Kafka on the Shore

Bagian komentar spoiler, ya….

When I open them, most of the books have the smell of an earlier time leaking out between the pages – a special door of the knowledge and emotions that for ages have been calmly resting between the covers. Breathing it in, I glance through a few pages before returning each book to its shelf

Buku ini bicara sedikit tentang mimpi, sedikit tentang tumbuh dewasa, sedikit tentang filsafat, sedikit tentang musik, sedikit tentang sejarah. Ini buku tentang cinta yang terlalu dalam, atau mungkin terlalu banyak imajinasi, mungkin ini sebuah dongeng, tentang pemujaan yang berlebihan, sebuah mitos, kehancuran hati, sebuah kisah penyimpangan seksual. Pendeknya ini kisah surellis tentang tragedi, identitas, dan takdir. Bingung? Well, begitulah buku ini, hehe..

Kafka Tamura

Mari kita mulai dengan seorang anak lelaki bernama Kafka Tamura yang berjanji pada dirinya sendiri:

Pada ulang tahunku yang kelima belas aku akan lari dari rumah, melakukan perjalanan ke sebuah kota yang sangat jauh, lalu tinggal di sebuah sudut perpustakaan kecil.

Hay, bukankah itu menarik? Kenapa ada seorang anak lelaki yang memutuskan untuk kabur dari rumahnya hanya demi hidup di suatu pojok perpustakaan di sebuah kota yang jauh dari tempat tinggalnya? Apakah dia tidak bahagia?

Pertanyaan yang bodoh.

Jika seseorang bahagia, buat apa dia ingin melarikan diri?

Apakah Anda, suatu saat dalam hidup memiliki keinginan untuk melarikan diri?
Saya pribadi yakin bahwa suatu saat, setiap dari kita, pasti ingin melarikan diri dari sesuatu, atau seseorang. Kebanyakan dari rumahnya sendiri. Dari keluarganya sendiri. Suatu saat. Dalam beberapa waktu. Maka saat membaca ini pertama kali, saya hanya menganggap bahwa ini adalah angan-angan seorang bocah lelaki yang tidak tahu apapun tentang hidup. Bahkan lulus SMP-pun belum.

Tapi Kafka sangat serius dengan rencananya. Dia mempersiapkan dirinya sendiri, mengumpulkan apa-apa yang mungkin akan dibutuhkannya sedikit demi sedikit, dan pada hari ulangtahunnya kelima belas, dia benar-benar pergi dari rumahnya. Kafka tidak pernah menjelaskan kepada siapapun tentang alasan mengapa dia kabur dari rumah selain bahwa dia yakin, semakin lama dia tinggal di rumah, dia akan semakin rusak. Ayahnya akan menghancurkannya. Seperti ayahnya telah menghancurkan segala sesuatu yang lainnya.

Ibunda Kafka kabur meninggalkan dirinya, dan ayahnya, pada saat usia Kafka empat tahun. Dia juga memiliki seorang kakak perempuan angkat, yang entah apa alasannya, justru sang kakak itulah yang diambil ibunya saat pergi meninggalkan suaminya.

Setiap hari, setiap tahun Kafka semakin yakin bahwa alasan kenapa ibunya memilih kakaknya yang anak angkat dibanding dirinya sendiri untuk dibawa pergi adalah karena Kafka anak ayahnya. Anak dari sebuah kehancuran.

Maka Kafka harus melarikan diri dari ayahnya. Bersama seorang anak lelaki yang disebut Crow.

Dalam petualangannya itu, Kafka menemukan sebuah tempat yang tenang. Sebuah perpustakaan pribadi yang sepi, tepat seperti impiannya. Dia mendapatkan pekerjaan di perpustakaan tersebut, dan menjalin persahabatan yang tak dapat dijelaskan alasannya dengan beberapa orang yang ditemuinya:

1. Sakura, perempuan muda yang ditemuinya di jalan dan kemudian menjadi semacam objek fantasi seksualnya.

2. Oshima, seorang librarian berusia 20 tahunan, penderita hemofili, yang gendernya gak jelas (Saya memiliki vagina tapi tidak pernah mengalami menstruasi. Saya tidak memiliki payudara. Saya memilih untuk berpakaian dan berdandan seperti lelaki. Saya memilih untuk jatuh cinta hanya kepada lelaki, tetapi saya memilih hanya untuk melakukan anal. Nah, bingung kaaan) yang kemudian bertindak seperti abang sekaligus kakak perempuannya.

3. Dan Nona Saeki, perempuan 50 tahunan yang cantik dan menawan. Sang pemimpin perpustakaan, bos sekaligus kekasihnya.

Sampai suatu ketika polisi mencari Kafka atas sebuah kasus pembunuhan.

Satoru Tanaka

Satoru Tanaka adalah seorang lelaki tua yang buta huruf dan memiliki kecerdasan yang berada di bawah rata-rata, tetapi, dan karena kecerdasannya yang sedikit itulah, dia hidup cukup bahagia dengan kebersahajaannya. Hal yang orang lain mungkin tidak pernah tahu bahwa Satoru memiliki keluarbiasaan yang mungkin hanya dialah satu-satunya orang di dunia yang memilikinya: kemampuan untuk berkomunikasi dengan kucing dan batu.

Pada suatu hari, Satoru mebunuh seorang lelaki misterius, demi seekor kucing. Kejadian ini memaksanya untuk kabur dari rumahnya, dari setiap jalanan yang dia tahu, untuk mencari batu pintu. Satoru bertemu dengan Hoshino, seorang supir truk yang terheran-heran dengan hujan lintah dan ikan sarden, yang kemudian membawanya ke perpustakaan tempat Kafka bekerja.

Ilustrasi Kafka on the Shore

Ilustrasi Kafka on the Shore (Kafka, Satoru, dan Nona Saeki)


That’s how stories happen — with a turning point, an unexpected twist. There’s only one kind of happiness, but misfortune comes in all shapes and sizes. It’s like Tolstoy said. Happiness is an allegory, unhappiness a story

Okeh, itu bener-bener versi yang mudah dimengertinya yang saya bikin. Sebab ini kisah yang membingungkan. Seperti labirin. Terkadang mudah dan terang, terkadang kita musti garuk-garuk kepala dan membolak-balik halaman. Dari awal sampai akhir, kita akan dihampiri oleh ketidak yakinan akan banyak hal sampai kemudian akhirnya yang tidak dituntaskan.

Apakah ini kisah tentang mimpi? Sebuah realitas yang lebih tajam dari mimpi seperti yang dialami oleh Kafka dan Nona Saeki, sekaligus usaha untuk bangun dari mimpi seperti yang dialami Satoru? Kemudian Hoshino yang baru sadar bahwa dirinya tanpa mimpi?

Buku ini tidak sepenuhnya absurd dan sulit dipahami. Seperti yang sebelumnya saya tuliskan, terkadang adegannya terang seperti pagi hari yang segar. Kita diajak untuk menambah pengetahuan dari berbagai macam literature maupun perbincangan para tokoh, khususnya, Oshima yang memiliki pengetahuan yang luas dan pikiran yang tajam. Dari mitologi ke musik, dari psikologi hingga sejarah dan sastra.

Ebuset, ini orang gak ngapa-ngapain kali, ye, selain baca buku-buku tebel dowang sehari-hari!

Tapi, yah, begitulah seni untuk membaca sebuah buku. Terkadang kita menuntut untuk tahu akhir kisahnya, dan mengharap akhir yang bahagia. Tapi terkadang, membaca itu persoalan menikmati jalinan kata dan kalimat yang membuat ujung dan maknanya tidak lagi perlu kita risaukan.

Author(s) Haruki Murakami
Original title 海辺のカフカ
Umibe no Kafuka
Translator Philip Gabriel
Country Japan
Language Japanese
Genre(s) Novel
Publisher Kodansha
Publication date 2002
Published in English January 2005
Media type Print (Hardcover)
Pages 656
ISBN 1-84343-110-6

4 thoughts on “Kafka on the Shore

  1. Waaa akhirnya loe baca juga bukunya murah kami😉.. ralat nona saeki itu usianya 40 tahunan, bukan 50 thn. dia jadi ibunya kafka itu mungkin. tapi kalo sakura…kayaknya enggak. aku yakin oshima kakak perempuan kafka.
    oshima mirip seseorang yang aku kenal. pustakawan cewek anti pake rok kalo udah ngomongin buku&sejarah gak bisa brenti sampe ditimpukin kalo nyetir mobil maunya ngebut *ngikik*

    • 1. Gua berasumsi kalo Nona Saeki itu 50 tahunan karena pas Kafka liat lukisan di pinggir pantai itu, dia bilang kalau itu 40 tahun yang lalu. Tapi mungkin juga, sih. Emangnya Kafka tahu apa tentang lukisan itu.

      2. Gimanapun, Kafka berpendapat kalau Sakura adalah kakaknya. Emang sih, gua sependapat sama dirimu, kalau Oshima secara usia lebih meyakinkan sebagai kakaknya Kafka. Lagian, Oshima kan kayaknya dari keluarga kaya raya. Dia pemilik hutan dan gunung (?) dari warisan kakeknya. Orangtua Nona Saeki kan udah meninggal. Tapi asumsi itu hancur pas ada cowok nungul yang bilang ke Kafka kalau dia kakaknya Oshima (Oshima adalah saudara…laki-laki, perempuan, terserahlah. Saya lebih memilih dia saudara lelakiku)

      3. Seperti kata Oshima, ‘Lo mau sehat kek atau menderita penyakit yang gak bisa sembuh, kalo udah tabrakan ya sama aja. Mati.’ Hehehe, ini masalah kesetaraan :p

  2. 1. nona saeki 40 tahunan karna kafka berpendapat itu, waktu mau tur pertama kali, kafka bilang, ‘pemimpin perpustakaan adalah seorang perempuan bertubuh langsing berusia empat puluh tahunan’

    2. ah kafka berpendapat kalo sakura itu kakak perempuannya kan cuma karna kepengaruh kata ayahnya ‘SUATU HARI NANTI KAU AKAN MENIDURI IBUMU DAN KAKAK PEREMPUANMU SERTA MEMBUNUH AYAHMU SENDIRI’ itu makanya dia gak pernah kepikiran kalau oshima itu kakak perempuannya, soalnya selama setengah cerita dia gak tau kalo oshima itu cewek. pas udah tau juga dia tetep menganggap oshima itu pria. kafka menolak ngeliat sim oshima yg disitu tercantum jelas kalau secara hukum oshima itu cewek. bagi dia oshima itu laki, walau gak punya penis. jadi dia gak pernah nungul di mimpi basahnya. dan karna gak ada pengalaman seksual apapun sama oshima jadi dia gak pernah memperhitungkan kalau oshima itu bener kakaknya.

    3. yatapi kalo ampe nabrak kan bukan mati sendiri tau

    4. kembali ke poin 2, dari awal oshima udah bilang kalau dia punya hubungan sama nona saeki. dia anak dari sahabat nona saeki. nah lo anggap anak sahabat lo itu anak lo sendiri gak? menurut aku sih anak sahabat itu orang terdekat yg bisa disebut ‘anak aku’

    5. kayaknya lo musti pasang spoiler deh. kalo ada yg baca komentar ini nanti jadi spoiler banget.

    4.

    • 1. Iyaaaaaa, Dildiiiil…. :))

      2. Gw pikir Kafka terlalu kemakan omongan ayahnya yang ‘kelainan jiwa’ itu. Kenyataannya, dari tiga hal yang di ‘ramal’ ayahnya, satu hal jelas2 salah dan dua lainnya hanya kemungkinan dengan prosentase yang berbeda.

      3. Okey *usap2 jidat Dila*

      4. Kalau situasi Nona Saeki, mungkin. Dia gak punya keluarga lain. Jadi masuk akal juga dia ambil Oshima jadi anak angkatnya, tapiiii…. di sisi Oshima-nya kan gak mungkin. Ibunya masih hidup dan dia punya kakak cowok. Ingat dia cerita dulu kakaknya suka ninggalin dia di rumah di tengah hutan yang tanpa listrik&air itu sendirian berhari-hari sampai akhirnya dia belajar survive? Nah, itu Nona saeki kemana kalo emang dia ada dibawah pengasuhannya.

      5. Udah :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s