Lord Help My Poor Soul

Edgar Allan Poe dan Virginia

Edgar Allan Poe dan Virginia

Science has not yet taught us if madness is or is not the sublimity of the intelligence

Edgar Allan Poe

Kalimat yang saya tuliskan sebagai judul diatas adalah kata-kata terakhir dari salah satu sastrawan besar Amerika Serikat, Edgar Allan Poe. Belum pernah baca karyanya Edgar Allan Poe? Di toko buku ada, tuh, kumpulan kisah Edgar Allan Poe terbitan Gramedia. Tiga belas cerita dengan harga tidak sampai Rp. 50.000,- Saya hapal soalnya baru-baru ini baru saja membelinya kembali dan membacanya ulang. Yup, ini tadinya masup ke ke kategori ‘hilang dan susah dapet lagi’ etapi ternyata saya sudah mendapatkannya kembali.

Mungkin musti ada kategori ‘hilang dan tadinya susah dapet lagi eh ternyata sudah dapat lagi’, hehe..

Ini bukan mau ngomongin Kisah-Kisah Tengah Malam. Kalau ngomongin kumcer itu bisa dari sependek ‘bikin merinding’ sampai tiga halaman folio diketik satu spasi yang mungkin enggak cukup juga. Ini mau ngoceh-ngoceh tentang The Raven dan Hitchcock.

Saya sudah pengen ngoceh-ngoceh mengenai The Raven setelah membaca sebuah resensi film mengenai kisah ini. Mengenai masalah apa yang dia nilai mengenai film tersebut tidak begitu penting, lah, ya.. Karena kan dari berbagai blog, berbagai macam review, kita lama kelamaan toh akan hapal juga bagaimana selera dari yang bikin review. Dan itu kan tidak akan meleset dari itu. Saya agak mulai gatel saat si penulis review terus membandingkan dengan Sherlock Holmes. Bukan, bukan membandingkan dengan Sherlock Holmes di dalam kisah yang ditulis oleh Arthur Conan Doyle-nya malahan, tapi membandingkan dengan Sherlock-nya Guy Ritchie.

Tentu saja itu dua hal yang berbeda.

Bagi saya, justru, The Raven, sebagaimana Hitchcock dinarasikan, feel-nya pas dengan kisah-kisah mereka berdua. The Raven dengan ‘bikin merinding’nya itu dan Hitchcock yang melenakan kita dengan drama-drama yang membuat kita di satu sisi terbuai dengan percakapan dan kehidupan yang seakan tidak penting tapi sekaligus mencekam. Sebuah kegelisahan atas sesuatu yang rasanya tidak benar, tidak pada tempatnya. Sesuatu yang sungguh-sungguh salah. Dan tentu saja sebagaimanapun kita tahu bahwa selalu ada faktor kejutan, tapi terkadang kejutan itu terlalu mengejutkan seperti si tokoh utamanya mati pada 30 menit pertama.

Tentu, itu sebelum banyak formulanya ditiru dan menjadi biasa pada jaman kita.

The Raven

John Cusack sebagai Edgar Allan Poe

John Cusack sebagai Edgar Allan Poe

Edgar: What’s going on?
Detective Fields: I’m Detective Fields. Please, sit down, Mr. Poe.
Edgar : Yes. The infamous Detective Fields. Am I under arrest?
Detective Fields: No… not just yet.
Edgar: Then I’d rather stand! It makes it easier to leave!

Film The Raven mengisahkan hari-hari terakhir dari Edgar Allan Poe, namun perlu diingat bahwa film The Raven ini sendiri bukanlah sebuah biografi, tapi lebih merupakan sebuah interpretasi dari sebuah puisi karya beliau. Saya kira hampir sama dengan Shakespeare in Love atau The Earl of Oxford. Walaupun memang di film ini juga mengisahkan beberapa misteri yang membayangi pada seputar kematian Poe.

Kita biasa mendengar, dan terenyuh, dengan kisah kehidupan Edgar yang nampaknya tidak pernah jauh dari kata sengsara. Ada kisah kecil bahwa pada akhir-akhir masa hidup dari Virginia, istrinya, Edgar yang luarbiasa miskin ini bahkan tidak memiliki apapun untuk mengusir dan meredakan gigilan kedinginan sang istri. Dan yang dapat dia lakukan hanyalah meletakkan seekor kucing di kaki istrinya dan berharap kehangatan badan si kucing bisa mengurangi rasa nyeri sang istri.

Loh, kenapa pake kucing? Kenapa enggak dipeluk aja, ya?

Kehidupan Edgar dan Virginia pun menarik karena bukan hanya mereka saudara sepupu, tinggal dan tumbuh bersama sejak kecil (Virginia menikah dengan Edgar saat berusia 14 tahun), kabarnya yang berdasarkan catatan-catatan hariannya, Virginia meninggal dunia karena TBC pada usia 24 tahun dalam keadaan masih perawan. Edgar pernah menyatakan bahwa dirinya tidak tertarik dengan sex. Tapi bagaimanapun, Edgar dan Virginia adalah pasangan suami istri yang sangat saling menyayangi satu sama lain.

Suatu kali, Edgar pernah menulis tentang almarhum istrinya:

Each time I felt all the agonies of her death—and at each accession of the disorder I loved her more dearly and clung to her life with more desperate pertinacity. But I am constitutionally sensitive—nervous in a very unusual degree. I became insane, with long intervals of horrible sanity.

Kisah (film) The Raven dimulai saat terjadi serial murder di Maryland. Dengan cepat perhatian polisi jatuh kepada seorang penyair miskin yang bernama Edgar Allan Poe. Detective Emmet Fields tahu bahwa pembunuhan-pembunuhan ini pastilah ada hubungannya dengan Poe, sebab walaupun postur tubuh dan keadaan Poe yang cukup memprihatinkan itu tidak memungkinkannya melakukan eksekusi-eksekusi secara kejam tersebut, namun hanya pikirannya lah yang mampu untuk merancang hal-hal yang semengerikan tersebut. Ya, yaa.. seperti seri TV Castle, ya.. Seorang penulis membantu polisi mengurai kasus yang mengambil cara-cara dari kisah yang ditulisnya.

Film The Raven ini tidak begitu sukses di pasaran yang, mungkin, karena akhirnya jadi serba nanggung. Bagi penggemar Poe, jadinya seakan terbagi antara ‘oh plis kenapa Poe jadi begini?’ dan ‘ini kisah keren sekali’ menerjemahkan puisi The Raven menjadi suatu kisah yang cukup cerdas dengan jalan yang sangat remang, khasnya Poe: realistik, mengerikan, cukup sadis—saya hakkul yakin kalo yang bikin SAW itu agak kerasukan Edgar Allan Poe—dan memilukan pada akhirnya.

Nah, Anda bayangin aja saat penulis sejamannya bikin kisah-kisah lucu berpesan moral macam Mark Twain ini orang malah bikin semacam SAW di jaman kita. Gimana gak miskin, tuh.

Tapi bagi orang-orang yang tidak familiar dengan karya Poe, ini seakan menjadi film horor-thriler yang sungguh tidak keren karena tidak happy ending! Maka tentu saja seperti kita semua tahu, film yang tidak happy ending (atau tidak memperlihatkan kekerenan Amerika, hehe..), tidak akan laku di pasar Amerika.

Bicara tentang tidak happy ending, akhir hidup Poe pun sama dengan kisah-kisah yang ditulisnya yaitu membuat kening berkerut.

Edgar Allan Poe ditemukan di jalanan dengan mengenakan pakaian orang lain pada tanggal 3 Oktober 1849. Dia kemudian dibawa ke Washington College Hospital dan meninggal di sana pada Minggu pagi tanggal 7 Oktober 1849. Poe katanya berulang-ulang menyebut nama “Reynolds” pada malam sebelum kematiannya, nama yang sampai sekarang belum diketahui merujuk kepada siapa.

Dan kemudian, tepat sebelum kematiannya, dia menggumamkan kalimat ‘Lord help my poor soul’

Hitchcock

I never 7616354-hitchcock2012dvd_tn_zps706ed396said all actors are cattle; what I said was all actors should be treated like cattle.
Alfred Hitchcock

Sumpah, nulis nama itu orang teteup aja akhirnya musti nyari contekan! Maka dari itu, ditulis dengan Alfred ajalah.

Diangkat dari Alfred Hitchcock and the Making of Psycho karya Stephen Robello, kisah dimulai dengan keseharian Alfred setelah filmnya yang berjudul North by Northwest rilis pada tahun 1959. Filmnya sukses, seperti biasa, namun Alfred mulai terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan pers yang seakan meminta dirinya untuk segera pensiun. Tentu saja dia ingin melawannya dengan membuat film yang lebih dahsyat lagi dari yang sebelumnya.

Hitchcock menginginkan sebuah cerita yang menegangkan namun jauh berbeda dengan film-film yang telah ia arahkan sebelumnya. Kebingungan Hitchcock akhirnya berakhir setelah ia membaca novel berjudul Psycho karya Robert Bloch yang jalan ceritanya terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang pria yang membunuh beberapa wanita untuk kemudian menguliti serta memutilasi tubuh para korbannya. Hitchcock memutuskan bahwa ia akan mengadaptasi Psycho sebagai film layar lebar berikutnya.

Konflik dimulai dengan ketidak setujuan pihak Paramount pada ide cerita yang menurut mereka terlalu sadis dan porno. Bayangkan, masa ada adegan cewek lagi mandi! (Heh? Maksud lo?) Walaupun Alfred menyatakan bahwa yang diperlihatkan hanya badan bagian atas leher dan kepala si cewek ditutupin pake topi mandi, teteup aja bagi Paramount itu terlalu berlebihan bahwa seorang perempuan ditikam berkali-kali dengan pisau di kamar mandi saat dia sedang mandi. Belum ada yang pernah memperlihatkan kamar mandi di dalam film sebelumnya.

Doh, saya senang sekali membahas adegan perdebatan ini, hehe..

Alfred dan Alma

Alfred dan Alma

Tapi, Alfred sudah berketetapan hati. Dia pun bilang kepada istrinya bahwa dia tetap ingin membuat film tersebut, walaupun dengan modal duitnya pribadi, pun tidak jelas apakah nantinya akan menjadi film yang sukses atau mungkin juga dilarang beredar sama sekali. Antara ‘oh okey duit kita nambah’ atau ‘yah kita bangkrut deh’.

Alfred segera dapat persetujuan dan dukungan dari sang istri. Rumah mereka pun digadaikan ke bank sebagai jaminan pinjaman modal. Hubungan yang manis antara Alfred dengan Alma istrinya ini yang mewarnai sepanjang kisah biografi Hitchcock. Saya suka banget dengan kata-katanya Elma kepada Alfred:

‘Dukungan penuh? Kita menggadaikan rumah kita! Aku harus mengingatkanmu bahwa aku mendampingimu pada setiap aspek dalam setiap filmmu ini seperti aku selalu mendampingi setiap detil pada setiap filmmu selama 30 tahun. Penonton pertama setiap filmmu adalah aku dan komentarku lah yang kau inginkan. Aku merayakan bersamamu saat filmmu berhasil aku menangis bersamamu saat filmmu gagal. Aku menyiapkan pestamu dan bersabar dengan fantasi romantismu bersama setiap aktris blonde-mu. Dan setiap kali kau berkeliling dunia mempromosikan setiap filmmu aku berada di sampingmu dan siap untuk tersenyum bersamamu di setiap saat walaupun pada saat-saat ketika aku sudah hampir ambruk, walaupun aku tahu bahwa semua orang tidak pernah melihatku karena yang mereka lihat hanyalah seorang manusia yang jenius bernama Alfred Hichcock.’

‘Dan untuk pertama kalinya dalam 30 tahun aku mengerjakan sesuatu yang bukan produksi Alfred Hichcock dan aku langsung dituduh (selingkuh)? Aku mengingatkanmu bahwa aku istrimu, bukan aktris blonde yang kamu pekerjakan!’

Eniwey, film ini mebuat terkesima bukan hanya kisahnya yang cukup menarik (untuk ortang yang suka biografi tentu saja) tapi juga karena akting dari Antony Hokins sebagai Alfred dan Helen Miller sebagai Alma yang sungguh keren. Beneran, gaya bicaranya miriiiiip banget!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s