Mrs. Travers, Walt, dan Mary

Tom Hanks sebagai Walt Disney dan Emma Thompson sebagai P.L. Travers

Tom Hanks sebagai Walt Disney dan Emma Thompson sebagai P.L. Travers

Apa kau pernah ke Kansas, Mrs. Travers? Apa kau tahu Missouri? Disana amat dingin saat musim dingin. Teramat dingin. Dan ayahku, Elias Disney, dia memiliki jalur langganan surat kabar disana. Ribuan surat kabar dua kali setiap hari. Edisi pagi dan sore. Ayahku adalah pebisnis yang tangguh. Tipikal laki-laki yang menghemat setiap penny yang dia bisa. Jadi dia tidak pernah menggaji karyawan. Tidak, tidak, tidak, dia menggunakan aku dan abangku Roy. Aku berumur 8 tahun saat itu. Dan seperti kubilang, musim dingin sangat keras.

Ayahku tidak percaya dengan sepatu baru kecuali sepatu yang lama sudah bolong-bolong dan tidak dapat dipakai lagi. Jujur saja Mrs. Travers, salju terkadang menumpuk lebih tinggi dari kepalaku. Kami mendorong maju seperti karamel. Dingin dan basah merembes masuk pakaian dan sepatu kami. Kulit terkelupas dari wajah kami. Kadang kutemukan diriku terbaring dalam salju. Terbangun begitu saja karena nampaknya aku baru sadar dari pingsan. Kemudian, saatnya sekolah ketika aku sudah terlalu kedinginan dan basah untuk menjawab soal-soal dan sebagainya. Setelah itu kembali ke salju saat aku harus tiba di rumah sebelum gelap.

Ibu menyuapi kami makan malam dan saatnya keluar rumah untuk melakukannya lagi mengantar edisi koran sore. ‘Kau harus segera, Walt, antarkan koran ke setiap rumah sebelum malam, sebelum ayah akan kehilangan emosinya lagi dan memukulimu dengan ikat pinggang lagi, Nak.’

Aku…aku tidak menceritakan hal ini agar kau sedih Mrs. Travers. Aku mencintai hidupku. Aku menganggapnya sebagai keajaiban. Aku sayang ayahku, menurutku dia orang yang luar biasa. Tapi terkadang aku memikirkan anak 8 tahun itu yang mengantarkan koran ditengah salju dan ayahnya dengan ikat pinggang….

Dan aku sangat lelah…

Mrs. Travers, aku kelelahan untuk terus mengenangnya seperti itu..

Tidakkah kau lelah juga?

Walt Disney

Sudah menonton film Saving Mr. Banks? Film tersebut berkisah tentang proses penyetujuan kisah Mary Poppins untuk diadaptasi menjadi film layar lebar oleh Walt Disney yang ternyata cukup pelik juga.

Tahu Mary Poppins?

Saya tahu nama besar Mary Poppin dan itu hanya karena di beberapa film (British) yang saya saksikan sempat menyinggung tentang beliau. Hanya itu saja. Bahwa Mary Poppins adalah seorang nanny yang punya payung ajaib yang bisa membawanya terbang. Selanjutnya, bayangan tentang Mary Poppin tercampur aduk antara Nanny McPhee dan Penguin, hehe…

Soalnya Mary Poppin kan bawa-bawa payung.

Payung ajaib malahan.

Dua hal yang bikin saya ngebet nonton ilm ini adalah Walt Disney dan Emma Thompson. Nama pertama adalah salah satu tokoh yang paling dihormati orang dewasa sekaligus disayang anak-anak di seluruh dunia, nama yang kedua adalah aktris fave saya nomor dua setelah Jodie Foster.

P.L. Travers (Helen Lyndon Goff)

P.L. Travers (Helen Lyndon Goff)

Emma Thompson memerankan P.L. Travers, nama pena dari Helen Lyndon Goff, sang penulis kisah-kisah Mary Poppin, seorang tokoh rekaan yang nampaknya sudah menjadi legenda. Namun, tentu saja, buat orang-orang angkatan saya, Mary Poppins sudah tidak lagi dikenal selain sekedar nama yang terkadang muncul pada suatu kisah. Segila apapun saya dengan karya sastra ataupun kisah-kisah klasik, saya toh tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kisahnya.

Saya kira kisahnya mungkin agak mirip dengan Nanny McPhee, yang lucunya pada film adaptasinya, penulis sekenario sekaligus pemeran utamanya ya the one and only Emma Thompson juga, hehe..

Nanny Mcphee, seperti sebutannya di depan, adalah seorang Nanny, atau pengasuh anak-anak . Seorang Nanny bukan semacam babysitter di kita yang tugasnya gak beda dari pembantu. Nanny adalah pengasuh anak. Itu artinya dia punya wewenang untuk mengatur dan mendisiplinkan anak yang diasuhnya. Jadi bukan dia yang melakukan segalanya sendiri.

Nanny McPhee juga ajaib. Dia selalu datang tiba-tiba saat siapapun di dalam keluarga tidak merasa membutuhkannya.

‘Saya datang saat kalian butuh saya namun tidak menginginkan saya. Saya akan pergi saat kalian menginginkan (keberadaan) saya, namun sudah tidak lagi membutuhkan saya.’

Nanny McPhee akan tiba dengan wajah yang buruk (bisulan atau kutilan dengan hidung bengkok gigi tonggos item-item) yang tentu saja akan bikin siapapun mual melihatnya. Namun wajah sang Nanny akan berubah saat anak-anak amburadul yang diawasinya berubah prilaku. Saat setiap anak sudah menjadi anak-anak yang baik, Sang Nanny ini pun menjelma menjadi perempuan yang cantik jelita, namun pada saat itu juga dia akan pergi tanpa berpamitan.

Waduh, jangan-jangan itu cewek sodaranya jelangkung. Pergi tak dijemput pulang tak diantar, hehe..

Kembali ke Mary Poppins yang….saya juga gak tahu sih gimana kisahnya *tepok jidat*

Sudah 20 tahun Walt Disney memohon kepada P.L. Travers untuk diperbolehkan mengadaptasi Mary Poppins ke layar lebar dan selama itu juga permohonannya digantung. Dua-duanya sama-sama keukeuh surekeuh! Bertahan dengan pendiriannya masing-masing. Keras kepala!

Walt pengen bikin film tentang Mary Poppins, Travers ogah Mary Poppins-nya dibikin film. Khusunya sama Walt Disney.

Titik!

Walt Disney

Walt Disney

Pasalnya gini, bagi Walt Disney, mengadaptasi Mary Poppins menjadi film adalah sebuah janji yang diucapkannya kepada puterinya. Sebagai seorang ayah, Walt bermaksud melakukan apapun…APAPUN, demi memenuhi janji kepada anaknya. Dan dia berniat menunggu dan terus menunggu. Gak peduli sudah 20 tahun dia memohon namun belum juga dipenuhi.

Bagi Travers, kisah Mary Poppins terlalu pribadi. Pada kisah tersebut tersimpan kenangan akan keluarganya, khususnya ayahnya, yang ingin dia lindungi mati-matian. Travers tidak mau kisah yang terlampau berharga baginya ini nanti akan diubek-ubek oleh Walt Disney dan berubah menjadi kartun musikal yang ceria.

Tuhan nampaknya mengabulkan doa Walt Disney.  Travers bangkrut. Buku-bukunya tidak laku lagi yang otomatis ini menyebabkan hak royalti kepadanya berhenti total. Demi menyelamatkan rumahnya, Travers pun terpaksa menandatangani perjanjian dengan Walt Disney dengan syarat bahwa film Mary Poppins harus live action, bukan kartun, tidak musikal, dan seluruh sekenario, maksudnya setiap kata dan kalimat, harus mendapat persetujuan dari Travers sendiri.

Kita sebagai pembaca sering sekali menganggap bahwa seorang penulis, otak intelektual di balik sebuah karya adalah cerminan dari tokohnya sendiri. Jadi jika ada kisah lucu melintir atau tokoh yang selengean, ya kita pikir penulisnya seperti itu. Padahal kan tidak selalu. Contohnya Agatha Christie yang Hercule Poirot-nya adalah manusia paling pede di kerajaan Inggrris, penulisnya justru tidak pernah mau diwawancara karena terlalu pemalu. Bahkan konon Agatha Christie kalau ditanya wartawan atau datang pada peluncuran buku, dia selalu memakai topi yang menutupi setengah mukanya atau tangannya tidak pernah dilepas dari genggaman suaminya karena saking deg-deg-gannya.

Travers pun begitu. Lupakan sosok Nanny yang bijaksana, Travers adalah salah satu perempuan paling ngejengkelin sejagat! Beliau adalah perempuan yang cerdas namun jutek, keras kepala,dan tempremental–Gua jadi inget seorang penulis terkenal di Indonesia, hehe—ditambah lagi kolot yang tentu saja bikin Walt Disney yang (digambarkan) penyabar dan berada di dunia yang dinamis penuh warna pun hampir kehabisan akal.

vlcsnap-2014-04-05-20h38m42s26

Merupakan kelemahan tapi sekaligus hal yang menarik di film ini adalah garis kisahnya melebar dan akhirnya menjadi tidak fokus ke sana atau kemari. Satu sisi tentang Walt yang berusaha menaklukan Travers, satu sisi lagi tentang masa lalu Travers sendiri. Awal mula dunia Mary Poppins berada. Dua-dua kisah, pada akhirnya jadi seakan serba nanggung.

She wrote a very good essay on sadness, because she was, in fact, a very sad woman. She’d had a very rough childhood, the alcoholism of her father being part of it and the attempted suicide of her mother being another part of it. I think that she spent her whole life in a state of fundamental inconsolability and hence got a lot done

Emma Thompson tentang P.L. Travers

Kisah kedua adalah cerita saat keluarga Helen Goff, nama asli dari P.L. Travers, terpaksa pindah karena sang kepala keluarga tidak pernah mampu mempertahankan pekerjaannya. Travers Goff adalah seorang laki-laki yang kecanduan minum (minuman keras) dan sangat tidak memiliki tanggung jawab. Tapi bagi puteri sulungnya yaitu Helen, sang ayah adalah ayah terbaik di seluruh dunia. Helen kecil tidak mengerti seberapa besar kehancuran keluarganya yang diakibatkan oleh sang ayah atau seberapa dalam ibunya terluka dan harus menderita setiap hari, setiap saat, di sisi sang kepala keluarga.

Sayangnya, kisah masa lalu Helen Goff ini malah jadi agak pincang. Sosok sang ayah yang konon adalah ayah juara satu di dunia bagi Helen sekaligus salah satu kepala keluarga terburuk sepanjang masa ini sangat tidak meyakinkan. Travers Goff tersisa sebagai hanya seorang laki-laki yang menyebalkan saja (mari kita salahkan Colin Farrel untuk ini), sementara sang ibu yang depresi kemudian mencoba bunuh diri diperlihatkan dengan cukup meyakinkan.

Mary Poppins

Mary Poppins

Beranjak dari flashback tersebut, saya pun mengerti kenapa P.L. Travers berusaha mati-matian melindungi Mary Poppins-nya. Karena Mary Poppins adalah sosok Superman baginya. Seseorang yang bisa menyelamatkan keluarganya. Walaupun Mary Poppins tidak pernah ada, namun dia selalu ada bagi Travers. Dan kini, dengan amat terpaksa, dia harus menyerahkan Marry Poppins ke tangan orang lain.

NB: P.L. Tavers meninggal dunia pada tanggal 3 April 1996 pada usia 96 tahun. Cucu dari putera adopsinya menyatakan bahwa dia ‘died loving no one and with no one loving her‘. Ya ampun sedih bangeeeet…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s