Hilang dan Susah Dapet Lagi II: Jerusalem: One City Three Faith karya Karen Armstrong

$(KGrHqQOKkQE3uc,s0ELBN8o9OmHhQ~~_35Karya Karen Armstrong adalah perwakilan atas semua hal yang saya cintai pada dunia literature: sejarah, filsafat, dan agama. Jadi setiap bukunya selalu menarik saya.

Dari sembreng buku beliau, yang diterbitkan di Indonesia, sebagian besar oleh Mizan, sebenernya hanya segelintir saja. Mungkin yang paling tekenal adalah A History of God yang terasa masih sangat fresh jika dibandingkan dengan The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam atau karya-karya sesudahnya. Dari The Spiral Staircase, saya mengetahui bahwa The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity sebenarnya semacam pembaruan dari karyanya yang sebelumnya yaitu Jerusalem: One City, Three Faiths yang Karen dapatkan ide menulis tentang itu saat kantong belanjaannya ambrol di depan supermarket tempat dia belanja, hehe..

Jadi, ceritanya ini Karen baru pulang dari Jerusalem, tempat dia tinggal di sana selama beberapa waktu saat beliau bekerja sebagai penulis skenario untuk seri TV dokumenter The First Christian: Saint Paul’s Impact on Christianity, yang mengisahkan mengenai masa awal Kristen. Dan dia menyadari bahwa Jerusalem tidak semenyeramkan apa yang diungkapkan di TV yang terus saja menggambarkan bahwa itu kota penuh konflik dan pertumpahan darah. Justru di tempat itulah, Karen Armstrong malah berkenalan dengan dua agama lain yang berdampingan dengan Kristen yaitu Yahudi dan Islam.

Sebagai peneliti sejarah agama, bukan lagi pemeluk agama (saat itu dia sudah menyatakan keluar dari agama Kristen), Karen merasa prihatin dan bingung kenapa umat dari tiga agama ini, yang sama-sama meyakini bahwa Jerusalem adalah kota yang penting, terus saja saling memerangi satu sama lain. Mereka semua merusak kota Jerusalem, menghancurkannya, dan memeperkan darah di sana. Karen Armstrong menyadari bahwa kebingungannya ini adalah perwakilan dari perasaan banyak orang lain. Maka dia sampai ke satu tekad bahwa dia ingin membuat suatu penelitian, dan buku, tentang Jerusalem, yang bukan tentang konflik, tapi tentang bagaimana perasaan masing-masing dari tiga agama tersebut memandang, menghormati, dan menyayangi kota tersebut.

Saya tahu kalau buku ini tidak ada dalam daftar Mizan, maka saya gak pernah menyangka akan menemukan buku ini pada suatu hari. Sama dengan tidak pernah menyangka akan segera kehilangannya pula, hiks.. Buku tersebut teronggok begitu saja di suatu tumpukan buku bekas di kwitang. Tepat beginilah kenapa saya cintaaaa kwitang yang sebagiannya sekarang sudah pindah ke basement salah satu mall di Blok M itu. Kita bisa aja menemukan ‘harta karun’ diantara ambrukan buku yang gak jelas kecampur-campur antara buku bekas, buku yang udah lama gak laku-laku, buku yang rusak dari percetakannya, atau, yang paling banyak, buku bajakan.

Ngeselinnya, ini buku hardcover. Saya gak suka buku hardcover karena berat dan gak bisa dibawa tidur. Saya itu sudah berapa kali ketimpuk buku yang sudah mana dipeganginnya juga berat, eh pas ketiduran, itu buku jatuhlah kena muka. Sakit kan kalo bukunya hardcover.

Tapi, yah, namanya juga gak ada pilihan lain.

Maka suatu hari, saat saya sedang masih asik-asiknya baca, itu buku Jerusalem ketinggalan, lah di dalam bis. Pada suatu perjalanan saya dari Jakarta menuju Sumedang. Baru ngeh saat sata tiba di kamar kost tercinta di Jatinangor.

*keluuuuuuh..

Sampai saat ini, saya tidak bisa menemukan buku itu lagi di toko-toko buku maupun pameran buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s