Nelpon Kak Seto

Beberapa saat yang lalu, salah satu walikelas kelas satu mendapatkan tamu yang tidak di sangka yaitu ibu kandung dari Deryl, salah satu anaknya. Tidak disangka karena dalam catatan kami, Deryl itu dinyatakan sebagai anak piatu. Ibunya sudah meninggal tepat satu tahun setelah dia dilahirkan.

Lalu, siapa perempuan yang ngaku-ngaku sebagai ibunya itu?

Setelah ngobrol dengan Saya beberapa lama, yang hampir sepanjang obrolan tersebut sang ibu berurai air mata saja, Saya mulai paham. Ini memang ibunya Deryl. Ayahnya Deryl memutuskan untuk meng-cut semua hubungan diantara ibu dan anak ini setelah mereka bercerai. Sang ayah memang seorang pejabat kepolisian yang cukup disegani. Ibunya Deryl pulang ke Makassar setelah resmi bercerai. Deryl beserta ayahnya pindah ke Bogor.

Selama enam tahun, Sang Ibu ini sama sekali tidak diperbolehkan untuk menjenguk, atau bahkan berbicara dengan Deryl. Beberapa kali Sang Ibu mencoba untuk mencari anaknya di Jakarta, tapi yang dia dapatkan hanya berita bahwa Deryl beserta ayahnya sudah pindah ke Bogor. Kemudian beberapa minggu sebelumnya, seorang kerabatnya memberi tahu bahwa Deryl sekarang bersekolah di salah satu sekolah swasta di kabupaten ini.

Ibunya Deryl hanya tahu nama sekolah, yang Saya kasih tahu, ya, nama sekolah tempat Saya bekerja ini rada pasaran. Banyak. Itupun ditambah Sang Ibu sama sekali tidak tahu bagaimana rupa anaknya sekarang.

Lah, kan dia pergi saat Deryl masih satu tahun, ya..

Kemudian, sesuatu yang, bagi saya sih indah, terjadi.

Saya izinkan ibunya Deryl untuk mengintip ke dalam kelas anaknya, tanpa saya beritahu yang mana Deryl itu. Dan, tau tidak, ibunya langsung menunjuk salah satu anak lelaki.

‘Itu Deryl, ya, Bu?’

Itu benar dia. Tapi Saya tidak menjawab.

Bel istirahat berbunyi. Anak-anak kelas satu SD keluar. Ibunya duduk menatap Deryl dari jauh. Dan tahu tidak, Deryl juga tertegun menatap perempuan yang duduk di sebelah saya.

‘Deryl,’ panggil Saya kepadanya.

Deryl datang. Ibunya langsung memeluknya. Deryl sama sekali tidak melawan.

‘Saya teman nenek kamu, Deryl,’ kata Sang Ibu. Sengaja tidak bilang kalau dia ibunya. Lah, kan Deryl masih anak kecil. Nanti kalau dia bilang dia ibunya, ayahnya akan bagaimana?

Mereka kemudian bicara beberapa saat. Sang Ibu sempat menyuapi makan siang Deryl, kemudian tetap duduk menatap kelas Deryl dari jauh. Dia masih ada saat sore ketika salah satu ajudan ayahnya Deryl datang menjemput. Melihat dari jauh.

‘Saya tidak bermaksud bikin masalah buat sekolah, Bu. Terimakasih sudah mengizinkan Saya bicara sama anak Saya,’ katanya sebelum pergi. Dia kembali ke Makassar sore itu juga.

Saat membicarakan kembali kejadian itu, mendadak Kirsan nyeletuk:

‘Hei, kalian tahu tidak, Aku kan pernah ngobrol sama Kak Seto.’

Hah? Masa?

‘Ngng… Lebih tepatnya, ditegur sih.’

Maksud ditegur ini, ya, dibilangin gitu. Bukan ditegur ‘Hai Kamu mau kemana’. Ah, Saya yakin Anda pasti mengerti yang saya maksudkan.

Tau-taulah kita semua jadi duduk khusyuk ngedengerin si Kirsan berkisah.

Jadi pada suatu hari, datanglah seorang bapak ingin bertemu anaknya yang sedang duduk di kelas TK B. Karena laki-laki yang menyatakan diri sebagai ayah itu tidak familiar, dan ini kan di lingkungan TK yang tentu saja memiliki aturan berkunjung atau menjemput lebih ketat dibandingkan di SD, maka keinginan tersebut tidak diluluskan oleh Kirsan sebelum mendapat persetujuan dari orangtua murid yang dikenal yaitu ibunya.

Laki-laki yang mengaku ayah anak itu langsung sewot. Dia pergi dan kembali membawa foto-fotonya bersama sang anak yang di foto tersebut masih sangat kecil.

‘Alika itu anak Saya, Bu. Sungguh-sungguh anak Saya. Hanya Saya dan ibunya berpisah tiga tahun yang lalu. Saya tidak bertemu Alika lagi sejak itu.’

Kirsan menelpon ibunya Alika yang langsung dengan tegas menyatakan:

‘SAYA TIDAK MAU ALIKA KETEMU AYAHNYA, TITIK!’

Nah, loh!

Maka, perkataan ibunya Alika pun disampaikan kepada ayahnya. Sang ayah marah-marah! Dia pergi dengan sangat marah dan berkata akan membawa polisi ke sekolah.

Bu Kirsan akan dituntut dan dilaporkan ke Komnas Perlindungan Anak!

Hari itu juga, beberapa puluh menit kemudian, TK didatangi oleh polisi! Waduh, heboh banget, dah!

Sang polisi, ternyata adalah Pak Polisi yang memang sudah Kirsan kenal baik. Yaiyalaaaah, orang pos polisi-nya ada tepat di depan gerbang sekolah TK! Sering ngobrol sama Kirsan.

Yaudah, Pak Polisi yang ramah dan selalu baik hati sama anak-anak ini (soalnya anak-anak sering minta disebrangin sama si bapak dan sering juga melambai-lambai tangan kepadanya sambil tereak-tereak ‘DA DA PAK POLISI YANG GANTENG DAN KEREN!’) jadi malah ngobrol-ngobrol ramah dengan Kirsan. Dan itu nampaknya bikin si Ayah tambah sewot.

Dia menelpon.

Beberapa saat kemudian, dia berkata kepada Kirsan.

‘Ibu, Saya sudah laporkan kasus ini ke Komnas Perlindungan Anak! Ini silahkan ibu bicara sendiri dengan Kak Seto!’

Hah?

Kirsan sih gak percaya. Masa sih orang sesibuk Kak Seto tau-tau bisa ditelpon dengan gampangnya.

Ternyata memang Kak Seto, cing!

Dan, yah, karena Kirsan gak merasa salah, dia sih senyum-senyum saja ngobrol dengan Kak Seto yang intinya mengingatkan bahwa siapapun tidak punya hak untuk menghalang-halangi seseorang bertemu dengan anaknya sendiri.

Waduh, kebayang doooong. Segala unek-uneknya Kirsan, alias kami semua pihak sekolah, langsung lah dikeluarkan.

‘Tapi, gini loh Kak Seto. Saya mengerti mengenai itu. Tapi kami pihak sekolah jadi selalu merasa serba salah. Kalau nanti kami penuhi, sementara dari putusan pengadilan kan sudah jelas, ibunya yang punya hak asuh anak. Ibunya yang bertanggungjawab penuh dengan anaknya. Tentu saja sebagai manusia, kami merasa sedih sekali dengan masalah yang seperti ini. Tolonglah, Kak Seto, beritahu kami bagaimana posisi kami saat peristiwa seperti ini terjadi. Sekolah juga tidak mau diseret ke dalam pertikaian rumah tangga. Kami kan hanya ingin tenang mendidik anak-anak tanpa perlu diruwetin dengan hal seperti ini. Memangnya kami bisa tentram kalau tiba-tiba sekolah didatangi bapak-bapak yang marah-marah dengan membawa polisi? Ini sekolah taman kanak-kanak.’

Kak Seto kemudian mengatakan bahwa beliau ingin bicara kembali dengan ayahnya Alika.

Weh, kami semua mendengan kisah itu dengan terpesona.

‘Trus, gimana perasaan kamu ditegur Kak Seto?’

‘Tau, gak, waktu sudah selesai, aku langsung lompat-lompat sendirian. Kereeeen! Gua ditelpon Kak Seto!!!!’

Hahaha..

Lalu, akhir kisah ini?

Well, setelah bicara dengan Kak Seto beberapa lama, Sang Ayah kemudian minta maaf lalu pergi. Dua minggu kemudian, Sang Ayah datang lagi untuk mengunjungi anaknya. Kali ini, atas izin dari ibunya. Sementara Pak Polisi yang baik hati itu langsung saja diundang oleh Kirsan sebagai salah satu guru undangan yang berkisah tentang pengalaman-pengalamannya sebagai polisi kepada anak-anak TK. Dia bersedia.

One thought on “Nelpon Kak Seto

  1. Kebayang serba salahnya posisi guru kalau kasusnya kek gini.

    Dulu pernah ada cerita juga,,,sampe anaknya bener2 ditarik2 jadi rebutan papa-mamanya….sedih banget kan? pdhl baru bisa jalan tuh anak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s