Ibuku Mencintaiku Kurang dari Sebelumnya

220px-ThegodofsmallthingsKalimat yang saya jadikan judul postingan ini menyakitkan, bukan?

Bagaimana jika kalimat itu merasuk ke dalam hati seorang anak kecil.

Bagaimanapun, Anda tidak penah tahu, sampai seberapa lama, atau besarnya dampak sebaris kata, sebuah kalimat yang Anda lontarkan kepada anak Anda.

‘Kau tahu apa yang terjadi jika kau menyakiti hati orang lain?’ tanya Ammu. ‘Bila kau sakiti orang lain, berarti kau tidak mencintainya sebanyak sebelumnya. Kata-katamu tadi sungguh tidak hati-hati. Kau membuat orang lain mencintaimu kurang dari sebelumnya.’

Kata-kata Ammu (Ibu) membuat Rahel merasa dingin.

Ammu mencintainya kurang dari sebelumnya.

***

Okey, tidak adil memang jika saya hanya mengutip sedikit dari keseluruhan kisah. Maka saya akan menuliskan sedikit lebih banyak
Pernah membaca The God of Small Things karya Arundhati Roy? Itu buku bagus. Saya membacanya pertama kali saat kuliah, kemudian bukunya hilang susah dapet lagi, eh tapi kemudian dapet lagi (Ya, ampun. Mungkin memang dibikin aja postingan tentang buku-yang-hilang-susah-didapat-eh-ketemu-lagi itu, hahaha…)

Hanya cuplikan saja.

The God of Small Things itu jenis buku yang kita harus kosentrasi penuh saat membacanya. Bukan hanya dianggap ‘terlalu mengenyangkan’, tapi menurut saya, yang paling menarik dan paling bikin kita harus sabar adalah karena buku ini memakai alur spiral. Berputar-putar. Jadi kisah tidak terus maju, atau mundur. Karena itu juga, bagi saya, bisa dinikmati dengan asiknya pada tiap bab dan halamannya.

Kisah berputar pada sebuah keluarga kristen India, yang saya kira sebelumnya merupakan bagian dari masyarakat India yang sudah tidak menganut kasta atau pandangan yang sempit seperti itu. Ternyata, mungkin, masyarakat India baik kristen maupun muslim, walaupun tidak menganut kasta, tapi tetap masih banyak yang menganut pandangan sempit: bahwa derajat manusia dipisahkan berdasarkan keturunan.

Jika Anda kasta terendah, maka bahkan Anda pun diharuskan untuk merangkak mundur sambil mengelap bekas jejak kaki Anda sendiri agar orang-orang lain dari kasta yang lebih tinggi tidak dikotori oleh bekas jejak Anda.

Okey, kembali ke keluarga India ini yang merupakan keluarga yang cukup terpandang kaya raya. Sang kakek, yang kemudian almarhum, adalah mantan ahli serangga negara. Sang Nenek yang piawai membuat selai dan manisan mendirikan pabrik selepas suaminya pensiun. Langsung sukses. Sebab manisan buatannya memang terkenal enak! Sang suami yang merasa tersaingi membalasnya dengan cara memukuli istrinya dengan jambangan dari kuningan setiap hari. Dan ini sebenernya biasa dan dianggap (oleh istrinya)  lumrah. Hanya setelah pabrik berdiri, instensitas pemukulan ini jadi semakin sering.

Suami istri ini memiliki dua anak: Chacko dan Ammu. Lelaki dan perempuan. Dua-duanya menghadapi pernikahan yang gagal.
Chacko, sebagai anak lelaki, selalu dimenangkan oleh orangtuanya. Khususnya ibunya sendiri. Dia sempat mengenyam pendidikan berkualitas di Oxford University dan menikah dengan perempuan Inggris, lalu bercerai. Chacko pulang ke India dan mengambil alih pabrik setelah ayahnya meninggal dunia.

Walaupun yang mendirikan dan bekerja mati-matian sang ibu, tapi bagi masyarakat India, perempuan tidak memiliki hak untuk mewarisi. Jadi pabrik itu dianggap milik suaminya, dan kemudian langsung menjadi milik Chacko. Perempuan hanyalah ‘dipelihara’ oleh laki-laki. Ditanggung hidupnya.

Ammu, seperti perempuan India lain pada masanya, selalu dinomorduakan. Khususnya masalah pendidikan. Tidak boleh melanjutkan sekolah, dia hanya bisa menunggu dilamar orang. Sambil membantu pekerjaan rumah tangga ibunya. Kemudian dia menikah dengan seorang lelaki yang hanya bisa mabuk-mabukan, memukulinya, dan memberikan sepasang anak kembar: Rahel (perempuan) dan Estha (Lelaki). Ammu kemudian kabur (bercerai) dari rumah, dan pulang. Sama seperti dulu, katanya. Namun kali ini, dengan dua anak dan tanpa ada lagi mimpi.

Pada suatu hari, keluarga India yang nampak dari luar sebagai keluarga yang sangat beruntung (karena berkecukupan) pergi untuk menonton film The Sound of Music. Ini sudah ketiga kalinya mereka menonton. Sudah cukup hafal. Seorang nenek, satu lelaki dewasa, satu perempuan dewasa, dan sepasang anak kembar pergi bersama memang terlihat seakan mereka satu keluarga utuh yang sejahtera dan bahagia.

Rahel dan Estha, sebagai anak kembar, tentu saja sering dan selalu berbagai perasaan dan kenangan, walaupun sebagai saudara juga sering terlibat perkelahian yang membuat kepala ibu mereka berdenyut-denyut keras. Terkadang, kesabaran ibu mereka sampai pula pada batasnya. Seperti saat itu, saat mereka berdua dipaksa untuk duduk terpisah di dalam mobil maupun bioskop.

Estha menyanyi, saat film berlangsung. Mengikuti para biarawati (di film) yang bernyanyi. Ini bikin semua orang di dalam bioskop  kesal dan marah-marah. Ammu menyuruh Estha diam, tapi dia nyanyi lagi. Kemudian Estha bertanya:

‘Kalau saya keluar ruangan dan menyanyi di loby, lalu balik lagi, boleh tidak?’

Ibunya bilang boleh. Maka Estha pun keluar, duduk di lobi, dan menyanyi sendirian.

Bapak-bapak penjual minuman terbangun kaget. Awalnya kesal, tapi lalu meminta Estha untuk mendekat kepadanya. Ditanya-tanya, kemudian dia menawarkan Estha minuman dingin.

Estha bilang mau.

Sang penjual kemudian meletakan minuman dingin di tangan kanan Estha, dan penisnya di tangan kiri Estha. Tangan si penjual menangkup diatas tangan kiri Estha sambil menggerakannya. Dan, yah, saya kira Anda sudah bisa mengerti apa kisah lanjutannya.

Setelah selesai, Estha mengembalikan botol minuman sambil tangan kirinya yang sudah basah dan lengket diseka dengan lap oleh sang penjual. Sang penjual masih bicara-bicara manis. Estha kembali ke dalam ruangan sambil tangan kanannya memegangi tangan kirinya. Dia duduk diam saja di samping ibunya.

‘Ibu,’ katanya kemudian.

‘Apa lagi SEKARANG?’ tanya ibunya. Sudah sewot karena anak lelakinya ini bikin ulah melulu.

‘Aku pengen muntah.’

Ammu mengantar anak lelakinya ini ke kamar mandi. Kembali melewati si penjual minuman. Estha yang ketakutan (tanpa benar-benar mengerti kenapa dia merasa dingin) hanya bisa menunduk cepat-cepat masuk kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, dia pun harus kembali melewati si penjual minuman yang tersenyum manis kepadanya dan ibunya.

Percayalah, sebuah senyum yang manis, terkadang lebih menusuk daripada kata makian.

Penjual minuman: Anak manis. Dia menyanyi dengan sangat baik.

Ammu: Dia anak saya.

Penjual minuman: Betulkah itu? Anda masih sangat muda.

Nah, bayangkan bagaimana perasaan Estha saat harus berdiri disamping ibunya yang sedang beramah-tamah dengan orang yang baru saja melakukan ‘itu’ kepadanya.

Tentu saja ibunya kan tidak tahu. Karena Estha tidak bilang. Dan Estha tidak bilang karena, mungkin, dia tidak sepenuhnya mengerti apa yang baru saja terjadi.

Ammu: Ia kurang enak badan. Mungkin segelas minuman dingin akan membuatnya pulih.

Oh, tidaaaaaak….

Penjual minuman: Pasti. Pastipastipasti….

Estha: Tidak terimakasih (sambil memandang Ammu)

Saya membayangkan Estha. Anak itu pasti dalam hati berdoa mati-matian agar ibunya berhenti beramah-tamah dengan penjual minuman dan pergi. Bawa Estha pergi jauh dari tempat itu. Dan tidak pernah kembali lagi.

Penjual minuman: Dan anda sendiri? Coca Cola? Es Krim Mawar?

Ammu: Saya tidak ingin minum, terimakasih.

Penjual minuman: Nih (menyodorkan permen). Ini untuk si kecil.

Estha: Tidak terimakasih (memandang ibunya)

Ammu: Ambilah! Tidak sopan menolak pemberian orang!

Estha terpaksa mengulurkan tangan untuk mengambil permen.

Ammu: Bilang terimakasih! (Kesal karena melihat anaknya tidak sopan)

Estha: Terimakasih.

Terimakasih buat apa? Buat permen dan cairan putih telur yang lengket yang keluar dari penisnya itu?

(Lah, kenapa gua jadi yang ikutan sewot, ya?)

Ibunya masih terus mengobrol dengan bapak-bapak penjual minuman beberapa saat. Tentu bagi Estha, beberapa saat ini jadi lamaaaa sekali.
Kemudian….

Ammu: Estha, tinggalah di sini bersama paman. Ibu mau menjemput Rahel.

*JREEENG!!!!*

Penjual minuman: Kemarilah. Kemarilah dan duduk bersamaku di sini.

Estha mendadak melawan: TIDAK! TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU! AKU MAU SAMA AMMU!

Ammu yang kaget lalu meminta maaf kepada penjual minuman. Mereka masuk, kemudian keluar lagi bersama seluruh keluarga kecil. Sekali lagi musti melewati penjual minuman.

Penjual minuman tersenyum ramah kepada mereka.

Rahel, kembaran Estha, langsung ikut merasakan, walau tidak sepenuhnya mengerti. Dia hanya tahu bahwa si penjual minuman telah menyakiti kembarannya. Rahel tidak suka penjual minuman itu. Rahel benci penjual minuman itu.

Sementara ibunya, Ammu, sedang membicarakan betapa baik hatinya penjual minuman itu.

Berbeda dengan Estha yang cenderung pendiam, Rahel yang lebih berani langsung berkata sengit dan marah kepada ibunya:

‘Ya, sudah! Kenapa ibu tidak menikah saja dengan penjual minuman itu!’

Ibunya kaget dan berkata:

‘Kau tahu apa yang terjadi jika kau menyakiti hati orang lain?’ tanya Ammu. ‘Bila kau sakiti orang lain, berarti kau tidak mencintainya sebanyak sebelumnya. Kata-katamu tadi sungguh tidak hati-hati. Kau membuat orang lain mencintaimu kurang dari sebelumnya.’

Kata-kata Ammu membuat Rahel merasa dingin.

Ammu mencintainya kurang dari sebelumnya.

***

Well, saya kira, Anda mengerti apa yang coba saya sampaikan dengan mengisahkan kembali cuplikan buku tersebut, kan?

Author Arundhati Roy
Cover artist Sanjeev Saith
Country India
Language English
Publisher IndiaInk, India
Publication date 1997
Media type Print (hardback & paperback)
ISBN 0-06-097749-3
OCLC Number 37864514

4 thoughts on “Ibuku Mencintaiku Kurang dari Sebelumnya

  1. Dan setelah baca review ini, saya positif penasaran bukunya gimana.
    Di Gramedia beneran gak ada, ya?😦

    Ngomong-ngomong, karena gak sengaja (suatu hari) saya nemu blog ini di link oleh blog seorang teman, saya buka dan ketagihan baca semua postingannya.
    Salam kenal ya, Ibu Guru.

  2. Coba cari di toko buku online. Saya mendapatkan kembali di bukabuku.com
    Penerbit di Indonesia-nya Yayasan Obor Indonesia. Harganya sekitar Rp. 70.000,-🙂

  3. Saya juga suka pengarang dari India, terutama karena daddy saya. Pada umumnya mereka masih ‘sangat kuat’ mengisahkan kultur masyarakatnya, terutama di pinggiran kota dan town. Tapi saya kurang suka buku terjemahan, karena kadangkala ‘rasa’ nya beda dari aslinya.

  4. Ping-balik: Birokrat, Politisi, Pribumi, Aktris, Turis, dan Pencuri Hape | Teacher's Notebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s