First They Killed My Father

images33“I am six years old and instead of celebrating with birthday cakes, I chew on a piece of charcoal. ”
― Loung Ung

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku, sebuah memoar, yang berjudul First They Killed My Father, karya Loung Un. Salah satu korban selamat dari masa berkuasanya Khmer Merah pimpinan Pol Pot (Shloth Sar) . Mungkin, saat tergelap dalam sejarah Kamboja.

Membaca judul bukunya, saya kira kisah dimulai—atau masa penderitaannya Loung Un—saat ayahnya dibunuh tentara Khmer Merah. Ternyata tidak.

Beneran, ini buku tidak dapat diletakkan. Tapi mau gak mau saya musti letakkan.

Kenapa?

Karena saya tidak tahan untuk tidak melelehkan air mata saat membacanya. Malu kan kalau saya nangis dimana-mana.

Buset, dah, penceritaannya intens banget!

Apa sih yang kita tahu mengenai Kamboja? Selain bahwa ini salah satu negara di Asia Tenggara yang terkenal dengan Angkor Wat, sebuah kuil Hindu-Buddha terbesar di dunia.

Kamboja hanyalah sebuah negara yang terdapat pada peta. Selain salah satu materi pelajaran IPS kelas 6 tentunya. Dan beneran kan, katanya siapaaa gitu, kalau kita berani jadi guru, itu artinya kita harus berani untuk belajar (kembali) selama (menjadi guru) itu.

Minimal baca-baca lagi, lah, ya…

Baidewei, Loung Un adalah puteri salah satu perwira militer Kamboja. Anak keenam, dari tujuh bersaudara. Dan saat tentara Khmer Merah menang dan kemudian menguasai Kamboja, dia baru berusia 5 tahun.

Loung hanya menceritakan sedikit saja masa-masa indah keluarganya sebelum Kamboja dikuasai Khmer Merah. Baginya yang baru berusia 5 tahun hanya suatu kali jalanan ramai dan ibunya menyuruh dia untuk segera makan karena mereka akan pergi dari Phnom Penh. Tidak dengan mobil mewah mereka, tapi dengan truk. Keluarga ini pergi karena tentara mengusir  semua orang dari kota-kota di Kamboja. Dan bersama dengan ribuan orang lain, mereka meninggalkan kota. Sedikit sekali barang yang mereka bawa. Begitu juga uang. Bagaimanapun, uang ternyata sudah tidak lagi memiliki fungsi apapun selain oleh orangtuanya dipakai sebagai kertas pengelap pantat sehabis buang air besar.

Kemudian, pembunuhan mulai terjadi. Berdasarkan berita-berita yang Loung dengar, selain tentunya berdasarkan cerita-cerita yang dituturkan oleh kakak-kakaknya beberapa tahun kemudian, tentara nampaknya membunuh siapa saja yang melawan. Baik kubu lawan mereka yaitu simpatisan Lon Nol, maupun orang-orang yang dianggap membangkang karena tidak segera meninggalkan kota. Tidak peduli bahwa orang tersebut sedang sakit parah ataupun terlalu lemah untuk melakukan perjalanan. Semua ditembak mati.

Orang-orang yang kehausan dan masuk ke sumur yang sudah diduduki oleh tentara Khmer Merah, ditembakin mati.

Keluarga Loung tiba di desa tempat saudara laki-laki ayahnya tinggal. Mereka memang petani. Dan mereka harus berpura-pura jaadi petani. Perlahan, Loung mulai belajar bagaimana negaranya berubah pada masa pemerintahan yang baru ini.

Sekolah dibubarkan. Tidak ada sekolah. Sekolahan dianggap sebagai lembaga yang merusak jiwa yang mengajarkan ide-ide barat.

Pertama-tama, semua guru dan dokter dieksekusi mati oleh Khmer Merah. Mereka semua dianggap orang-orang rusak yang bisa mengobarkan pemberontakan. Kemudian semua ilmuwan, pegawai negeri, biksu, pendeta, dan aktor. Nantinya, bahkan semua orang yang berkacamata juga ikut dieksekusi dengan alasan, terlalu pintar dan dapat mengobarkan pemberontakan. Maka gak heran juga kalau orang-orang pada pura-pura gak bisa baca.

Konon, dari buku Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World, di seluruh Kamboja setelah Khmer Merah jatuh, hanya tersisa 32 dokter yang selamat. Satu diantaranya dokter gigi. Semua rumah sakit, bukan hanya ditutup, tapi juga dihancurkan. Dan begitu juga semua alat-alat kedokteran.

Salah satu dokter yang selamat berkisah bahwa saat terjadi pembantaian, beliau memang sedang berada di rumah sakit. Tapi bukan sebagai dokter, melainkan sebagai pasien yang dirawat inap. Jadi dia selamat. Hanya diusir keluar saja.

Sementara seluruh sekolah di Kamboja, beralih fungsi sebagai penjara dan ruang-ruang penyiksaan.

Pendidikan bukan satu-satunya yang dimusnahkan oleh rezim Khmer Merah yang menganggap bahwa menjadi petani adalah yang terbaik, tetapi juga sistem perekonomian. Uang tidak lagi berlaku. Sekarang, sesuai dengan ajaran komunis, apapun yang mereka dapatkan, harus mereka bagi sama-sama. Pakaian pun semuanya sama. Bentuk dan model, juga warnanya sama yaitu hitam. Lelaki dan perempuan.

Mengenai berbagi sama-sama tentu saja itu teori saja, karena kenyataannya, seberat apapun para petani bekerja, dibawah ancungan senjata tentunya, sebanyak apapun panen mereka, toh jatah makan mereka justru semakin sedikit saja. Bahkan hanya tinggal sup nasi saja, yaitu semacam bubur yang jauh lebih encer hingga hanya tersisa belasan butir nasi di setiap mangkoknya yang dibagikan sekali dalam sehari. Kematian merajalela bukan hanya di kamp-kamp kosentrasi, tapi juga di seluruh pedesaan. Karena kelaparan, penyakit berat atau ringan yang semakin menyebar dengan tidak adanya dokter serta obat-obatan, dan terutama, keracunan makanan.

Lapar membuat semua orang terpaksa memakan apapun yang mereka temukan di atas dan bawah tanah. Termasuk hewan-hewan atau tumbuhan beracun dan bahkan, daging kerabat mereka sendiri yang sudah mati dan membusuk.

Asia Tenggara. Suatu wilayah di muka bumi ini yang sangat subur dengan tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanan melimpah tapi rakyatnya mati kelaparan.

Awalnya, keluarga Loung masih bisa hidup bersama-sama. Sepahit apapun, mereka tetap bersama. Namun penculikan-penculikan mulai terjadi. Sang ayah berencana untuk mencerai beraikan keluarga. Dengan begitu, mereka tidak akan dibunuh semua bersama-sama. Sang ayah tahu, dia tidak akan bisa menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang perwira militer selamanya. Cepat atau lambat, pasti akan ketahuan.

Tetapi orang yang pertama meninggal dunia yaitu Keav (14 tahun) justru karena sakit parah. Dan Keav bahkan tidak sempat bertemu keluarganya. Dia hanya terkapar saja dan mati sendirian. Setelah meninggal, jenazahnya langsung dibuang begitu saja. Keluarganya tidak dapat menemukannya diantara tumpukan mayat lainnya.

Perkosaan terhadap perempuan muda semakin banyak yang membuat Meng (18 tahun), kakak lelaki sulung Loung segera dinikahkan dengan tetangganya. Orangtua sang tetangga takut anaknya akan diperkosa sampai mati oleh para tentara, kemudian mereka beserta Khuoy (16 Tahun), dikirim oleh tentara ke kamp pekerja. Tenaga mereka diperas habis-habisan di sana.

Tinggal 6 orang yang bersama-sama, dan terus berkurang. Pada suatu hari, Sang ayah dipanggil dan tidak pernah kembali lagi. Mungkin dibunuh, atau disiksa sampai mati, bagaimanapun sang ibu pun menjalankan rencana yang sebelumnya disusun oleh suaminya, yaitu mengusir anak-anaknya pergi. Dengan tamparan dan teriakan bahwa dia, Sang Ibu, sudah tidak mau mengurus anak-anaknya, dan kemudian mendorong mereka keluar dari rumahnya.

Kim (10 tahun), Chou (8 tahun), Loung (5 tahun) berjalan bertiga selama beberapa waktu sampai di suatu tempat saat Kim pun mengusir kedua adiknya. Mereka bertiga berpencar sana kemari. Loung tiba disebuah desa, mengaku-ngaku sebagai anak petani yatim piatu (sesuai dengan cerita yang dikarang oleh Kim), kemudian masuk ke sebuah kamp pelatihan tentara anak-anak.

Sang ibu yang tertinggal hanya dengan puteri bungsunya yaitu Geak (3 tahun), akhirnya dieksekusi juga. Persis seperti yang dikhawatirkan ayahnya sebelumnya. Karena jika salah satu anggota keluarga di eksekusi, maka seluruh anggota keluarga itupun nanti akan dieksekusi juga. Itu dilakukan untuk menghindari dendam kepada Khmer Merah. Dan itulah alasan kenapa Sang Ibu mengusir anak-anaknya dari rumah.

Loung pun benar-benar menjadi yatim piatu, sendirian dan berjuang demi mempertahankan hidupnya sendiri. Hari demi hari. Tiga tahun delapan bulan panjang masa kekuasaan rezim Khmer Merah yang menewaskan lebih dari 2 juta rakyat Kamboja, atau 3 juta kalau kata Totto-chan berdasarkan informasi dari seorang pejabat pemerintahan di sana.

9784770025326Seperti sebelumnya saya tuliskan, saya tidak sanggup menahan air mata saya sepanjang membaca buku ini. Mungkin karena kisah ini dituturkan oleh orang yang mengalaminya sendiri sehingga rasanya justru lebih dalam lagi. Saya pertama kali benar-benar membaca mengenai masa rezim Pol Pot di Kamboja adalah saat saya membaca buku Totto-Chan (Totto-chan udah jadi duta besar kemanusiaan, ya! Tiap kali saya bicara atau menulis tentang Totto-chan, kenapa sih orang selalu nyangka itu buku yang waktu dia anak kecil mulu! Lgh!). Beliau menulis tentang Kamboja hanya sekitar 15 halaman, tapi justru bagian di situlah salah satu yang paling saya ingat. Mungkin karena kedekatan budaya yang membuat saya melongo heran. Astaga, di Asia Tenggara ada yang seperti ini.

Yah, maafkan saya yang naif ini, deh. Saya selalu menyangka orang-orang yang bisa sesadis itu di Afrika sana, atau Cina masa lalu. Lagian apa sih yang kita tahu mengenai genosida selain Yahudi di Jerman? Kan itu dowang yang rajin dibikin film?

Eniwey, saya ‘menemukan’ buku ini pada tumpukan buku yang dijual murah di depan Gramedia Matraman dengan harga Rp. 20.000,00 saja. Apakah buku ini tidak laku? Sedih juga, ya…

Author Loung Ung
Cover artist Loung Ung, Mary Schuck
Country United States
Language English
Genre memoir
Publisher HarperCollins
Publication date 2000
Media type Print (paperback)
Pages 238 p.
ISBN 0-06-093138-8
OCLC Number 45831904

One thought on “First They Killed My Father

  1. Ping-balik: Lompatan Jauh ke Depan | Teacher's Notebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s