Guru dalam Buku dan Film: Muryati (Jalan Bandungan)

jalan_bandunganPerkawinan bukan satu-satunya tujuan dalam hidup. Masing-masing kita wajib mencari pengisian yang sesuai dan sepadan guna menyeimbangi kebutuhan jiwa. Oleh karenanya cerita manusia tidak berakhir hanya pada perkawinan.  Jangan kaukira orang-orang yang telah kawin tidak mempunyai persoalan lagi dalam hidupnya… Setiap hari banyak orang yang mati, dengan mudah tanpa usaha atau daya upaya. Tapi setiap hari berjuta-juta orang berjuang dengan susah payah untuk hidup.

NH. Dini dalam novelnya, Keberangkatan

Sebelumnya saya menuliskan kalau saya sedang agak bosan dengan kisah-kisah guru dari negara berkembang yang hampir selalu, seakan, hanya menampilkan sisi kemelaratan guru tersebut. Uh, plis, deh! Dunianya guru gak melulu urusan duit, tau.. Saya ingin melihat sisi yang lain dari kisah hidup mereka!

Saya sering sekali menyamakan NH Dini dengan Nawal el Saadawi. Sama-sama pengarang perempuan yang seringnya menulis pendapat yang sangat menyengat kaum laki-laki. Cara mereka berdua menuturkan kisah pun saya pandang sama. Lebih banyak penggambaran dekripsi baik fisik terlebih pendapat dan pemikiran sang tokoh utama yang hampir selalu dituliskan sebagai orang pertama. Pergulatan sang tokoh sangat seru kepada dirinya sendiri pun tidak terburu-buru dengan akhir kisah yang nampaknya sangat menyakiti para pembaca tipe yang nungguin ending, hehe… Seringnya ngegantung, bok!

Bagaimanapun, saya tipe pembaca yang lebih milih untuk menikmati kisah daripada kelojotan dengan akhir cerita. Maksud saya, untuk buku-buku yang bukan tipe kisah detective.

Saya lebih suka membaca karya Nawal el Saadawi, kalau harus memilih diantara keduanya. Nawal menulis dengan emosi yang seringnya meledak-ledak, tapi ada humor di dalamnya. Jadi saya sering memandang tokoh-tokoh kisah Nawal el Saadawi adalah perempuan-perempuan yang sudah begitu tersakiti sampai pada suatu titik di mana mereka memilih untuk menertawakan jalan hidupnya sendiri, sambil menggugat tajam sistem patriakal. Sementara NH Dini dengan kelembutan dan filosofi Jawanya malah jatuhnya agak membosankan dan bikin geregetan. Duoooh!!!

Maksud saya, tokoh-tokohnya Nawal kan berani gitu, loh, ngambil keputusan yang dramatis untuk mengakhiri penderitaannya sendiri. Kayak Firdaus itu yang bunuh mucikarinya sendiri! Atau si Fathiya yang begitu dia liat suaminya memperkosa anak perempuanya, dia bacok lah itu lelaki dia potong-potong dan buang ke sungai. Bertindak, gitu! Gak kelamaan sabaaaaaaaar aja!

*makan topi*

Di sisi lain, Nawal seringnya menulis dengan model hitam-putih. Atau kalau istilahnya teman-sesama-penikmat-Nawal, hitaaaaaaaaaaaam-putih. Hitamnya banyak, putihnya cuman satu atau dua tokoh, hehe.. Sementara dalam kisah-kisah NH Dini, yaaa, abu-abu. Sejahat-jahatnya (Eh, emang ada yang jahat, gitu?) gak ada satupun yang bisa menyamai setengah dari jahatnya satu  tokoh jahat di kisahnya Nawal. Walaupun beberapa tokoh—tokoh utama cewek dan suaminya—wataknya kok sama aja. Kayak Maman VS bapaknya-anak-anak.

Okey, Jalan Bandungan ini lebih kepada kisah perjalanan hidup seorang perempuan yang kebetulan berprofesi sebagai guru, bukan kisah tentang bagaimana sepak terjangnya sebagai guru. Jadi, tidak terlalu banyak pula di bahas mengenai dunia di dalam kelas, saya kira. Walaupun dalam beberapa hal, saya pun ikut merasakan bagaimana perasaannya Muryati yang kadang merasa hoples bin kesel saat menghadapi guru-guru berjiwa jadul di sekitar yang sudah terlalu merasa nyaman dengan ‘ketidakpedulian’ mereka dan ogah berubah yang saya yakin banyak dirasakan oleh para guru yang suka seliweran di internet, hayooooo…. Iyakaaaaan… Ngakuuuuuu….

Saya sangat menikmati bab-bab awal buku ini ketika kisah masih bergulir saat Muryati masih kecil dan ikut hidup bergerilya mengikuti ayah bundanya yang pejuang kemerdekaan Indonesia. Kejadian-kejadian yang sesungguhnya cukup besar dituturkan dengan kaca mata seorang anak perempuan yang lugu namun penuh pertimbangan. Pada masa yang penuh dengan gelora inilah Muryati kecil bertemu dengan Widodo, salah satu pemuda pejuang kemerdekaan. Silaturahmi antara Widodo dengan keluarga Muryati masih terjalin hangat sampai pada suatu ketika, Widodo melamar Muryati untuk menjadi istrinya. Karena kedua orangtuanya sayang kepada Widodo, maka Muryati, walau tanpa perasaan cinta, memutuskan untuk menerima pinangan sahabat muda ayahnya tersebut dengan satu syarat: Muryati ingin menyelesaikan pendidikannya di SPG dan menjadi guru dulu, baru nanti mau dinikahi.

Setelah menikah, Widodo mulai kelihatan sifat aslinya yang egois, pelit, dan sangat mengekang. Well, merasa familiar? Yep, tokoh suami di sini punya sifat yang sama dengan suaminya Maman (Bahasa Perancis yang artinya Ibu) alias bapaknya-anak-anak alias lelaki-pilihanku-sendiri alias Yvest Coffin di kisah-kisah autobiografinya beliau. Cuma kurang pemarahnya aja.

Widodo yang punya kesibukan sendiri selain pekerjaannya tidak pernah mau tahu dengan kesulitan Muryati mengatur keuangan rumah tangga yang menyesakkan ditambah mengurusi tiga anak mereka yang masih kecil-kecil. Muryati pun akhirnya bersikap tidak mau tahu suaminya pergi ke mana saja. Dikira Muryati, suaminya hanya melarikan diri kepusingan mendengarkan rengekan anak-anak mereka di rumah. Dia tidak pernah menyangka bahwa suaminya adalah anggota Partai Komunis Indonesia yang aktif.

Saya mulai tertarik lagi di sini (Pas Muryati nikah saya mulai agak males dengan kisah yang kebanyakan berupa keluhan-keluhan domestik rumah tangga) karena saya jarang membaca kisah dari sisi orang-orang yang tidak sepaham atau diluar golongan kiri. Akhir-akhir ini kan saya lebih familiar dengan kisah bagaimana tertindasnya golongan faham sosialis di Indonesia pada masa orba, dan bukan sebaliknya. Muryati di sini tidak begitu paham apa itu PKI atau apa yang sedang terjadi sesungguhnya—dan karena itu dia merepresentasikan saya atau banyak orang lain–dia hanya tahu bahwa faham-faham seperti itu sangat mengakar kuat.

Muryati hanya tahu bahwa setelah suaminya menjadi tahanan politik, kehidupannya semakin sulit. Dia harus kembali bekerja menjadi guru—yang tidak disesalinya karena dia sesungguhnya memang selalu ingin mengajar kembali tapi tidak pernah dibolehkan suaminya.

Kesulitan Muryati ini bukan sekedar kesulitan ekonomi, tapi juga dia sering dihina masyarakat yang mengatainya Gerwani. Ditambah walaupun sebagai tapol, suaminya ternyata masih juga menekan dan menggrecoki hidupnya. Maka ketika suaminya dipindah ke pulau (Buru?), Muryati menolak untuk ikut serta. Dia malah memilih untuk mengambil beasiswanya ke Belanda, sementara anak-anaknya yang beranjak remaja dipasrahkan kepada nenek mereka. Di Belanda inilah Muryati bertemu dengan Handoko, adik iparnya yang bekerja di sana sebagai arsitek, dan mereka pun saling jatuh cinta.

Sama seperti perasaan saya ketika membaca karya-karyanya NH Dini yang lain, saya merasa seperti diperas ke dalam kisah. Saya tidak pernah bisa menahan keinginan untuk terus saja menikmatinya. Bahkan jika berkali-kali pun terus saja seperti itu. Khususnya kisah-kisah NH Dini yang disebut seri kisah kenangan alias autobiografi-autobiografinya.

Mengenai sepak terjang sebagai guru, NH Dini tidak terlalu banyak mengulas. Well, ini memang bukan kisah tentang guru, tapi tentang seorang perempuan yang berprofesi sebagai guru. Konon, sama seperti Pertemuan Dua Hati, kisah ini pun sebenarnya pengalaman seseorang yang pada kisah ini adalah saudara NH Dini sendiri. Dan, seperti tadi saya tuliskan, beberapa hal yang dirasakan Muryati saya rasakan juga khususnya ke bete-an kita jika berhadapan dengan rekan-rekan yang gak ada semangatnya sama sekali jadi guru. Boro-boro mau beranjak maju, didorong-dorong pun ogah-ogahan. Mungkin emang butuh ancaman kali, ya…

‘TAHUN 2015 GURU YANG BELON S1 MUSTI TURUN JABATAN JADI TU!’

Hayooooooooo……

2 thoughts on “Guru dalam Buku dan Film: Muryati (Jalan Bandungan)

  1. hAHAHaaaa…bete ni yeee….

    tapi mmg bener siih, jangankan sesama guru, saya ajah yang ortu murid suka gemes kl liat guru kok ga kreatif…masalahnya, hari giniii gitu loohh…apa2 ada di internet kl emang ‘rajin dan mau’ nyari2…..

  2. Ping-balik: Orang-Orang Tran | Buku, Film, dan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s