Sudut Pandang Anak Kelas Satu SD

Gak Ada Soalnya

Ini dari cerita Pak Munif yang bikin buku Gurunya Manusia ituuuu. Jadi beliau berkisah kalau puterinya belajar Matematika dengan cara cerita. Wah, seneng sekali dengan kisah beliau yang ini. Sebab Saya juga gitu, hehe… Makanya kalau bagi orang lain Matematika paling nyebelin pada soal cerita, kalau saya justru CUMA NYAMBUNG sama soal cerita doang! Seruwet apapun, pasti saya bisa! Sebab, persoalan yang harus Saya selesaikan nyata! Soal yang lain mah, gak mudeng! Lah, orang Cuma serangkaian simbol doang, kok! Gak ada artinya. Gak penting, hehe…

Tapi sialnya, kenapa dari SD sampe lulus SMA kok ya soal cerita di ulangan Matematika dikit banget, ya…

Jadi, suatu kali puteri Pak Munif yang saat itu baru kelas 1 SD pulang sedih. Tu anak disetrap, dibilang anak bodoh sama gurunya. Gara-gara ulangan Matematika dapet nilai 2! Pas diliat oleh Pak Munif, ternyata dari 11 soal, yang dikerjakan puterinya hanya satu soal: soal cerita. 10 soal lainnya gak dijawab.

Pak Munif tanya: Kenapa soal lain gak dijawab? Kan, justru soal-soal lain ini gampang-gampang. Delapan dikurangi dua, itu kan gampang. Kok hanya jawab soal yang di romawi dua aja? Yang romawi satu gak dijawab.

Jawab puterinya: Ayah, Aku tahu delapan dikurangi dua itu enam. Aku tahu lima ditambah tiga itu delapan. Tapi, kan yang di romawi satu ini gak ada soalnya.

Jadi bagi puterinya Pak Munif, simbol-simbol itu gak ada artinya. Baru berarti jika diterjemahkan pada persoalan yang kongkrit. Gua banget, dah!

Dikerjakan, Ya…

Minggu pertama Saya nekad jadi guru. Saat itu Saya ditugaskan mengasuh kelas TK B. Ya tiap hari kerjaannya melipaaaat saja. Maklum, Saya suka origami dan koleksi lipatan saya lumayan banyak.

Pada suatu hari, Saya diminta gantiin guru kelas 1 SD yang sedang sakit. Pelajaran PKN dan tugas yang ditinggalkan kepada Saya adalah untuk menuliskan 5 soal isian di papan tulis. Anak-anak diminta menulis soalnya di buku tulis, kemudian mereka menjawab.

Dengan enteng saya tulis saja soal tersebut, lalu senyum-senyum duduk di kursi guru.

Gak ada anak yang mengerjakan.

Saya bingung.

Rupanya anak-anak juga bingung.

Bagi anak-anak: Ini ibu guru ngapain nulis trus duduk aja, ya?

Saya: Nak, sayang, dikerjakan, ya, soalnya.

Anak-anak: Dikerjakan itu apa?

Saya: Dijawab.

Anak-anak: Dijawab? Apa yang dijawab?

Saya: Soal.

Anak-anak: Soal apaan?

Saya: Itu soal yang Ibu tulis di papan tulis itu loooooh…

Anak-anak: Oooooh… Itu yang di papan tulis soal, ya?

Iya, semuanya ngegerombol di depan papan tulis. Saya puyeng!!

Saya: Anak-anak, ini soal yang ibu tulis di papan tulis, Kalian salin di buku tulis, ya.. Lalu soal tersebut dikerjakan.

Anak-anak: Di buku juga?

Saya: Iyaaa..

Anak-anak: Di buku siapa?

Saya: Di buku kaliaaaaan.

Anak-anak: Oooh… kita disuruh tulis itu di buku tulis, ya?

Saya: Iyaaa

*hiks hiks*

Dan seterusnyaaaaa…

Gak Dikasih Tau Boleh Ngitung, sih..

Kembali ke Matematika. Seorang anak kelas 1 SD yang nilainya unggul di Matematika, tahun kemarin saat ulangan umum kenaikan kelas, hanya mendapat nilai 30. Gurunya bingung. Hampir semua soal tidak dijawab sama sekali.

Tanya guru dalam hati: Duh, anak ini kenapa gak ngerjain, ya? Apa dia sakit tapi gak bilang-bilang saya? Gak mungkin gak bisa! Anak ini bisa kok! Nilainya tertinggi melulu di kelas.

Tanya guru pada anak itu: Rivan, kenapa kok soalnya banyak yang tidak dikerjakan?

Jawan Rivan: Aku mau ngerjain. Tapi aku bingung mau ngitungnya di mana.

Hakhahaha..

Jadi, saat ulum Matematika, Sang Guru tidak memberi tau anak-anak instruksi yang biasa yaitu kertas di belakang soal boleh dibuat coret-coret untuk menghitung. Dipikirnya, sudah biasa boleh, maka SEMUA anak akan menganggap boleh. Karena biasanya gitu. Tapi si Rivan ini nampaknya memang patuh sekali aturan. Gurunya gak ngasih tau kalau belakang kertas boleh buat dicoret-coret, maka Rivan pertahankan tetap bersih.

Dan sepanjang ulangan dia kebingungan mau ngitung di mana? Jadilah sebagian besar soal tidak dikerjakannya.

Belum Juga Bisa Baca

Selama 5 tahun saya bersekolah SD, dan seterusnya sampai lulus kuliah, nilai terbaik yang Saya dapatkan adalah dari pelajaran Bahasa Indonesia, kecuali saat kelas satu SD. Nilai Bahasa Indonesia Saya kacau balau.

Alasan guru: Lah, orang si AL itu gak bisa baca! Mana mungkin nilai Bahasa Indonesia bagus! Ini anak satu-satunya murid di kelas yang saat caturwulan ke-3 mau berakhir, masih juga belon bisa baca.

Alasan Saya saat itu: Gak ngerti kenapa musti ikutan belajar baca. Kan, semua orang udah bisa baca? Jadi buat apa saya ikut-ikutan musti bisa baca? Apa gunanya coba? Gak penting! Mendingan mikirin hal yang lain yang jauuuuh lebih menarik daripada ngapalin huruf. Magnet misalnya. Kenapa, ya, magnet itu bisa nempel-nempel?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s