gitu yang kerjaannya ngoceh, mah, emang pastinya orang-model-ramah, ye.. Kalo gak, pasti dari awal mereka gak akan laku dan tenar dong, ya..

Nah, kembali ke si anak-sebungkus-chitato, ini ceritanya emang kita mau mengunjungi panti asuhan. Segalanya udah disiapin. Artinya, kita udah ngitung berapa anak yang tinggal di panti itu plus pengurusnya, serta nyiapin bingkisan buat setiap orang. Plus tentunya pemberian yang besarnya, ya, beberapa barang yang bisa membantu mereka untuk ke selanjutnya.

Tau-tau ini anak ngasih sebungkus Chitato.

Lah, kita pan bingung…

Masa sih kita tempelin itu Chitato ke salah satu laptop pake selotip atau gimana ya gitu?

Bikin doorprize dengan hadiah sebungkus chitato!

Bingung kaaaan…

Akhir hari, saya serahkan kembali itu Chitato kepada si anak seraya bilang:

Nak, Ibu bingung gimana ngasihnya. Soalnya kan semua kita sudah bungkusin. Ini kamu makan aja, ya…

Daaan, detik itu juga saya tahu kalau itu adalah kesalahan besar.

Si anak dengan mata yang sedih memasukan sebungkus Chitato itu ke dalam tasnya. Beberapa jam kemudian saya mendapat kabar via sms dari ibunya yang bercerita bahwa si anak sampai di rumahnya nangis sampai lama.

Tambah merasa bersalah jadinya..

Jadi apa yang saya sudah ajarkan kepada si anak hari itu?

Bahwa kalau ngasih ke orang itu mikir dulu?

Apa sih susahnya ngasih sebungkus Chitato ke orang lain. Itu kan hal yang mudaaaaaaah banget. Iya, kan? Kenapa enggak saya kasih aja ke salah satu anak di panti asuhan. Saya bawa aja itu Chitato kasih ke pengemis di pinggir jalan saat saya mau pulang. Atau kasih aja ke satpam sekolah, OB sekolah dan lain-lain. Emang ada yang gak doyan dan gak mau dikasih Chitato?

Tapi justru saya malah memilih untuk mematahkan hati seorang anak kecil yang bahkan saya gak tahu bagaimana cerita si Chitato sampai ke tangannya itu.

Sekecil apapun pemberianmu itu berguna, walaupun hanya senyum. Ngomong mah gampaaaang..

Kemarin, saya diingatkan kembali mengenai kisah Chitato ini saat membaca Extremely Loud and Incredibly Close karya Jonathan Safran Foer.

Okeh, untuk yang belum baca, atau belum nonton filmnya, ini berkisah tentang seorang anak bernama Oskar yang berusia 9 tahun yang menemukan sebuah kunci di dalam vas di rumahnya. Itu vas berada di dalam leari yahanya ayahnya yang merupakan salah satu korban tewas peristiwa WTC, dan ini anak bertekad untuk mengungkap apa arti kunci tersebut. Bisa jadi sesuatu yang besar, bisa jadi bukan apa-apa.

Jadi, si Oskar yang merupakan penderita Asperger Syndrome ini punya hobi mengoleksi banyak hal, dan juga berkirim surat kepada orang-orang terkenal. Salah satunya adalah kepada Stephen Hawking yang berkali-kali dia mengirim, berkali-kali juga Stephen Hawking membalasnya dengan kata-kata yang sama persis:

Terimakasih ataas suratmu. Karena banyaknya surat yang kuterima, aku tidak bisa membalas secara pribadi. Meskipun begitu, ketahuilah bahwa aku telah membaca dan menyimpan setiap surat dengan harapan suatu hari nanti aku akan bisa meberikan balasan yang layak. Hingga hari itu tiba.

Salam

Stephen Hawking.

Nah, ini si Oskar gak jera-jeranya kirim surat terus dengan balasan yang sama persis. Sapai pada suatu kali, Sang Ilmuwan akhirnya memberikan balasan yang betul-betul balasan. Tentu saja Stephen Hawking pun, ceritanya, memberi balasan hanya karena si Oskar gak henti-hentinya nulis surat kepada dirinya.

Okeh, itu penggambaran tentang si Oskar ini.

Ada salah satu kisah, si Oskar mendapatkan surat:

Yang terhormat Oskar Schell

Terimakasih atas kontribusi Anda untuk American Diabetes Foundation. Setiap dolar—atau, dalamm kasus Anda, lima puluh sen—berarti bagi kami.

Saya menyertakan beberapa literature tambahan mengenai yayasan ini, yang mencakup pernyataan misi kami, sebuah brosur yang mmenammpilkan berbagai kegiatan dan keberhasilan kami di masa lalu, dan begitu pula beberapa informasi mengenai tujuan-tujuan kai di masa datang, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Terimakasih, sekali lagi, karena telah berkontribusi untuk masalah mendesak ini, Anda menyelamatkan nyawa orang lain.

Dengan hormat, Patricia Roxbury

Ketua Cabang New York

….

Dan sayapun kembali mengingat wajak kecewa si-anak-Chitato

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s