Membuka Pintu

Pada suatu kali, salah seorang kawan berkisah mengenai bos-nya yang ingin menambah fasilitas bagi pengguna berkebutuhan khusus di perpustakaannya. Dan pendapat dia, persis seperti kata-kata saya kepada bos, beberapa tahun yang lalu, saat sekolah memutuskan untuk menjadi sekolah inklusi:

Haduh, buat yang normal aja fasilitas kita jauuuuh banget ketinggalan. Penuhin aja deh dulu yang itu. Bukan apa-apa, kasihan nanti kalau kita bikin pengumuman, ternyata belum siap gimana? Mending ke tempat lain aja yang lebih mampu memenuhi kebutuhan mereka.

Well, ini bukan mo menceritakan apa-apa yang sedang dialami oleh kawan saya itu. Saya kan tidak tahu persis bagaimana situasi di tempat kerjanya.

Sekolah tetap bersikukuh menjadi inklusi, yang sebenarnya, salah satu kebimbangan saya pada saat itu adalah, saya menyangka kalau tidak akan banyak anak berkebutuhan khusus di sekitar sekolah tempat saya bekerja.
Memangnya berapa banyak sih anak autis, asperger, ADHD, dan ADD di sekitar tempat ini?

Well, saat itu yang saya tahu, yang disebut berkebutuhan khusus hanya sebatas itu-itu saja.

Ternyata…..

Tahun pertama, kami menerima empat anak berkebutuhan khusus. Tiga tahun kemudian, sekarang, di setiap kelas ada anak berkebutuhan khusus minimal satu. Ada satu kelas yang terdapat 6 anak berkebutuhan khusus.

Seakan mereka datang entah dari mana saja. Dan semuanya adalah anak-anak yang tinggal di lingkungan sekolah ini. Bayangkan itu! Sedangkan selain sekolah kami ini, yang masih tergolong sekolah ‘dwarf’ (udah bukan Hobbit lagi, hehe..), ada dua sekolah lain yang jauh lebih besar dari kami yang juga tercatat sebagai sekolah inklusi.

Yah, walaupun dua sekolah tersebut sistem inklusi-nya berbeda dengan sekolah tempat saya bekerja.

Sekolah tempat saya bekerja ini memakai sistem partial inclusion, artinya, anak berkebutuhan khusus ditempatkan di kelas reguler, walaupun mereka memiliki program khusus tersendiri juga yang terkadang dipisahkan dari anak-anak reguler. Sementara dua sekolah sekitar kami menggunakan sistem kelas yang terpisah yang artinya anak-anak berkebutuhan khusus ditempatkan di kelas khusus yang terpisah dari kelas reguler.

Oh, ya.. Setahu saya, ada lima bentuk pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, yaitu:

1. Homeschooling

2. Sekolah khusus untuk anak berkebutuhan khusus

3. Kelas anak berkebutuhan khusus di sekolah umum

4. Partial inclusion (seperti sekolah tempat saya mengajar)

5. Full inclusion (anak berkebutuhan khusus tidak dibedakan sama sekali oleh anak reguler. Tidak ada program khusus. Disamakan.)

Kembali pada kisah yang tadi, kami semua bingung ini anak-anak berkebutuhan khusus kok mendadak banyak bener, ya? Kok, kami selama ini tidak tahu.

Saya tahuuuuu, banyak sekali anak atau orang berkebutuhan khusus di dunia ini, tapi saya tidak pernah tahu bahwa itu ada di sekitar saya sendiri. Saya kira itu hanya sesuatu yang ada di film ataupun buku saja. Di berita di koran. Di acara-acara talk show.

Tidak di sekitar saya…

Tidak ada anak berkebutuhan khusus di sekitar saya…

Ternyata ada.. banyak. Di sekitar saya.

Kalau di sekitar Anda?

Jadi, saya tersenyum sedih saat kawan saya mengatakan:

Emang berapa banyak sih mahasiswa penyandang cacat di (universitas tempat) gua (bekerja)? Buat apa (bikin) fasilitas untuk orang-orang yang gak ada.

….

Mereka bukan gak ada. Mereka ada, dan mereka mencari tempat yang cukup ramah untuk mereka. Dan yang kita bisa lakukan adalah membuka pintu untuk mereka. Membuka kesempatan buat mereka. Mau tidak kita melakukan itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s