Tidak Berperikemanusiaan!

Tahun ajaran ini gak enak banget! Masuk pas udah puasa. Baru satu minggu belajar, sudah kegiatan Ramadhan. Lanjut ke libur tiga minggu. Buat guru kelas atas, ini bikin pusing minta ampun. Takut gak kekejar pelajarannya.

Baidwei, ada sesuatu yang, yah, sebetulnya tidak begitu menyenangkan. Menyebalkan malahan. Masalah bakti sosial… *keluuuh*

Jadi, tahun pertama saya menjadi guru, kami mengadakan bakti sosial dengan cara memberikaan santunan kepada anak yatim piatu. Ujungnya bencana! Bukan masalah bakti sosialnya, tapi karena diakhiri dengan kami disewotin masyarakat yang naik pitam. Bahkan sampai bentak-bentak segala.

‘KOK SAYA TIDAK DAPAT?’

‘DIA DAPET TIGA SAYA TIDAK SAMA SEKALI!’

Begitulah.. begitulah..

Kami coba jelaskan bahwa kami memang HANYA memberikan santunan kepada anak yatim dan yatim piatu. Jadi wajar kalau satu keluarga dapet jatah lebih dari satu. Lah, kalau di rumah itu ada tiga anak yatim, gimana?

Secara pribadi, saya gak peduli sama orang-orang yang ngakunya lebih miskin itu. Elo itu suami, elo itu ayah, tugas elo cari duit buat keluarga. Jangan sewot kalo keluarga lo miskin. Salahin diri lo sendiri kenapa gak becus nyari duit!

Kalo gak mau nyari duit, ya gak usah kawin! Gak usah punya keluarga!

Kenyataannya, kan, penduduk desa di sekitar kami ini, yang laki-laki, hanya berfikir bahwa kalau mereka menikah itu artinya ada yang nyuciin baju,  masak, dan melayani  mereka.

Dan saya sendiri gak punya rasa bersalah untuk tidak memberi pada orang-orang yang masih ada kepala keluarganya tapi ngakunya miskin itu. Sedangkan anak yatim, atau janda tua, itu kewajiban kita bantu mereka sampai mereka bisa bertanggung jawab menafkahi dirinya sendiri.

Jadi, tahun pertama saya bekerja sebagai guru, pertama kalinya ngurusin bakti sosial, ujungnya berantakan. Dan tentu saja saya banyak belajar dengan kejadian itu. Salah satu kesalahan terbesar kami adalah bahwa kami tidak melibatkan tokoh masyarakat setempat.

Walaupun jadinya agak beresiko karena jika tokoh masyarakatnya gak amanah, santunan bisa jadi jatuh ke tangan keluarganya saja. Bukan kepada yang berhak.

Nah, ruwet, kaaaan…

Ada beberapa opsi yang waktu itu kami bicarakan. Salah satunya, menyalurkan ke lembaga amal saja seperti Dompet Dhuafa Republika dan yang seperti itu. Tapi tentu saja, ada pertimbangan kita ingin anak-anak kita melihat. Memang sumbangan sebaiknya orang lain tidak tahu, tapi kami mengadakan acara ini kan sebagai contoh kepada anak-anak tentang bagaimana cara memberi bantuan kepada masyarakat.

Maka diputuskan saat itu, dan untuk beberapa tahun setelahnya, kami memberikan bantuan tidak lagi kepada masyarakat. Tapi langsung kepada lembaga yang membutuhkan. Dana yang terkumpul tidak lagi dipecah jadi bagian yang kecil-kecil, tapi dipecah dua bagian besar. Satu disalurkan ke panti asuhan terdekat, satu disalurkan ke sekolah miskin terdekat. Kepada sekolah miskin, bantuan tidak dalam bentuk uang, tapi barang yang berguna bagi kepentingan pendidikan selanjutnya. Misalnya, komputer, alat-alat lab, in focus, dst.

Kalau saya pribadi sih, lebih baik bantuan itu memberikan sesuatu yang membuat mereka melangkah maju. Maksud saya, ngasih duit segede apapun tetep aja jatuhnya kurang. Apalagi mau lebaran. Seperti kata Ibu Raden Ayu Kartini, kalau mo ngasih jangan kasih makanan, tapi kasih tau dimana makanan itu berada (Dan kasih tau juga caranya gimana meraih makanan itu, ya, kan, Bu Kar?)

Mungkin pendapat saya ini jahat, tapi bagi saya, memberi bantuan ke orang tua itu hilang. Tapi kepada anak-anak, kita menitipkan harapan ke depan.

Kemudian, terjadi perubahan…lagi. Kegiatan bakti sosial diambil alih yayasan. Iya, sih, dana untuk itu jadi jauh lebih besar. Tapi kita tidak punya kebebasan untuk melaksanakannya dengaan cara kita. Dan yayasan punya pendapat yang, yah, jadul! Ngasih bantuan langsung ke masyarakat.

Uh, capek, deh! Cara instan (ngasih duit), hasilnya juga instan (keliatan kita baik).

Huh, saya mah gak butuh pemujaan!

Tahun kemarin, bantuan di berikan kepada masyarakat desa agak jauh dari sekolahan. Saya tidak banyak terlibat karena saya….kesel. Saya bahkan hanya datang sebentar saat sambutan lalu pergi lagi. Menyebalkan sekali! Yang bikin acara yayasan tapi giliran diminta ngasih sambutan pada ngumpet semua. Kebiasaan!

Hehehe, ngeselin banget kan kalo keputusannya mereka yang bikin dan kita gak boleh berpendapat sama sekali, etapi yang tanda tangan kita. Surat dengan kop dan cap sekolah bukan yayasan. Nanti kalau orangtua murid protes, kita lah yang di demo!

MENYEBALKAN!!!

(Eits, jadi kemana-mana, hehe..)

Kembali ke kisah, karena saya langsung pulang duluan dan bersikap gak mau tau gitu sama kejadian setelahnya, jadi saya tidak begitu ngeh kalau tahun kemarin pun sudah ada masalah.

Klasik.

Jumlah orang yang datang lebih banyak daripada undangan yang disebar.

Pak… eh nama di blog ini, siapa, ya? Doh kelamaan gak nulis cerita di sekolah jadi lupa hampir semua nama, hakhahkaaa…

Yah, pokoknya salah satu kawan saya itu bertahan dengan TIDAK MEMBERIKAN SAMA SEKALI DILUAR DARI DAFTAR PENERIMA.

Loh, gak ada di daftar artinya gak ada! Mana kita tahu keluhannya dia bener apa tidak. Jangan bikin celah untuk orang lain ambil kesempatan!

Tapi, yah, dia sendiri saat itu. Saya kan pergi duluan. Jadi kalah dengan rombongan yayasan yang semua berpendapat:

KASIH AJA TOH MASIH ADA DANANYA!

Saya tahu, semua bermaksud baik. Ya, kan? Tidak ada yang tidak bermaksud baik diantara kami semua.

Akhirnya semua yang ngatri, dapet amplop lagi. Dengan jumlah nominal lebih sedikit. Tapi antrian yang selanjutnya ini meni gak jelas pisan, euy! Ini siapa-siapa dari mana dan apakah ada yang balik lagi ngantri berulang-ulang, kita gak tau.

Pada saat itu, sudah tidak ada yang memberikan perhatian lagi. Panitia sudah kecapean!

Tahun ini, saya terkejut melihat ternyata panitia menyiapkan setumpuk amplop diluar data. Jumlahnya cukup banyak. Lah, itu buat apa?

Kata ketua panitia, buat diberikan untuk masyarakat yang datang tapi mereka gak dapet undangan.

Saya mengerut kening. Gak, gak usah begitu, kata saya. Hitung jumlah amplop sisa itu dan pagi ini juga, kirim undangan tambahan ke SDN sebelah sekolah. Kasih aja dana sisa itu untuk anak-anak SD di sana.

(Lagi, menurut saya, ada dana sisa begitu bisa membuka peluang yang gak baik buat kita sendiri. Gimana kalau nanti ada diantara kami yang tergoda dan mengambil satu atau beberapa?)

Tapi, kita kan gak punya data, Bu.

Loh, kan sekolah kenal siswanya sendiri? Masa sih guru di sana tidak tahu siapa-siapa siswa mereka yang anak yatim atau butuh bantuan? Saya yakin, mereka pasti tahu. Kasih kabar aja ke kepala sekolahnya. Gak usah ribet-ribet masalah data data data. Udah kayak pemerintah aja segala-galanya musti ribet!

Lima belas menit kemudian, kepala sekolah SDN tetangga dan sejumlah siswanya tiba. Kami ajak mereka semua ke lokasi santunan.

Bahkan sejak awal saya sudah mengira akan ada masalah. Melihat dari jumlah yang nampaknya melebihi dari yang kita harapkan.

Ketua panitia sudah kebingungan.

Acara tetap berjalan.

Daaaan, begitulah. Tau-tau, beberapa ketua RT bilang kalau banyak warganya yang tidak kebagian.

Saya bilang kepadanya, kami kan minta datanya sama bapak. Ya, kami beri sesuai data dari bapak-bapak.

Ya, tapi ternyata kurang.

Oh, itu diluar dari tanggung jawab kami, Pak.

Ibu gak kasihan sama warga saya yang miskin?

Justru saya kasihan, makanya kami datang ke sini untuk memberi bantuan. Kami sudah minta data sama bapak-bapak. Itu tugas bapak-bapak. Tugas kami menggalang dana dari guru, orangtua murid dan donatur diluar. Dan setahu saya, semua orang yang namanya sudah diberikan kepada kami, sudah mendapatkan santunannya. Itu artinya tugas kami sudah selesai dengan baik. Mengenai permasalah tersebut, yaaa, itu berarti bapak-bapak yang tidak becus menjalankan tugas!

…….

Dan kami disorakin, sodara-sodara!

Dasar gak berperikemaanusiaan!! Kata mereka.

Saya mengerling ke bos yang ngumpet aja selama kejadian tersebut.

…..

Well, tahun depan mau tetap bertahan dengan cara gini?

…..

…..

Pak Bos: Tahun depan, yang ngadepin warga Bu Kirsan aja, deh.  Bu Kirsan kan ramah dan lembut.

Satu pemikiran pada “Tidak Berperikemanusiaan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s