Tom, Oliver, Alex, dan Ibu Kost di Jatinangor

Saya baru tahu bahwa ibu kost saya di Jatinangor ternyata masih memiliki suami, lebih dari satu tahun setelah saya menyewa kamar di tempatnya. Aneh? Ah, tidak juga. Sebab, semua anak kost yang lain juga baru ngeh belakangan kemudian. Sang suami yang konon aneh ini, tidak pernah keluar dari kamar tidurnya. Kamarnya pun selalu ditutup rapat.B_thumb_autistic1

Tidak ada satupun diantara kami yang suka membicarakan keanehan suaminya ibu kost, tapi tentu cerita selalu ada. Katanya, suami sang ibu kost itu setres. Gak tahu setres kenapa. Konon karena waktu masih kecil nginjek penunggu pohon atau apalah gitu. Pokoknya begitu. Nah, pada suatu hari, orangtua sang suami pergi untuk mencari seorang gadis desa yang lugu yang mau dinikahkan dengan anaknya. Setelah itu, dibangunlah kost-kostan sebagai penghasilan bagi anaknya yang (konon) setres dan istrinya yang lugu tersebut di pinggir Bandung. Daaan, yah, begitu ceritanya.

Saya pernah melihat sang suami (yang katanya aneh) ini. Sekali. Saat itu Saya sedang ke rumah (utama) dan pas sekali pintu kamar sedang berayun menutup. Tapi cukup buat saya melihat seorang laki-laki sedang duduk di kasur sambil memainkan jari-jari tangannya. Dia memandang saya, dan gestur tubuhnya tidak pernah saya lupakan. Lebih dari lima tahun kemudian saya melihat orang-orang lain yang juga bergestur seperti itu. Pada awal tahun ajaran baru saat sekolah tempat saya bekerja menjadi sekolah inklusi.

Saya cukup yakin bahwa suaminya ibu kost saya autis, bukan setres. Apalagi gara-gara nginjek penunggu pohon.

Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan sesama yang-suka-ngurusin-anak-berkebutuhan-khusus melemparkan pertanyaan di forum.

Baidewei, orang ini sudah banyak makan asam garam dunia anak dan orang dewasa berkebutuhan khusus. Maka bagi saya, beliau adalah guru saya sebetulnya.

Okeh, guru saya ini melemparan pertanyaan:

‘Apa yang terjadi setelah sekolah?’

Semua menghela nafas, hehe..

Boro-boro mikirin setelah sekolah, buat urusan sekolah aja di Indonesia ini masih bingung. Iya kan?

Jadi, apa yang terjadi setelah sekolah?

Saya jadi teringan Robby (bukan nama sebenarnya), salah satu siswa abk kami. Atau lebih tepatnya, satu-satunya remaja abk-titipaan di sekolah kami.
Si Robby tidak masuk kelas manapun, karena memang dia sudah lulus SD. Pindah ke SMP ortunya bingung karena sekolah inklusi untuk smp masih sangat jarang. Akhirnya dia masuk ke sebuah SMP yang cukup memberi keleluasaan karena mengizinkaan Robby belajar di kelas dengan pendamping (shadow teacher). Hanya beberapa bulan dan dia dikeluarkan dari sekolah. Alasannya, dia berperilaku agresif dan menyerang (baca: memukul) guru dan beberapa siswa lain.

Beberapa anak autis saat menginjak masa remaja memang menjadi agresif.

Orangtua Robby yang kebingungan akhirnya menitipkan kembali kepada kami untuk sementara. Tidak masuk kelas, hanya duduk dan bermain saja di ruang terapi seharian. Sampai akhir tahun ajaran yang lalu, kami pun mengembalikan Robby kembali ke orangtuanya.

Baidewei, beberapa saat yang lalu saya menonton film documenter dari BBC yang berjudul The Autistic Me. Film ini mengikuti kehidupan tiga orang anak muda penyandang autis. Cukup menarik.

Tom

Tom

Pertama adalah Tom, berusia 15 tahun. Dari ketiga orang autis ini, dialah yang nampaknya paling sulit menghadapi kehidupan. Tentu saja, namanya jugaa remaja. Remaja reguler saja sulit menghadapi hidupnya, ya, kan?

Tom memiliki keluarga besar yang sangat harmonis, syukurlah. Keluarganya terdiri dari ayah dan ibu, empat saudara laki-laki, seorang saudara perempuan, satu kucing dan dua anjing. Mereka tinggal di sebuah desa di Inggris.

Sumpah, saya jadi inget keluarga Weasley di seri Harry Potter!

Seperti sebelumnya saya tuliskan, hidup Tom sedang susah. Dia sudah bukan anak kecil lagi, jadi tidak begitu nyambung dengan adik-adiknya. Tapi dia juga tidak bisa mengikuti denyut hidup remaja lain atau ikut bersosialisasi dengan kawan-kawan kakaknya yang, beneran deh, kelihatan sekali sangat ingin membantu adiknya. Saat ini, Tom sedang bersiap pindah ke sebuah sekolah asrama khusus untuk remaja lain yang sama dengannya. Sebelumnya, Tom bersekolah di sekolah reguler. Tapi keadaan semakin sulit untuknya.

Sama seperti yang sebelumnya saya tuliskan, teman seangkatannya, yang tadinya adalah teman-temannya, sekarang mulai menjauhinya. Dia semakin merasa berbeda. Sementara itu, prilakunya semakin agresif. Dia marah besar atas apa saja. Jika marah, dia tidak segan melayangkan tinju kepada siapapun. Ibunya sendiri sudah berkali-kali dipukul olehnya. Suatu kali dia marah dan menendang lantai rumah pohon, itu lantai langsung jebol. Tentu saja kan secara fisik, Tom bukan anak-anak lagi. Dia bahkan lebih tinggi dari ayahnya. Kadang Tom marah dan tidak memukul orang lain, dia malah kabur dari rumah. Sudah berkali-kali dia melakukan itu.

Oliver

Oliver

Orang kedua adalah Oliver yang berusia 20 tahun. Badan Oliver lebih besar daripada Tom, tapi dia nampak lebih manis. Oiver sudah lepas sekolah. Selama di sekolah, Oliver disukai oleh teman-temannya. Dia memiliki kelebihan yaitu suka sekali dengan sejarah dan jago main drum. Dia bagaikan ensiklopedia berjalan saja. Dan memang kamarnya pun penuh dengan buku-buku sejarah. Kesulitan Oliver saat ini adalah dia tidak memiliki pekerjaan.

Well, dia harus melakukan sesuatu dalam hidupnya, bukan? Walaupun mungkin dia tidak kelaparan, tapi kita semua tahu hidup gak punya pekerjaan itu menyebalkan! Gak usahlah nganggur, Saya pernah cuti dua bulan dari pekerjaan selepas operasi jantung aja merasa suntuknya minta ampun. Lah, gimana rasanya nganggur?

Oliver pernah memiiki pekerjaan yang menurut Saya sangat cocok untuknya, yaitu sebagai tukang periksa dan stempel buku-buku di perpustakaan umum. Tapi itu hanya pekerjaan sementara. Dia hanya pekerja kontrak. Sekarang kontraknya sudah habis dan nampaknya tidak diperpanjang lagi. Jadi yang dia lakukan sepanjang hari tinggalah menyusuri jalanan untuk melamar pekerjaan.
Biasanya, saat orang melihatnya dan tahu bahwa dia penyandang autis, langsung dikatakan kepadanya bahwa tidak ada lowongan untuk apapun. Dia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan apa-apa saja yang dia bisa lakukan.
Maksudnya, si Ollie ini kan orangnya terstruktur rapih. S

aya kira dia bisalah jadi cleaning service atau tukang beberes kalau memang beresiko jika diberi pekerjaan kantoran.

Alex

Alex

Orang terakhir adalah Alex, 25 tahun. Dia penyandang Autis Asperger Syndrome. Sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai asisten kantoran (baca: tukang ngetik), walaupun masih dihitung sebagai karyawan paruh waktu. Tapi pemilik perusahaan nampaknya sangat sayang kepadanya. Selain disiplin, dia juga sangat jujur. Sejak awal dia memberi tahu apa-apa saja yang dia bisa lakukan dan tidak sanggup dia lakukan.

Ibunya Alex sudah sangat tua. Dalam hidupnya ini, hanya tinggal satu hal yang diharapkannya yaitu Alex bertemu dengan seseorang yang akan berbagi hidup dengannya. Alex pun mengerti bahwa dia butuh seseorang untuk berbagi hidup. Maka dia mulai mencari pasangannya, dengan mendaftarkan dirinya di situs kencan.

Saya tersentuh saat Alex mengisi profil dirinya (dan dia menulis apa adanya sesuai keadaannya) dan mengisi kolom kriteria pasangan yang dia cari. Dia tidak memilih, katanya kepada yang mewawancara. Perempuan seperti apapun dia akan terima.

Hanya masalahnya, apakah ada perempuan yang mau jadi kekasihnya?

Well, ternyata ada seorang gadis yang tertarik untuk berkencan dengannya. Antara lucu daan terharu juga melihat bagaimana dua orang ini bertemu dan duduk di taman bersama-sama. Di seberangnya, ibunya Alex memperhatikan dari jauh.

Pacarannya orang autis :)

Pacarannya orang autis🙂

Okeh, saya ingat guru saya tersebut mengatakan bahwa di luar negeri, orang-orang autis selepaas masa sekolah, kebanyakaan dari mereka ya hanya di rumah saja. Beberapa akan menjadi sangat sulit dan dikirim untuk hidup di institusi atau mental hospital. Banyak para ibu bekerja akan melepas pekerjaannya saat anaknya yang autis lepas dari sekolah.

Lalu, bagaimana di Indonesia?

Ternyata konon kisah seperti ibu kost Saya di Jatinangor tersebut banyak terulang di Indonesia. Para orangtua akan mencari gadis desa yang lugu gak tahu apa-apa untuk dikawinin sama anaknya yang penyandang autis. Kehidupan keluarga anaknya tentu akan tetap ditanggung oleh orangtuanya.

3 thoughts on “Tom, Oliver, Alex, dan Ibu Kost di Jatinangor

  1. Di Jepang, setahu saya pemerintah mewajibkan perusahaan untuk menerima dan mempekerjakan penderita autis. Memang sih pekerjaannya mudah dan tidak memerlukan tanggung jawab besar seperti cleaning service. Karena itu pula gaji mereka rata2 setengah atau setidaknya tidak penuh seperti karyawan biasa yang punya tanggung jawab.
    Gak enaknya, kadang2 mereka ini jadi sasaran bully.

  2. Iya. Denger2 di Jepang sudah ada aturannya. Sebenernya di beberapa negara memang sudah ada aturan salah satunya, kalau ada penyandang cacat melamar kerja, harus diterima. Ada jumlah minimalnya.

    Kalau di kita, boro2 lah orang yg reguler aja rebuta kerja. Mungkin yg kita pikirin adalah untuk buka usaha2 yg orang gak perlu lihat pekerjanya. Misalnya usaha loundry. Toh orang kan gak tahu siapa yg tukang nyetrika. Jadi kalau ada orang autis yg nyetrika sambil ngiler misalnya, atau sambil tepok2 tangan sendiri, toh gak ada yg tahu, hehe…

    Sebenernya yg lebih pikirin itu bagaimana untuk kemandirian mereka. Kalau gak salah ada program di Inggris jadi para penyandang autis tinggal bersama dalam satu rumah. Jadi bisa saling menjaga sampai…yah sampai mereka tua.

  3. Crita trio autis ini membuatku “mrebes mili”. Jadi penasaran dengan akhir kisah Alex..
    1 teman saya minder berkenalan dengan perempuan karena penyakit yang bukan autis, dan sepertinya dya harus nonton The Autistic Me biar terbuka matanya.

    Anyway, soal autis, 1 siswa ada yang tergolong abk. Sayangnya, orang tua si anak gak pernah mengakui kalau anaknya berbeda, dan mengabaikan saran kepala sekolah + wali kelas. Betapa egois orang tuanya. Cuma gara2 “malu” sampai rela mengorbankan nasib anaknya, huft..
    #maaf jadi curcol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s