Tanah

Ini sebenernya sih agak curhat, tapi mungkin bisa jadi pelajaran buat yang baca.

Jadi Ayahku, sebagaimana orang Betawi, percaya kalau hal yang paling berharga untuk investasi masa depan adalah tanah. Karena itu, beliau, sejak muda dahulu, setiap kali punya rejeki lebih, pasti yang dibeli tanah.

Kasarnya gini, bagi Ayahku, berani nambah anak itu artinya harus berani nambah tanah. Jadi itungan kasarnya sih, satu anak modal ke depannya satu bidang tanah. Itu minimal. Dan pesan Ayah saya sebelum meninggal, kalau tanah-tanah tersebut gak boleh diganggu gugat buat apapun kecuali buat keberlangsungan pendidikan anak-anaknya.

Setelah beliau meninggal dunia, pesan tersebut kami erat. Tidak ada satupun tanah beliau yang kami jual, sampai saat ini. Hanya digunakan untuk beberapa bidang usaha saja.

Eniwey, tahun ini, untuk pertama kalinya kami berpikir untuk menjual satu bidang tanah. Seperti pesan Ayah dulu, untuk keberlanjutan pendidikan anak-anaknya.

Dan ini sebetulnya bukan cerita jual tanah juga, sih. Ini cerita tentang bagaimana orang itu bisa serakah, jika kita memberi kesempatan kepada mereka.

Jadi tanah yang akan kami jual ini, kita sebut saja berada di daerah B, di ibukota negara. Tanah yang paling tidak kami perhatikan.

Yah, gak mungkin juga merhatiin semuanya, kan?

Nah, tanah ini, seakan-akan tertinggalkan begitu saja berbelas-belas tahun.

Bahkan, konon, Ayah saja sewaktu masih hidup hanya menengoknya setahun sekali. Sambil lalu. Selepas Ayah meninggal, siapa pula yang punya waktu melongok.

Lalu suatu kali, kami lewat tempat tersebut dan terheran-heran karena ada beberapa rumah tidak permanen berdiri di sana. Saat kami tanya, mereka mengatakan bahwa mereka pengungsi kebakaran dari suatu daerah. Gak punya tempat tinggal. Gak mungkin pulang kampung, kan?

Itu untuk sementara saja, kok.

Karena kasihan, kami biarkan saja. Tidak apa-apa.

Beberapa tahun kemudian, rumah tidak permanen itu menjadi rumah-rumah semi permanen. Saat kami datang, tahu-tahu kami di demo mereka. Ada yang bawa-bawa golok segala! Duh sampai gak berani turun dari mobil! Kami minta bantuan pemerintah daerah (lurah) di sana. Kata masyarakat yang demo itu, mereka menolak disuruh pindah karena selama ini kan bayar sewa.

Mengenai bayar sewa ke siapa, yaa, kami memutuskan tidak mau tahu.

Pokoknya rumah tersebut harus dibongkar semua.

Padahal, sih, kalo saja mereka gak tau-tau demo dan bawa-bawa golok gitu, kami mungkin gak akan setega itu. Lagian, ada-ada aja, orang baru datang, belon bilang apa-apa, udah diserbu gitu. Laaaah…

Tapi, kesalahan itu terulang lagi.

Suatu hari, datang suami istri ke rumah. Mereka mengaku orang yang memiliki tanah di sebelah tanah kami. Mereka ingin membuka usaha pemancingan. Tapi karena tanahnya ngepas, mereka minta izin mendirikan bedeng pekerja selama pebangunan di tanah kami.

Kami bilang, okey.. Toh itu tanah tidak dipergunakan untuk apapun.

Selepas pembuatan selesai, ternyata tetap ada satu bangunan tidak permanen berdiri di tanah kami. Sebuah warung. Pemilik warung, bukan pemilik usaha sebelah kami itu, minta izin. Kami izinkan. Kasihan pendatang soalnya.

Tinggalnya, ya, di warung itu juga.

Asal nanti jika tanah ingin dipakai atau dijual, dia harus mau pindah.

Bertahun-tahun kemudian, warung itu jadi tambah luas. Kami masih biarkan saja.

Beberapa bulan yang lalu, kami memutuskan untuk menjual tanah itu. Selain untuk melanjutkan sekolah, juga maksudnya ingin dijadikan modal membesarkan usaha di tempat yang lain.

Maka mulailah kami memasang plang tanda dijual.

Beberapa minggu kemudian, saat iseng melewati tanah tersebut, kami menemukan plang tanda dijual sudah dicabut orang. Kami dirikan lagi plang tersebut. Lalu diam-diam melihat dari jauh.

Ternyata plang tanda tersebut dicabut oleh pemilik warung di tanah kami. Mungkin dia tidak mau tanah tersebut pindah tangan karena itu artinya, warungnya dia musti dibongkar juga.

Beberapa minggu kemudian, ada orang menelpon rumah dan bertanya mengenai tanah. Dia agak ragu-ragu sebab menurut yang punya warung, sewaktu dia nanya-nanya tentang tanah, itu yang mau dijual adalah tanah sengketa.

Yah, emang siapa yang mau beli tanah sengketa?

Duh, tambah ribet, dah!

Sengketa darimane?

Akhirnya kami datangi si pemilik warung dan bilang kepadanya agar secepatnya memindahkan warung. Karena tanah itu akan kami pagari bulan depan.

Dan tahu apa kata pemilik warung?

Dia bilang, dia minta duit, karena kan selama ini dia yang ngurusin tanah kami. Dia yang menyapu dan membersihkan.

Lah?

Trus selama bertahun-tahun tinggal di tanah kami itu juga kan gak dimintain uang kontrak. Padahal itu buat usaha.

….

Jadi?

Iklan

Satu pemikiran pada “Tanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s