Guru dalam Buku dan Film: Lucas (Jagten)

The Hunt (Jagten) 2012 image 1Saya sangat senang dengan film-film bertema pendidikan atau dengan tokoh sentral guru serta keseharian dan perjuangannya yang berasal dari negara-negara maju lebih dari yang berasal dari negara-negara miskin atau berkembang. Mungkin bosan salah satunya. Seakan hanya bercerita mengenai guru yang super miskin bertarung melawan masyarakat yang tidak peduli atau bahkan masih juga mencari keuntungan dengan bertindak sewenang-wenang.

Jangan salah, itu memang masih terjadi. Masih sangat banyak bahkan di sekeliling saya sendiri. Tapi dalam banyak hal, yah, mungkin kurang mewakili perasaan semua guru yang ada. Maksud saya, lalu apakah jika guru tersebut tidak miskin dan tidak berhadapan dengan masyarakat yang miskin maka itu artinya dia tidak berbuat apa-apa?

Sama seperti setiap saya kumpul-kumpul dengan sesama guru di UPTD setempat dan setiap ngobrol dengan guru lain (kalau saya ngobrol artinya saya persilahkan teman bicara saya berkisah) dan guru tersebut adalah guru sekolah negeri, dan apalagi guru tersebut masih guru honorer, maka kisahnya akan berputar pada masalah yang itu-itu saja. Dan lucunya, dalam pikiran mereka pun itu-itu saja.

Seakan jika penghasilan mereka lebih baik, atau setelah diangkat PNS, maka semuanya akan baik-baik saja. Seandainya anak-anak mereka berasal dari golongan mampu, atau orangtuanya berpendidikan, maka semuanya akan baik-baik saja. Dan pembicaraan akan diakhiri dengan:

‘Kamu sih enak mengajar di sekolah mahal. Pasti, guru di sana penghasilannya besar. Satu kelas muridnya sedikit. Kelasnya ber-ac, anak-anak orang kaya yang punya duit buat beli buku, alat-alat, dan bisa les yang mahal tiap hari. Orangtuanya bukan orang-orang bodoh yang pasti ngerti soal pendidikan anaknya dan menghargai guru. Pasti sering ngasih hadiah yang mahal….’

Dan seterusnya dan seterusnya….

*sigh*

Well, guru sekolah mahal juga punya masalahnya sendiri untuk di selesaikan. Dan karena itu, saya merasa jauh lebih nyaman bicara dengan guru-guru sekolah yang sejenis. Karena permasalahn yang kita hadapi secara umum sama, pun ditambah tidak akan diakhiri tuduhan yang mengecilkan hati seperti:

‘Kalo kamu sih enak bla…bla….bla….’

Jadi, tanpa mengecilkan guru-guru honorer, saya kira kisah guru yang tidak melulu terbentur masalah uang pun perlu diangkat juga.

Eniwey, Jagten adalah film asal Denmark yang mengisahkan tentang pengalamannya Lucas, seorang guru taman kanak-kanak saat harus menghadapi fitnah dari salah satu siswanya sendiri.

Lucas adalah seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak di sebuah desa di Denmark. Dia sudah berpisah dengan istrinya, dan hidup sendirian. Terkadang anak laki-lakinya yang sudah remaja tinggal bersamanya juga saat liburan sekolah. Namun, walaupun hidup sendirian, Lucas tidak merasa kesepian. Dia punya sahabat-sahabat yang baik yang berada di sekelilingnya. Salah satu sahabatnya yang terdekat adalah Theo, ayahnya Klara, salah satu siswa Lucas.

Theo dan istrinya kerap bertengkar saling berteriak satu sama lain, dan pertengkaran itu sering disaksikan oleh Klara. Pada suatu hari, kakak laki-laki Klara dan temannya memperlihatkan gambar penis yang sedang ereksi kepadanya. ‘Lihat, Klara, penis ini keras,’ katanya sambil tertawa-tawa. Mereka berdua hanya bercanda. Sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti Klara.

The Hunt (Jagten) 2012 imageBagi Klara, Lucas adalah sosok penyelamat. Dia menjadi tempat berteduh saat Klara merasa kesepian setiap orangtuanya bertengkar. Maka pada suatu hari di taman kanak-kanak, Klara memeluk dan mencium bibir Lucas. Tentu saja Lucas kaget. Dia bilang kepada Klara untuk tidak menciumnya lagi. Marah karena merasa ditolak, Klara mengadu kepada guru yang lain bahwa dia benci kepada Lucas.

‘Loh, bukankah kalian berteman?’

‘Aku benci sebab Lucas punya penis.’

Klara masih terbayang gambar yang diperlihatkan kakaknya.

‘Tapi, semua laki-laki memiliki penis,’ kata guru tersebut.

‘Iya. Tapi penisnya Lucas keras.’

Dan kalimat itulah yang kemudian memutarbalikkan hidup Lucas. Dia yang tadinya warga yang dihormati menjadi musuh nomor satu masyarakat. Lah, iyalah memangnya ada yang suka dengan seorang pedofil?

Bahkan konon dua tahanan yang harus diberi penjagaan demi keselamatan mereka sendiri adalah para polisi dan pedofil. Karena baik polisi, maupun pedofil, selalu menjadi sasaran kemarahan narapidana lain di dalam penjara.

Pihak sekolah terkejut dengan kalimat ini, dan mencoba untuk menyelidiki tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka minta Lucas untuk menepi dari sekolah, tapi sekolah juga tidak memberi tahu Lucas siapa yang menceritakan hal tersebut. Demi anak itu, kata pihak sekolah.

Jadi Lucas hanya bisa bertanya-tanya.

Polisi dipanggil dan begitu juga psikolog anak. Mereka semua mengajak klara berbicara. Klara yang kebingungan, ingat loh masih usia TK, dengan caranya sendiri berusaha mengatakan bahwa apa yang dikatakannya saat itu tidak benar. Dia tidak tahu penis Lucas keras atau tidak. Tidak ada yang terjadi. Tapi sang psikolog pada saat itu justru berkesimpulan bahwa Klara takut sehingga berusaha menyembunyikan kebenaran.

Ironis bukan? Saat Klara bohong, semua percaya. Tapi saat dia mengatakan hal yang sebenarnya, semua orang berpendapat bahwa dia berbohong karena ketakutan.

Saya kira untuk masalah hukum, itu hal yang wajar. Namun di sini yang parah adalah tindakan balas dendam yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Tidak peduli bahwa ada yang namanya azas praduga tidak bersalah, namun bagi semua orang, Lucas adalah penjahat.

Pernah nonton Dogville? Well, nampaknya ada kesamaan kisah di sana. Dan mungkin seperti itulah sifat dasar manusia. Hal yang kecil yang sering saya temui adalah jika suatu hari ada anak murid saya yang berbuat kesalahan, dan kita memarahi anak itu, maka teman-temannya sekelas suka ikut-ikutan marahin anak itu. Terkadang kebencian yang diberikan oleh anak-anak yang lain (atau saudara kandungnya jika di rumah) jauh lebih dalam dibanding omelan guru atau orangtua. Dan bagaimanapun, manusia adalah makhluk yang penuh prasangka. Dan anak yang dibenci teman-temannya itu akan menyalahkan siapa? Orang yang pertama kali membuat dia dalam kesulitan tentunya.

Begitu juga kita yang menonton film ini, rasanya jadi sungguh-sungguh mati sebel dengan Klara, walaupun yang membuat Lucas sengsara kan bukan Klara. Dia hanya seorang anak perempuan yang kesepian, merasa ditolak, dan membuat kesalahan yang rupanya cukup besar. Klara terus berusaha memberitahu bahwa apa yang dikatakannya tidak benar. Tapi orang-orang dewasa di sekitarnya, yang mengatakan bahwa mereka membela dan bertindak demi kepentingan Klara, tidak mau mendengar dan tidak memberikan kesempatan kepadanya.

Hal yang sering saya sesalkan adalah bahwa banyak orang dewasa, khususnya yang belum memiliki anak, yang berpendapat bahwa anak kecil tidak mungkin berbohong. Kenyataannya, anak kecil juga berbohong, tapi kebanyakan dari mereka berbohong bukan demi keuntungannya pribadi. Mereka berbohong karena membesar-besarkan sesuatu, atau pelampiasan dari rasa kesal terhadap sesuatu atau seseorang. Ini mungkin salah satu hal yang dikatakan di film ini.

Satu hal lagi adalah, kita sendiri pun mungkin suka menyakiti orang lain. Mungkin kita tidak pernah tahu, betapa tajamnya bicara (yang sering orang menyamakan dengan kasar bicara gaya Ahok yang tentu bukan itu maksudnya) atau prilaku sehingga kita tanpa sadar mungkin pernah menghancurkan hidup orang lain.

Directed by Thomas Vinterberg
Produced by Morten Kaufmann
Sisse Graum Jørgensen
Thomas Vinterberg
Written by Tobias Lindholm
Thomas Vinterberg
Starring Mads Mikkelsen
Thomas Bo Larsen
Lasse Fogelstrøm
Annika Wedderkopp
Music by Nikolaj Egelund
Cinematography Charlotte Bruus Christensen
Editing by Anne Østerud
Janus Billeskov Jansen
Studio Zentropa
Distributed by Nordisk FilmMagnolia Pictures (US)
Release date(s)
  • 20 May 2012 (Cannes)
  • 10 January 2013 (Denmark)
Running time 106 minutes
Country Denmark
Language Danish

One thought on “Guru dalam Buku dan Film: Lucas (Jagten)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s