Saya, Eni, Rambo, Kirsan dan Faras

Pada pertengahan semester kedua, saya pindah rumah….lagi. Eh, atau lebih tepatnya, saya kembali tidak memiliki rumah yang tetap.

Tentu saja ini diawali dengan tetangga saya yang tukang ribut itu. Beuh, makin lama semakin sering saja mereka bertengkar. Karena dinding rumah sewaan saya berada dekat sekali dengan kontrakan petak tiga mereka, maka, yaaa, semuanya kedengaran. Dan rasanya sih sumber percekcokan mereka sama saja. Uang. Si suami yang luarbiasa pelit itu menghitung pengeluaran istrinya secara detil. Bahkan uang limaratus rupiahpun bisa bikin si istri dibentak-bentak dan ditampar. Tapi di sisi lain, istrinya itu tukang ngibul suka sekali berkisah yang sombong-sombong yang semua orang tahu kalau itu tidak benar. Hanya saja kami, tetangganya, merasa kasihan sekali kepadanya.

Saya benar-benar tidak betah. Awalnya, kehidupan bertetangga di desa saya nikmati sungguh-sungguh, tapi lama-lama saya merasa seakan-akan ingin meledak saja. Saya kesal sekali dengan sifat sok ikut campur semua orang.

Tapi mungkin yang paling bikin saya sedih adalah sikap tetangga kepada sahabat saya Rambo. Di satu sisi, mereka menerima bahkan menggedor pintu Rambo kapanpun mereka butuh. Rambo hampir tidak pernah menolak. Tapi di sisi lain, mereka suka sekali membicarakan dan merendahkan sahabat lelaki saya yang sifatnya feminin itu.

Tapi saya malas pindah. Malas cari rumah sewaan baru tapi juga merasa belum siap untuk mengambil cicilan rumah. Belum siap batin untuk beneran akan tinggal di wilayah itu untuk seterusnya. Kemudian, sahabat saya Kirsan kena musibah.

Suami Kirsan meninggal dunia. Selama beberapa waktu selepas semua keramaian berakhir, saya tinggal di rumah Kirsan untuk menemaninya. Jadi, yang tadinya saya tinggal sendiri, sekarang bertiga. Saya, Kirsan, dan anak laki-lakinya yang masih balita yang kita sebut saja dengan nama Faras. Berempat dengan Eni yang juga sering datang dan menginap ikut dihitung. Berlima bersama Rambo yang memang tinggal di perumahan yang sama dan selalu hepi melipir pada senja untuk menonton acara kesukaannya. Selera nontonnya Rambo dengan Kirsan sama! Maka jadilah rumah ini hampir selalu meriah.

Rumah Kirsan dan Rambo terletak di dalam salah satu komplek perumahan mewah yang sepi. Jadi, tentu tidak ada tetangga yang sok mau tau dan ikut campur.

Mungkin…memang lebih baik begitu. Maksudnya, saya mengerti juga kenapa si Rambo yang sebenernya lebih suka hidup nenangga dengan masyarakat desa toh milih rumah di kompleks yang sangat  individualistis. Well, karena kita pun ingin hidup dengan diri kita sendiri tanpa dihakimi orang-orang yang, walaupun sebatas kemampuan, ingin kita bantu juga.

‘Bikin kita jadi gak ikhlas, AL,’ katanya. ‘Mending gak denger aja.’

Mantan kekasih Rambo akhir-akhir ini suka datang. Hubungannya dengan yang setelah Rambo ini baru saja kandas, dan tahu-tahulah dia nungul lalu nungul lagi. Ini bikin si Rambo agak uring-uringan juga.

Rambo memang memutuskan semua hubungannya dengan masa lalu yang sungguh-sungguh ingin ditinggalkannya. Setelah beberapa kali mampir dengan sedih-sedih curhat, yang konon susah sekali diminta pulang itu, akhirnya Rambo mulai minta bantuan kami, khususnya saya tentu saja. Hanya buat ikut nungul dan nimbrung ngobrol bareng. Saya agak bingung awalnya lah kan saya mah bukan orang yang pinter ngajak ngobrol, sih, ya..

Tapi kata Rambo:

‘Ih, dia kan guru juga. Pastilah banyak yang bisa dijadiin lo ngegerecokin dia. Tanya-tanya apa, kek. Sertifikasi gitu. Kurikulum baru. Apalah!’

Well, saya selama ini selalu menyangka kalau Rambo adalah sisi lebih feminin. Ternyata saya salah. Mantannya Rambo si Pak Guru ini yang lebih feminin! Dan dia sebel sekali dengan saya.

Apalagi kalau saya datang dengan Faras, beuh!

Soalnya Faras yang gak bisa diem bikin sibuk Rambo melulu! Dia akan melompat ke pangkuan sahabat laki-lakiku itu, lalu berceloteh ini itu, minta ini dan itu, yang dengan senang hati diladeninyao. Sementara si-mantan kepengennya Rambo cuma fokus ngobrol sama dia aja.

Kirsan kembali bekerja pada tahun ajaran ini. Bu Ketua Yayasan lebih dari senang menerima Kirsan lagi. Sementara itu, Eni tidak lagi bekerja di sekolah yang sama dengan saya. Dia sekarang guru BK (Bimbingan dan Konseling) di salah satu SMU Negeri yang terletak agak jauh juga dari tempat tinggal kami. Ditambah dia pun sibuk mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus di sekitar lingkungan sekolahnya. Jadi, kalaupun datang untuk menginap, biasanya sudah sangat-sangat malam. Saya dan Eni jadi seakan bergantian ‘nemenin’ Kirsan dan Faras. Pada hari-hari sekolah, saya yang hampir selalu ada. Sedangkan hari libur sekolah, kami berdua atau hanya Eni yang tinggal di sana. Saya pulang ke ibukota negara.

Jadi, begitulah sementara. Saya kembali tinggal dengan Kirsan yang selalu cerewet dan tukang marah-marah khususnya untuk urusan kebersihan dan kerapihan lingkungan yang sama sekali gak pernah penting buat saya dan Eni, yang seringnya menganggap seantero rumah adalah tempat bermain.

Pada sore, Rambo akan datang untuk memasak, dan kami makan malam bersama sambil saya garuk-garuk kepala ikut menonton sinetron kesukaan Kirsan dan Rambo. Dua hari seminggu, kami bertiga akan kembali ke sekre PKK untuk mengajar anak-anak desa serta dua hari dalam sebulan kami akan sibuk dengan posyandu dan posyandu lansia. Kadang, Eni mengajak kami semua ikut kegiatannya bersama anak berkebutuhan khusus. Rumah sering ramai saat kita merayakan hal-hal kecil, tapi selalu bisa jadi tempat yang hening pada saat-saat saya dan Rambo belajar.

Dan mungkin kita memang tidak membutuhkan banyak sekali teman, pada akhirnya untuk tinggal diantara kita. Hanya segelintir sahabat, yang benar-benar kita mengerti, kita sayangi, dan selalu bisa kita andalkan pada tiap guncangan yang kita hadapi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s