Tertawalah Sebelum Tertawa itu Melanggar HAM

Africa-United-futbol-aşkı-poster-400x567-160x247Hai, nama Saya Dudu. Dudu artinya kutu. Saya akan menunjukkan kepadamu cara membuat bola di Afrika. Pertama-tama, Kamu memerlukan bahan. Paling penting adalah Kamu harus punya kondom. Tak peduli apapun jenisnya. Kondom Saya ini sumbangan dari PBB. Tapi apapun bisa, kecuali Blackjack. Kondom dapat menghentikan penyebaran HIV/AIDS. Jika ibu dan ayah saya punya kondom, mungkin mereka masih ada di sini. Jadi, tolong, lakukan sex yang aman.

Dalam dunia sepakbola, Didier Drogba menyatakan, sepakbola lebih asik daripada sex. Jadi, mari kita main bola, dan jangan perang.

Mari Saya beritahu orang-orang terkenal yang menggunakan kondom. Pertama-tama, semua pemain piala dunia menggunakannya. Rooney, Kaka, Henry, Drogba, Ronaldo, dan Messi. Agar mereka aman, dan bermain bola dengan bagus. Semua presiden di dunia memakai kondom. Nelson Mandela, Paul Kagame, dan Obama. Jadi, kalau Presiden Obama ssaja memakai konndom, maka kenapa Kamu tidak memakainya?

Jadi, ingat anak-anak, bermain yang aman, dan mari nikmati permainan. Kau tahu itu masuk akal. Jadi, apa yang akan kita lakukan?

KICK IT!

Loh, jadi ini cerita tentang bola atau tentang kondom?

Film kerja sama dari UK Film Council, BBC, Warner Bross, Canal, dan Rwanda Film Comission ini cerita tentang seorang pejuang perdamaian, seorang penulis, seorang dokter, seorang pemain dan manajer sepakbola di masa depan, yang melintasi benua Afrika sejauh lebih dari 3000 kilometer, menerobos perbatasan tujuh negara, dengan tanpa surat identitas diri apapun, nyaris tanpa uang, demi untuk hadir di pembukaan piala dunia.

Intinya, mereka cuma segerombol anak yang nekad.

Foreman, Beatrice (digemblok), Celeste, Fabrice, dan Dudu

Foreman, Beatrice (digemblok), Celeste, Fabrice, dan Dudu

Kisah dimulai dari Dudu. Anak yatim piatu berusia 13 tahun ini memiiki impian untuk menjadi manajer sepakbola. Yah, sebetulnya impian Dudu ini banyak. Atau lebih tepatnya, khayalan banyak. Karena kenyataannya, Dudu hanyalah anak jalanan yang hobi membaca majalah Time. Tentu saja Dudu memiliki pekerjaan, cukup baik sebetulnya jika mengingat betapa kacaunya kehidupan anak-anak yatim piatu di Rwanda. Pekerjaan Dudu adalah menjadi asisten para relawan WHO yang bertugas sebagai penyuluh HIV/AIDS di sana. Salah satu tugas Dudu membagi-bagikan kondom kepada orang-orang. Itulah kenapa dia selalu membawa sejumlah kondom di dalam tas kopernya.

Bagaimanapun, kondom-kondom tersebut toh berguna. Bisa dibikin jadi bola. Dan anak-anak di Rwanda sudah biasa main bola yang terbuat dari kondom.

Dudu senang membaca majalah Time dari hasil pinjam milik, Fabrice, sahabatnya. Fabrice adalah anak laki-laki yang senang dan berbakat menjadi pemain bola. Namun, orangtua dan kakaknya yang dokter sangat tidak suka dengan hobinya itu. Setiap kali Fabrice bicara tentang impiannya menjadi pemain sepakbola, ibunya akan berkata:

Afrika tidak butuh mimpi! Afrika butuh bangun dari mimpi!

Bagaimanapun, Fabrice tetep main bola…..di pinggir jalan dekat rumahnya. Lalu akan kabur pulang saat ibunya pulang.

Pada suatu hari, datanglah seorang laki-laki yang nampak terkesan dengan permainan bola Fabrice. Laki-laki ini mengundang Fabrice untuk ikut uji coba di Kigali, ibukota Rwanda. Anak yang lolos dari ujicoba ini akan menjadi perwakilan negara Rwanda untuk ikut serta meramaikan upaca pembukaan piala dunia di Afrika.

Tentu saja Fabrice tertarik. Dan karena kebetulan ayah dan ibunya tidak pulang hari itu (nampaknya ortu Fabrice memang suka tidak pulang ke rumah sesekali karena pekerjaan) maka dia nekad saja pergi ke Kigali dengan Dudu dan Beatrice, adik perempuan Dudu.

Beatrice punya cita-cita menjadi dokter pada suatu hari nanti. Namun apa daya, sebagai anak jalanan, tentu saja dia tahu bahwa impiannya itu sangat jauh. Tapi seperti kakaknya Dudu yang selalu optimis, Beatrice juga sangat optimis bahwa suatu hari nanti, dia bisa menjadi dokter dan menemukan obat untuk penyakit AIDS. Sebab orangtuanya meninggal dunia karena AIDS. Dan tentu saja obat untuk kemiskinan juga. Tapi saat ini, usaha Beatrice adalah mengumpulkan seluruh bahan bacaan yang dia temukan, dan ini tentu saja tidak banyak, kemudian dia baca berulang-ulang sampai hapal. Jadi nanti jika dia bisa sekolah, dia sudah terbiasa menghapal tulisan.

Bertindak sebagai ketua rombongan adalah Dudu, yang mana kita tahu bahwa dia anak yang pede dan sok tahu, walaupun tidak banyak tahu. Dan gara-gara si Dudu inilah perjalanan mereka yang harusnya sederhana malah menjadi rumit.

Diawali dari mereka bertiga salah naik bis. Bukannya ke Kigali, mereka malah nyasar ke negara tetangga yaitu Kongo. Ruwetnya lagi, Kongo sedang dilanda konflik. Namun justru karena Kongo sedang awut-awutan inilah maka tiga anak kebingungan ini jadi terselamatkan dari masalah diplomatik. Tapi juga, gak ada yang menganggap cerita mereka sebagai sesuatu yang penting. Dudu dan teman-temannya ini dikirim ke kamp pengungsi anak-anak yang disponsori oleh UNICEF dan PLAN. Bersamaan dengan mereka bertiga masuk kamp pengungsi juga Foreman, seorang desertir tentara anak-anak.

vlcsnap-2013-09-22-13h13m38s190

Okeh, Anda semua tahu kan bahwa sebagian tentara pemberontak di negara-negara Afrika itu anak-anak? Tentara anak-anak ini diambil dari desa mereka masing-masing secara paksa. Jika menolak, tangan dan kaki mereka akan dipotong pake golok, lalu tubuh mereka diikat di pohon.

Nah, sebagai desertir (tentara yang melarikan diri dari kesatuannya), Foreman tahu bahwa keberadaannya di kamp pengungsian tidak aman. Badan sekelas UNICEF pun tidak mampu melindungi dirinya sendiri saat diserbu tentara pemberontak. Kenyataannya, cepat atau lambat, para tentara akan datang ke kamp pengungsi untuk mengambil beberapa anak yang sudah terlihat besar dan kuat untuk menjadi tentara mereka. UNICEF tidak akan bisa berbuat apa-apa. Maka tentara pemberontak ‘dibiarkan’ mengambil beberapa anak yang kuat agar relawan bisa menyelamatkan segelintir sisanya. Nampaknya, bagi para relawan, lebih baik mereka bisa terus ada dan menyelamatkan beberapa anak daripada sama sekali tidak dapat menyelamatkan satu pun.

Foreman punya rencana untuk kabur. Dan mereka berhasil! Tapi kacaunya, mereka kabur dengan membawa salah satu mobil PBB. Tau kan mobil putih bertuliskan UN gede berwarna biru ituuuu.. Di satu sisi, berkendara mobil itu berarti legal melintasi batas negara, tapi juga beresiko besar karena mobil itulah yang paling menarik perhatian tentara pemberontak yang dengan tanpa segan akan menembaki dan merampas mobil tersebut.

Yah, apalagi yang dicari selain obat-obatan yang sangat berharga.

Foreman mungkin berguna sebagai penunjuk jalan dan pelindung, namun dia juga punya masalah sendiri. Masalah itu berupa uang satu tas yang ikut dibawa kaburnya saat dia melakukan desersi. Satu orang lagi anggota kelompok kecil anak-anak ini adalah Celeste, seorang budak sex anak-anak yang mereka temui di (negara) Burgundi, yang kabur dari pemiliknya dan ikut Dudu dan kawan-kawan ke Afrika Selatan.

Celeste berkisah bahwa dia sebetulnya seorang puteri raja (mungkin anak kepala suku maksudnya) yang dijual sebagai budak sex saat ayahnya kehilangan kekuasaan. Entahlah itu benar atau bukan, yang jelas, dia sudah dianggap menjadi bagian dari kelompok kecil ini. Dengan menumpang, menyelundup, naik angkot, jalan kaki, atau apapun mereka terus maju mengalami berbagai macam cerita melintasi Rwanda, Kongo, Burundi, Tanzania, Zambia, Zibambwe, sampai tiba di Afrika Selatan untuk mengantarkan Fabrice ikut ujicoba menjadi bagian dari tim Africa United.

vlcsnap-2013-09-22-17h08m10s146

Ini adalah film berbudget kecil namun berhati yang besar, kata The Times. Beneran, Saya tidak sanggup membayangkan bagaimana bisa anak-anak ini yang setiapnya telah mengalami kehidupan yang berat (kecuali Fabrice) namun toh bisa tetap optimis menjalani hidup. Celeste, Foremen, Dudu dan Beatrice adalah anak-anak yatim piatu yang, well, jauuuuuh dari kisah-kisah Seandainya Saya Menjadi yang Trans TV itu yang jika dibandingkannya, tokoh-tokoh SSM seakan tinggal di surga saja. Bayangkan, hidup di negara yang subur dengan iklim yang ramah tanpa ada tentara yang bisa tiba-tiba datang menyiksa. Saya tidak bisa membayangkan jika Saya menjadi Celeste yang menjadi budak sex setelah ayahnya dibunuh, atau menjadi Foremen yang sejak kecil sudah diambil dan dipaksa membantai orang.

Beberapa hal yang digambarkan di film ini yang Saya baru tahu. Salah satunya kisah tentang para relawan yang terpaksa diam saja saat tentara mengambil anak-anak pengungsi dari kampnya. Satu lagi adalah bahwa di negara-negara Afrika, test HIV itu sudah sedemikian wajarnya sampai anak-anak seperti Dudu yang baru 13 tahun dan adiknya dengan enteng bisa saja masuk klinik untuk ikut test, dan mendapat mengarahan dari dokter, dengan tanpa pendampingan dari orang dewasa.

Sebenernya, harusnya gak mengejutkan juga sih kalau ada anak-anak ikutan test HIV. Selain dari orangtuanya, di Afrika kan sudah terbiasa dengan anak-anak yang dinikahkan sejak kecil, atau sudah dijual atau dipaksa berprofesi sebagai pelacur sejak kecil. Lagi pula, setiap orang yang ikut test HIV ini, apapun hasilnya, akan mendapat uang. Lumayan buat nyambung hidup saat makanan habis.

Eniwey, ini film bagus dan mengasikan, tapi walaupun tokoh-tokoh utamanya anak-anak, ini bukan untuk konsumsi anak-anak, ya.. Memang tidak ada adegan kekerasan atau yang diatas 17 tahun, tapi tetap butuh pendampingan orangtua untuk menyaksikannya.

Download Africa United di sini.

Directed by Deborah ‘Debs’ Gardner-Paterson
Produced by Mark Blaney
Jackie Sheppard
Eric Kabera
Written by Rhidian Brook
Starring Emmanuel Jal
Eriya Ndayambaje
Roger Nsengiyumva
Sanyu Joanita Kintu
Sherrie Silver
Yves Dusenge
Music by Bernie Gardner
Cinematography Sean Bobbitt
Editing by Victoria Boydell
Studio Pathé Productions
Footprint Films
Link Media Productions
Out of Africa Entertainment
BBC Films
Distributed by Warner Bros.
Pathé
Release date(s)
  • 22 October 2010 (UK)
Running time 88 minutes
Country United Kingdom
Language English

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s