The Blue Diary of Mumbai

the-blue-diary-of-mumbaiDari panggung ke panggung, dan dari pembaca ke pembaca, saya mulai terpisah dari buku saya; saat saya berpikir bahwa Batuk memiliki suaranya sendiri dan saya adalah perwakilan baginya. Dia berdiri di sebelah saya, dengan tenang, sama seperti dia berdiri diatas ranjangnya waktu itu (James A. Lavine)

Dini hari di sebuah bandara internasional di Delhi seorang laki-laki tiba. Dia kelelahan setelah menempuh perjalanan sepanjang 48 jam tanpa sempat tidur. Penerbangannya baru saja dialihkan dari sana ke mari lalu balik lagi. Seorang anak kecil meleset melewatinya dan mengambil troli yang sedang didorongnya seraya berteriak, ‘Taksi!’ Lelaki itu kontan mengejanya. Tibalah mereka ke deretan mobil dan orang-orang yang langsung saja mengambil alih troli dan menggeret sang laki-laki masuk ke dalam salah satu mobil.

‘InterContinental Hotel,’ kata laki-laki itu. Naluri membuatnya melindungi dirinya dengan sebuah tas laptop di dadanya.

Mobil tidak membawanya ke tempat yang dimintanya. Konon kata sang supir, hotel tersebut sedang tutup. Supir membawanya ke sebuah apartemen kumuh dimana laki-laki itu langsung dilemparkan ke dalam kloset. Pak Levine mengerti, dia baru saja menjadi korban penculikan turis yang banyak terjadi di India. Dan dia hanya dapat berbaring di lantai kloset yang kumuh dan lembab kemudian menangis. Selama tiga hari dia terkurung di sana. Sampai sebuah keributan terjadi dan wc tempatnya disekap, akhirnya di buka paksa. ‘Anda bebas,’ kata seoorang laki-laki berjaket hitam yang ternyata adalah seorang polisi.

Sebelumnya, baru saja, terjadi penculikan terhadap seorang warga negara Amerika yang membuat pihak yang berwenang menekan sindikat para penculik wisatawan asing.

Itu yang saya tuliskan adalah kisah nyata. Atau minimal, memang seperti itulah yang terjadi saat James Levine menuturkan pengalamannya. Kata pertama yang dikatakan oleh Pak Levine ini adalah:

‘Hotel InterContinental.’

Dan begitu tiba di hotel yang disebut, barulah para polisi menggerti siapa laki-laki yang baru saja dibebaskan dari tangan penculik. Sambutan meriah sudah disiapkan, yang nampaknya tidak begitu mempengaruhi walaupun kenyataannya si Bapak Levine telat selama tiga hari.

Pak Levine langsung minta diantar ke hotel yang ternyata hanya ingin mandi. Selepas itu, dia turun lagi dan langsung masuk ke mobil menuju Taj Mahal. Dia berjalan sendirian di dalam kompleks Taj Mahal karena sesungguhnya pada saat itu, makam paling terkenal di dunia ini sudah tutup. Tapi khusus untuknya, otoritas meminta agar Taj Mahal dibuka.

Hari selanjutnya, Pak Levine sudah kembali ke pesawat menuju Mumbai ke jalan Fakland tepatnya, sebuah distrik kawasan lampu merah dimana terdapat sekitar setengah juta anak-anak pekerja seks komersial di India.

James A. Levine adalah seorang profesor di bidang kedokteran yang juga seorang aktivis kemanusiaan. Beliau sedang bertugas sebagai bagian dari tim kesehatan PBB di India. Dan pada saat kunjungaannya ke India saat itulah, Pak Levine melihat suatu sosok yang sanggup membuat hatinya runtuh. Seorang anak perempuan, salah satu pekerja seks, yang sedang duduk menunggu pelanggan di depan sarangnya sambil menulis sesuatu di sebuah buku berwarna biru. Gadis dalam balutan sari merah jambu itu memberi inspirasinya untuk menulis sebuah kisah yang berjudul The Blue Notebook atau dikenal juga dengan judul The Blue Diary of Mumbai.

Saat melihat buku ini di toko buku beberapa saat yang lalu sebenarnya saya hanya agak tertarik, kemudian memutuskan untuk meletakkannya kembali. Terbayang sudah mata meleber air saat membacanya. Saya kan gak gitu suka yang sedih-sedih. Tapi, beberapa waktu kemudian, saya kembali ke rak kemudian mengambil buku tersebut dan meletakkannya ke dalam kantung belanjaan saya. Tepat seperti orang-orang yang dikisahkan oleh Pak Levine, yang kebanyakan diantara pembaca bukunya ini akan mengambil, membaca sebentar, lalu meletakkannya kembali ke rak buku. Dan beberapa saat kemudian, orang-orang ini akan kembali lagi dan membeli buku tersebut.

Ada sesuatu dalam diri Batuk, sang tokoh utama, yang membuatnya tidak mudah lepas dari benak pembaca.

Batuk, gadis yang diceritakan, adalah seorang pekerja seks dibawah umur. Dia dijual oleh keluarganya ke pelacuran pada usia 9 tahun. Dan sejak itulah, dia bukan anak-anak lagi. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan kepada ayahnya yang mengantarnya ke rumah bordil, dia juga tidak akan sempat mengucapkan perpisahan kepada ‘suaminya’ dua minggu kemudian.

Hari pertama tiba di rumah bordil, Batuk dimasukkan ke sebuah kamar. Dibiarkan saja dia menangis terus-terusan sampai kelelahan dan kelaparan. Setelah terdiam, akhirnya, seorang perempuan datang untuk memberinya makan, memukulnya, dan memandikannya. Esok harinya, seorang dokter datang untuk memeriksa tubuhnya, yang lebih kepada memeriksa keperawanannya. Malamnya, sebuah lelang diadakan. Perawannya akan diserahkan kepada penawar yang tertinggi.

Selanjutnya, kehidupan Batuk terus berjalan dengan cepat. Selepas ‘malam pertamanya’ yang bahkan dia tidak mampu berpendapat apa-apa saking kagetnya, keesokan harinya gadis kecil 9 tahun ini pun dikirim ke ‘panti asuhan’ untuk dikawinkan dengan seorang Yazak. Jangan kira yang disebut panti asuhan ini betul-betul panti asuhan.

Anda pernah menonton film Slumdog Millioner?

Nah, ingat saat Jamal, Salim, dan Latika dibawa ke suatu tempat dimana mata Jamal mau dibuat buta?

Seperti itulah kira-kira yang disebut panti asuhan itu. Hanya penggambarannya jauh lebih memilukan lagi.

Saya sama sekalli tidak habis pikir bagaimana mungkin ada orang-orang yang bisa tidak memiliki hati seperti itu di dunia ini?

Saya kira pendapat Batuk benar, bahwa Yazaak adalah orang-orang yang sudah mencerabut diri mereka dari kemanusiaan.

Kehidupan ‘pernikahan’ Batuk tentu saja jauh lebih mengerikan lagi. Disinilah dia belajar bagaimana untuk memuaskan atau menjadi pelampiasan nafsu para lelaki (dengan cara apapun dan dengan kadar kelembutan sampai keganasan yang tak terkira) dan bagaimana dia, dengan kepalanya sendiri atau bahkan juga merasakan sendiri, apa yang akan terjadi jika dia tidak patuh. Di panti asuhan ini pun Batuk bertemu dengan Puneet, seorang anak-lelaki-cantik-akan-menjadi-banci yang kemudian mereka menjadi sahabat sekaligus, menurut mereka dan dalam hal tertentu, kekasih.

Lelaki suka merasa berkuasa, itu yang kemudian Batuk mengerti. Dan daripada dia yang merasa kesakitan, lebih baik jika dia berpura-pura kesakitan. Yep, Batuk memang seorang anak perempuan yang cerdas. Kebalikan dari Puneet yang sangat bodoh dan penurut.

Hanya dua minggu Batuk menjalani kehidupan pernikahannya itu sampai kemudian dia diambil untuk memasuki sarang, tempat kerjanya yang tidak lebih besar daripada lebar seekor sapi. Di sarangnya dia harus menunggu dari pagi hingga malam, para lelaki yang datang silih berganti untuk ‘membuat gula-gula’ dengannya. Diantara membuat gula-gula, ternyata masih ada hati untuknya. Mamaki, mucikarinya, ternyata masih memberikan keleluasaan baginya dan Puneet untuk saling bertukar sapa dan terkadang bercanda. Mereka saling memanggil kekasih pada satu sama lain. Mungkin saja, keceriaan Puneet adalah salah satu hal yang membuat Batuk dapat terus menjalani hari-harinya yang begitu-begitu saja.

Hal yang tak terhindarkan pun terjadi. Suara Puneet berubah. Dia bukan anak kecil lagi. Pada saat itu, bagi pemilik rumah bordil, hanya ada dua pilihan. Apakah bhunna (penis) Puneet akan dipotong ataukah dibiarkan saja. Bagaimanapun, itu bukan keputusan Puneet. Dan untuk menghindari masalah yang bisa saja terjadi, pemilik rumah bordil kemudian mengambil keputusan untuk memotong bhunna-nya. Walaupun itu membuat laki-laki pelanggan Puneet semakin banyak dan bahkan sampai mengantri di depan pintu, tapi itu membuat Puneet berubah. Dia tidak pernah lagi tertawa ataupun tersenyum. Ini tidak masuk akal untuk Batuk, karena baginya, dengan Bhunna atau tanpa Bhunna, Puneet tetap sama.

Saya banyak terkejut saat membaca buku ini. Tidak pernah menyangka sama sekali bahwa India, negara yang selama ini dalam benak adalah negara yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi bisa memiliki tempat-tempat dimana jiwa manusia sama sekali tidak berharga. Bagaimana rasanya seseorang yang terlahir dari hubungan pekerja seks (para pekerja seks tidak diperbolehkan memakai kondom atau membuang sperma dari vagina mereka) yang akan langsung diambil oleh mucikari sebagai bayi sewaan di pasar. Bayi-bayi ini sengaja dibuat kelaparan, tapi jangan sampai mati, untuk disewakan kepada para pengemis.

Jika bayi ini bisa bertahan hidup sampai kanak-kanak, maka dia langsung dijual ke ‘panti asuhan’. Di panti asuhan, sang anak bisa dijadikan apa saja. Apakah pengemis, yang tentu saja akan dibuat cacat dahulu dengan cara matanya dicongkel atau tangannya dipotong, ataukah dijual keperawanannya saat usianya 9 tahunan dan kemudian jadi pelacur.

Jika anak itu laki-laki yang kelihatan manis, dia akan mengalami nasib yang sama dengan Puneet yaitu jadi pelampiasan nafsu para Yazak yang kemudian dilempar ke salah satu rumah bordil. Jika dia disukai para lelaki, bhunna-nya dipotong dan dia jadi PSK sampai…..entahlah sampai kapan.

Betapa menyesakkannya dunia, ya..

Ini buku satu tarikan nafas rasanya bagi saya. Begitu mulai membuka, saya tidak meletakkannya sampai selesai. Halaman demi halaman yang berganti-ganti antara satu adegan ke adegan lain benar-benar menggambarkan lincahnya Batuk menjalani hari-harinya. Saya kira, dia seorang anak yang optimis, atau mungkin sudah memasrahkan apa yang mungkin anak datang kepadanya. Satu hal yang saya terngiang (yang rasanya seperti Batuk yang menjelaskan sendiri kepada saya) mungkin memang benar seorang anak kecil yang tercerabut akan lebih gampang menjalaninya dibandingkan jika orang dewasa yang kemudian terjatuh sebegitu dalam. Bagaimanapun, anak kecil kan masih belajar mengenali dunianya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s