The Tokyo Zodiac Murders

indexSaya sangat menyadari reputasi saya sebagai orang gila. Saya mungkin berbeda dengan orang lain, tetapi itulah yang menjadikan saya seorang seniman. Seni bukanlah meniru hasil karya orang lain; seni sejati ada dalam perbedaan.

Pertama, saya paling tidak suka membaca buku detektif, atau crime, yang berjudul ‘pembunuhan’.  Kesannya jadi cetek banget ajalah, gitu, hehe.. Saya suka kisah dengan genre tersebut tapi tidak memakai nama yang ada hubungannya dengan pembunuhan, seperti Name of The Rose, misalnya. Bagi saya, itu salah satu judul kisah terhebat di dunia.

Tapi, yah, itu kan cuma judul, ya, kan?

Kedua, saya paling tidak suka membaca buku yang pada halaman awalnya sudah terperinci daftar nama tokoh beserta keterangan. Haduh, kebanyang banget ruwetnya baca buku yang seperti ini. Terlalu banyak tokoh! Apalagi jika ditambah pula dengan denah-denah rumah serta tempat kejadian perkara.

Tambah berat jika si tokoh-tokoh bererot itu memiliki nama-nama yang ngejelimet dan susah diingat.

Moaleeees..

The Tokyo Zodiac Murders ini memiliki dua hal yang sangat saya benci tersebut. Namanya seabrek-abrek, nama Jepang pula yang tentu bagi saya sangat tidak familiar dan susah diingat. Jadi, wajar, dong, jika awalnya saya menutup dan melemparkan buku ini kembali ke dalam rak.

Lalu kemudian saya mengambil dan membacanya kembali, dan saya tidak dapat meletakkan sampai ke halaman akhir.

Orang tidak pernah memikirkan kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi. Kebanyakan orang menjalani kehidupan yang begitu membosankan, sehingga mereka berusaha membenarkan diri sendiri dengan menempatkan semua orang lain dalam kategori-kategori kecil yang rapih.

The Tokyo Zodiac Murders terdiri dari satu prolog, lima babak, dengan intermezo di hampir setiap akhir babaknya. Cukup menyenangkan juga. Seakan-akan kita jadi diajak berdiskusi oleh si penulis kisah.

Kisah dibuka dengan perkenalan tokoh–jadi seperti drama di TV saja– kemudian prolog. Seorang seniman bernama Heikichi Umezawa menuliskan catatan pribadi yang berisi ‘kegilaan’ dirinya sendiri yang terobsesi untuk menciptakan Azoth, semacam figur perempuan yang sempurna. Heikichi percaya bahwa setiap zodiac, memiliki bagian tubuh yang sempurna-nya sendiri. Dan jika setiap bagian tubuh yang sempurna ini di potong, maka potongannya jika disatukan akan menjadi sosok Azoth yang diidamkannya. Secara kebetulan, Heikichi memiliki enam orang ‘anak perempuan’, yang setiapnya mewakili zodiac yang dia butuhkan.

Saya membayangkan rencananya Heikichi ini sungguh rumit. Bukan hanya sekedar membunuh dan memutilasi anak-anaknya sendiri–saya akan menuliskan anak-anaknya walaupun tidak semua adalah anak kandung. Dan ada juga yang sebetulnya keponakan perempuannya yang tinggal bersamanya–tapi cara pembunuhannya itupun haruslah secara urut, dan harus dieksekusi dengan elemen yang sesuai dengan zodiac mereka masing-masing. Ditambah lagi, sisa tubuh mereka pun harus diletakkan pada kedalaman-kedalaman tertentu dalam tanah yang berisi elemen yang sesuai dengan zodiac mereka masing-masing.

Ribeeeet, kaaan..

Benar-benar menggambarkan kegilaan seorang seniman.

Pada bab selanjutnya, dikisahkan bahwa Heikichi mati dibunuh secara brutal. Dia dipukuli hingga tewas. Mayatnya ditemukan di ruang kerjanya. Orang yang kita (saya) sudah siap membaca kisahnya sebagai pembunuh, ternyata malah mati yang paling pertama.

*gabruk!

Polisi dan masyarakat gempar dengan penemuan catatan mengerikan mengenai Azoth tersebut, dan semua orang merasa bersyukur. Untung saja Heikichi sudah keburu mati duluan sebelum dia berhasil menjalankan rencana sintingnya tersebut.

Untung saja…

Benarkah telah selesai?

Tentu saja tidak. Karena pada saat yang tenang seperti inilah pembunuhan yang kedua seharusnya muncul. Itu kalau kata Josephina Leonides, si anak kecil pembunuh di Crooked House karya Agatha Christie.

Korban kali ini adalah Kazue Kanemoto, anak tiri Heikichi dari pernikahannya yang kedua. Dia dibunuh secara brutal pula. Lebih dari ayah tirinya, Kazue tidak hanya dipukul hingga tewas, tapi dia juga diperkosa. Dan sama seperti sebelumnya, kasus ini pun berakhir dengan jalan buntu. Beberapa hari kemudian, seluruh anak-anaknya Heikichi, mereka yang secara terperinci sudah direncanakan untuk dibunuh dan dimutilasi ini menghilang. Mayat mereka kemudian ditemukan tepat sesuai dengan urutan dengan keadaan yang persis sama seperti catatan mengerikannya si Heikichi.

Masako Umezawa, istri Heikichi, satu-satunya anggota keluarga Umezawa yang tersisa kemudian ditangkap polisi. Masako mengakui bahwa dialah pelaku seluruh pembantaian anggota keluarganya sendiri, walaupun kebingungan bagaimana caranya dia melakukan. Namun, beberapa saat kemudian, Masako menganulir pernyataannya. Dia berusaha mendapatkan peninjauan kembali kasusnya di Mahkamah Agung, namun terus ditolak dan diundur. Sampai akhirnya dia meninggal dunia dalam penjara.

Dan selama berpuluh tahun, kasus ini tidak terungkap.

Empat puluh tahun kemudian, Kiyoshi Mitara, seorang astrolog dan detektif amatiran sekaligus penggemar kisah misteri, bersama sahabatnya, Kazumi Ishioka, duduk bersama dan mencoba menguraikan kasus yang sempat menghebohkan Jepang tersebut. Pada awalnya, ini seakan hanyalah dua orang bersahabat yang sama-sama suka kisah kriminal sedang mendiskusikan kasus jaman dahulu. Tapi semakin lama, segalanya menjadi semakin serius sampai pada suatu titik dimana mereka berdua tidak punya pilihan selain bergerak secepat mereka bisa dan dipacu waktu untuk segera mengungkap apa yang terjadi.

Kalau yang dibutuhkan hanyalah berjalan ke sana ke mari, maka menjadi detektif adalah pekerjaan yang paling tepat untuk putera seorang penjual sepatu.

Dalam cover belakang buku ini seakan the dinamic duo kisah ini disandingkan dengan Sherlock Holmes dan dr. John Watson, yang saya sangat tidak setuju jika memang itu benar. Kazumi menganggap Kiyoshi seperti Sherlock Holmes semata-mata karena dia sangat suka dengan tokohnya Sir Arthur Conan Doyle tersebut.

Beuh, saya sangat menikmati segala cercaan Kiyoshi kepada Sherlock, hehe..

Tapi menurut saya, mereka berdua malah jauh lebih mirip dengan suami istri Tommy dan Tuppance Beresford detektif-nya Agatha Christie. Karena walaupun dinarasikan oleh satu orang, dengan berbagai macam selipan naskah di dalamnya, namun jalannya kisah lebih berupa dialog dua orang yang ‘sederajat’, yang masing-masingnya punya pendapat sendiri. Mereka berdua saling menghormati dan mendengarkan pendapat yang lain, namun mereka berdua punya cara masing-masing dalam penyelidikan perkara. Jadi bukan satu orang aktif dan yang satunya lagi nurut aja ngikutin lalu memuja-muja rekannya.

Eniwey, cara mereka membicarakan detektif-detektif dalam kisah, lalu menertawakannya itu, ya, si Tuppance dan Tommy Beresford bangeeet!

Saya sangat-sangat menikmati kisah ini. Rasanya, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, seakan kita diajak untuk terlibat langsung. Bukan, saya bukan merujuk pada tantangan yang diberikan oleh Soji Shimada (Bagaimanapun kisah ini cukup mudah tertebak jika Anda suka kisah detective Kindaichi), tapi dalam hampir setiap adegan. Mungkin karena ini adalah kisah dua orang detektif, yang menurut mereka berdua, cuman amatiran dowang, sehingga seakan tidak ada ruang buat keraguan kita sebagai pembaca. Karena setiap kali salah satu diantara mereka memmberikan teori, dan kita yang baca diam-diam membantah dan berpikir teori yang lain, maka tokoh yang satu akan membantahnya tepat seperti apa yang kita pikirkan, sebuah pendapat yang dapat di debat kembali.

Menjengkelkan sekaligus menyenangkan sekali!

Karena awalnya dibuka dengan begitu banyak tokoh, saya menyangka bahwa ini kisah yang sangat riuh. Tapi saya salah. Ini adalah kisah dimana rasa pedih kesepian menusuk begitu dalam. Sebuah permainan emosi yang luarbiasa.

Bagaimanapun, kesepian dan kesendirian itu dua hal yang berbeda, bukan?

3 thoughts on “The Tokyo Zodiac Murders

  1. Ping-balik: Birokrat, Politisi, Pribumi, Aktris, Turis, dan Pencuri Hape | Teacher's Notebook

  2. Ping-balik: Six Suspects | Buku, Film, dan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s