Guru dalam Buku dan Film: Samirin (Orang-Orang Tran)

IMGP0179Karena kenyataannya, pemerintah yang membayar gaji, bagaimanapun kecilnya masih berhak untuk sewenang-wenang memindahkan.
Alangkah tidak enaknya bekerja di bawah kekuasaan orang lain. Baru kali itulah dia merasakan beda besar antara menjadi pembikin tahu dan guru pemerintah di satu pojok terpencil.
(Nh. Dini, Orang-Orang Tran)

Kisah dibuka saat Samirin sedang ikut berjubelan di Dinas Tenaga Kerja. Dia baru saja lulus sekolah guru (SPG), dan sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Kebetulan pemerintah membuka lowongan yang belum apa-apa, Samirin sudah kehilangan semangat duluan. Peminatnya terlalu banyak sedangkan lowongannya tak seberapa.

Dihitung-hitung, dengan jumlah dan tentu saja pasti adanya tempat-tempat yang sudah ‘dipesan’ duluan oleh yang punya kenalan ‘orang dalam’, Samirin tahu bahwa dia tidak semestinya banyak berharap. Memang, Samirin punya kerabat yang bisa dikatakan ‘orang dalam’ juga, tapi toh dia menginginkan pekerjaannya yang pertama kalinya ini adalah pekerjaan yang memang selayaknya dia raih sendiri. Tidak dengan bantuan orang lain. Samirin pulang.

Ayahnya marah, tentu saja. Bagi ayahnya, Samirin ini tidak masuk akal. Memang apa salahnya dibantu oleh kerabat? Bukankan itu sudah semestinya? Bahwa kita hidup harus saling tolong menolong? Apalagi dengan saudara sendiri. Dengan orang satu suku saja kita musti saling bantu. Nanti, pada saatnya, jika dia butuh pertolongan, kita pun kita akan bantu sebisa kita. Sama-sama, kata ayahnya. Tapi Samirin bersikeras.

Pertikaian anak dan ayah ini terus memuncak dan mengakibatkan Samirin sering pergi dari rumah. Tidak ke mana-mana, hanya ke rumah Marsi, kekasihnya, yang kemudian dinikahinya. Ayah Marsi adalah pembuat tahu. Bagi ayah Marsi, kenyataan bahwa Samirin lulusan sekolah guru yang menganggur tidak memberatkannya. Samirin telah menjadi bagian keluarganya, dan banyak membantunya.

Yaaa, walaupun tidak secara resmi, sebenarnya Samirin dapat dikatakan bekerja kepada mertuanya. Banyak ide-idenya yang diterapkan membuat usaha mertuanya semakin besar. Beberapa saat kemudian, saat Marsi baru saja melahirkan anak pertama mereka, Samirin mendengar bahwa ada lowongan untuk guru yang kembali dibuka. Tapi tidak di desa mereka, bahkan tidak di pulau Jawa. Di Kalimantan. Banyak sekolah di tempat-tempat transmigrasi yang baru saja di buka dan sangat membutuhkan guru. Sebagai lulusan sekolah guru, dan sebagai orang muda, Samirin merasa tertantang. Maka dia pun melamar dan ditempatkan di Kintap, sebuah desa yang terletak jauh di pelosok Kalimantan Selatan.

Samirin berangkat dengan bekal yang seadanya. Dia tahu bahwa kehidupannya akan berat. Dia tidak datang untuk kemudian meneruskan apa yang sudah dimulai oleh orang lain, justru dialah yang akan memulainya. Desa pemukiman transmigran yang dia tempati baru saja selesai dibangun, dan begitu pula sekolah. Sebuah rumah sederhana, dengan tanpa perlengkapan atau peralatan apapun, serta sebidang tanah yang sama sekali belum diapa-apakan menjadi hak dan sumber penghidupannya. Dan dimulai sudah, pergulatannya untuk menaklukan sebidang tanah agar kemudian dapat menjadi sumber makan bagi diri dan keluarganya.

Tiap hari, setelah kegiatan sekolah selesai, Samirin harus bertarung dengan terik matahari, hujan dan kekeringan. Begitupun pada malam ketika hewan pengganggu yang sering muncul dan merusak ladang karena lapar akibat hutan mereka diambil alih manusia. Belum lagi hama dan penyakit tanaman, juga, tentu saja, penyakit manusia yang tidak dikenalnya di tanah Jawa.

Tidak gampang menerapkan peraturan-peraturan yang dibikin di belakang meja di kantor pusat. Para penyusunnya kebanyakkan adalah orang-orang pembuat teori. Jarang yang pernah turun ke lapangan, apalagi mengalami mengajar di pelosok yang jauh dari hubungan ke manapun.
(Nh. Dini, Orang-Orang Tran)

Orang-Orang Tran adalah buku ketiga Nh. Dini yang saya baca yang menghadirkan tokoh utama berprofesi guru, setelah Pertemuan Dua Hati dan Jalan Bandungan, ini juga buku pertama beliau yang saya baca dengan tokoh utama seorang pria.

Sebelum adanya program Indonesia Mengajar, ternyata sudah ada program guru transmigrasi ini. Saya baru tahu. Dan memang saya banyak baru tahu mengenai seluk beluk program pemerintah yang konon sudah ada sejak jaman pemerintahan Belanda di Indonesia ini. Sama seperti kisah Laskar Pelangi, nampaknya persoalan pendidikan di negara ini seakan tidak bergerak. Banyak hal-hal yang dirasakan oleh Samirin toh saya rasakan juga saat ini. Salah satunya, ya, dari kalimat-kalimat yang saya kutipkan di atas.

Samirin mengisahkan bahwa dia sering diminta untuk ikut pertemuan di dinas terdekat, tapi seakan dinas itu ada hanya untuk mendengarkan saja. Itu pun kalau memang benar mendengarkan. Tindak lanjutnya? Hampir tidak ada. Rapat di dinas hanya ngabisin duit saja. Karena sekolah yang harus membiayai perjalanan guru (Bayangin kalau perjalanan ini meliputi perjalanan puluhan kilometer menembus hutan dan rawa) , belum lagi buang-buang waktunya. Guru yang seharusnya bisa mengurusi anak-anak musti duduk diam mendengarkan ‘orang dinas’ yang seru cerita kadang tidak jelas apa juntrungannya.

Soalnya bapak-bapak dan ibu-ibu berbaju cokelat ini selalu yakin mereka yang paling banyak perngalamannya, cuy! Jadi kita sih diharapkan dengerin ajalah.

Jika sekolah tidak mengirimkan guru, atau tidak mau ikutan rapat, nanti sekolah itu ‘ditandain’ oleh mereka yang mau tidak mau, sekolah memang butuh mereka.

Ebuset, buku ini diterbitkan pertama kali tahun 1985! Sampe sekarang ternyata tetep gini-gini aja, ya, hehehe..

Kalau sekarang, tambah minta sumbangan, Bu Dini! Sering setiap habis rapat, mereka minta sumbangan. Gak tau buat apa. Ada-ada sajalah. Sampai-sampai, ada beberapa orang di sono, yang tiap kali saya lihat mukanya, atau namanya, pasti pikiran saya langsung ke dompet saya, deh! Buset! Saya sih gak mau jadi orang yang diingat orang lain sebagai tukang palak kayak gitu. Bisa, ya punya muka tembok dan bahkan bangga dengan seragam cokelatnya itu.

Sigh

Kehidupan bagi orang-orang itu terbatas pada kelumrahan. Biasa saja. Nah, pertanian juga sama dengan hal-hal lain. Harus biasa saja. Artinya, untuk kehidupan yang lumrah saja. Tidak untuk besar-besaran. Secukupnya. Orang Bugis dan Banjar mengembara, berlayar, menggarap sawah. Lalu pindah lagi. Pertanian bukan untuk eksploitasi, melainkan untuk kebutuhan saja. Sebab itu mereka diberi hasil oleh Tuhan.
(Nh. Dini, Orang-Orang Tran)

Sebelumnya di sini, saya menuliskan bahwa saya kurang suka, atau lebih tepatnya, sering bosan, dengan tulisan Ibu Dini yang sabar yang seakan-akan tidak beranjak ke mana-mana. Sebelumnya lagi, saya membayangkan bahwa Ibu Dini itu pasti orangnya cerewet sekali. Apa-apa dikomentarin.

Saya jadi membayangkan Ibu Dini seperti Jane Marple si perawan tua tokoh detective-nya Agatha Christie itu. Miss Marple juga sama, apa-apa dikomentarin. Padahal cuma hal-hal yang kecil saja. Tapi anehnya, saya toh gak bisa beranjak dari buku-bukunya Agatha Christie yang dituturkan oleh Miss Marple. Sama dengan saya pun tidak pernah dapat beranjak dari buku-bukunya Ibu Dini. Kebanyakan dari buku beliau adalah buku dengan satu helaan nafas buat saya. Maksudnya, ya, walaupun kadang bosen dan suka juga ngerasa kayak lagi dinasehatin sama ibu saya sendiri yang kalo udah ngoceh berasa ceramah di masjid itu (Bener deh ibu saya tuh cerewet banget!), tetep aja gak bisalah diletakkan. Sampai halaman terakhir.

Nh. Dini (ditengah) bersama siswa-siswa SMA

Nh. Dini (ditengah) bersama siswa-siswa SMA

Saat membaca buku ini, saya mulai mengerti bahwa tulisan-tulisan Ibu Dini bukan berasal dari kecerewetan, tapi ketelatenan dan kesabaran. Di setiap kalimat yang beliau tulis seperti itu. Tidak terburu-buru, mengalir, dan kotemplatif. Saya suka sekali buku beliau yang ini. Dan mengingat bahwa buku ini saya baca setelah seri cerita kenangan beliau berturut-turut La Grande Borne ke Argenteuil lanjut ke Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang, sungguh rasanya saya lega, cuy! Akhirnya lepas dari konflik rumah tangga yang melelahkan pikiran, huehehe…

Tanpa terencana sebelumnya, sayamembaca buku Orang-Orang Tran ini tepat selepas saya membaca cerita kenangan Nh. Dini yang Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang. Kebetulan sekali. Karena pada buku Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang ini dikisahkan tentang pengalaman Ibu Dini di dalam hutan di Kalimantan dan menulis buku yang berjudul Orang-Orang Tran. Lalu saya baca bukunya, hehe.. Buku ini pun saya beli bersamaan tanpa saya tahu sebelumnya bahwa dua kisah ini jadi seakan saling melengkapi.

Baidewei, saya membeli buku ini dari lapak toko buku bekas. Saya memang suka sekali keliling lapak buku bekas untuk mencari buku-buku yahud yang tidak ada di toko buku baru lagi. Sudah tidak terbit. Tapi ini buku keren. Mudah-mudahan, suatu saat nanti akan diterbitkan lagi. Seperti Pertemuan Dua Hati yang sekarang sudah diterbitkan lagi.

NB: Foto nyedot dari websitenya SMU 14, ya.

Judul : Orang-Orang Tran
Penulis: Nh. Dini (Nur Hayati Sri Hardini Siti Nukatin)
Penerbit : Sinar Harapan
Cetakan pertama: 1985
Tempat Terbit : Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s