Menunggu Ayah

indexCerita Adam

Beberapa saat setelah jam belajar usai, seorang anak laki-laki kelas satu SD, mari kita sebut saja namanya Adam, bersikeras menolak ikut mobil jemputan sekolah. Dia bilang, ayahnya akan datang untuk menjemputnya. Nanti. Mungkin beberapa saat lagi. Kedua tangannya mendekap kaleng bekas biskuit yang berisi berbagai macam permen.

Seharian ini si Adam berkeliling memberitahu siapapun yang bertemu dengannya:

‘Tadi ayahku datang. Dia kasih aku permen…’

Sebenarnya yang diberikan sang ayah kepadanya adalah selembar uang seratus ribuan. Tapi, yah, apalah artinya selembar uang bagi anak sekecil itu. Maka ketika sang ayah memberikan uang, sang walikelas memintakan sesuatu yang lain. Dan kebetulan di mobil sang ayah ada kaleng kecil bekas biskuit yang berisi aneka jenis permen. Dan kaleng itu yang didekap-dekap Adam sejak tadi.

Kalau duitnya mah ya, sabodo teing, dah!

‘Tapi, ayahnya gak bilang apa-apa. Saya malah gak tahu kalau ayahnya ada di sini. Memangnya ayahnya tadi bilang mau jemput Adam, Bu?’ tanya Sang Ibu yang dihubungi walikelas.

Laaaah? Mana kita tauuu..

Ayah dan Ibunya Adam memang sudah cerai beberapa saat yang lalu.

Sampai sore, sampai sang ibu tiba di sekolah, sang ayah tidak kunjung datang lagi. Adam tidak menangis, dia hanya menunggu dengan pandangan mengharap selama beberapa jam.

Satu tahun enam bulan sejak Adam bersekolah di sini dan itulah pertama kalinya kami bertemu dengan ayahnya Adam.

Cerita Yusuf dan Harun.

Selepas Ashar, seperti biasanya, guru-guru akan sibuk mengawasi anak-anak yang pulang. Ada yang sendiri-sendiri mengendarai sepeda atau naik angkot, ada yang dijemput oleh orangtua atau supir masing-masing, ada juga yang naik jemputan sekolah. Dua kakak beradik, Harun dan Yusuf malah melipir ke salah satu pojok.

‘Loh, Yusuf kok malah duduk di situ?’ Walikelasnya.

‘Gak apa-apa, Bu,’ seru Yusuf. ‘Kemarin ayah sudah janji mau jemput ke sekolah. Hari ini kan Harun ulang tahun. Katanya ayah mau ngajak kita makan di KFC.’

‘Soalnya tahun kemaren kan ayah gak dateng, Bu. Tapi kata ayah, tahun ini pasti dateng. Pasti, Bu.’

Orangtua mereka sudah bercerai beberapa tahun yang lalu.

‘Iya, deh…’

Dua jam kemudian, beberapa saat sebelum maghrib, Rambo yang datang menjemput memberi tahu bahwa dia melihat masih ada dua anak di pojokan kebun sana. Maka saya pun datang menghampiri. Itu Yusuf dan Harun.

Kok, belum pulang?

Mereka menggeleng pelan-pelan. Harun sudah meleleh air mata.

‘Ayahnya belum datang..’

Nak, kamu hafal nomer ayah kamu gak?

Menggeleng lagi.

Kebetulan saya menyimpan nomor ibu mereka. Maka saya hubungi ibunya yang panik karena dua anaknya itu ternyata masih juga di sekolah. Saya minta nomor ayah mereka ke sang ibu.

Daaaan, tau tidak? Sang ayah ternyata lupa kalau dia punya janji sama dua anaknya tersebut. Dan dia tidak dapat datang sekarang. Sedang ada meeting yang sangat sangat sangat penting.

Tapi, karena kebetulan si Rambo mendadak kepengen banget makan di KFC, jadilah Yusuf dan Harun ikutan kami aja, hehe..

Cerita Ilham

Ilham adalah salah satu siswa berkebutuhan khusus kami. Dia penyandang autis. Dan tidak seperti biasanya, hari itu sampai jam 5 sore dia belum juga pulang. Sang Shadow Teacher sudah bolak-balik mmencoba mmenghubungi ibunya.

Masalahnya, ibunya sudah bilang bahwa hari ini dia tidak dapat menjeput Ilham. Neneknyaa Ilham sedang sakit parah di RS dan dia tidak dapat peninggalkannya. Jadi dia minta tolong pada mantan suaminya, ayahnya Ilham, untuk menjemputkan Ilham dari sekolah dan mengantarkannya ke RS.
Sampai jam 5 sore belum datang juga.

Setengah enam sang ayah datang. Ilham langsung terlonjak dan berlari sambil berteriak, ‘AYAAAAAAAH…’

Sang ayah segera menghardik.

‘Astaga, kamu ini udah gede masih begitu aja. Masuk dalam mobil!’

Sang ayah segera mendatangi Shadow Teacher.

‘Maaf, Bu. Ini adik tirinya si Ilham ada pertunjukan balet tadi. Jadi saya gak enak ninggalin istri dan mertua saya di mall.’

‘Oh, okey, ayah Ilham. Tadi si Ilham resah. Yah, namanya juga Ilham kan spesial, jadi kalau ada yang berbeda dengan kebiasaannya, dia merasa sangat khawatir. Sempet nangis-nangis sendiri tadi. Dia khawatir ayah kecelakaan.’

‘Iya, saya juga bingung. Udah tau lagi repot ibunya, kenapa sih Ilham pake tetep sekolah. Toh sekolah atau gak sekolah kan sama aja. Dia gak bakal bisa apa-apa.’

Shadow Teachernya bingung mau jawab gimana.

…..

‘Tadi Ilham nangis karena dia khawatir ayah kecelakaan di jalan.’

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s