Jalan Jack the Ripper

urlThis work we perform, it does not serve to look backward. This city, wickedness will ever leave its You and I, we are not magicians, we cannot see through wallspores here, or into men’s minds. Dozens perished, but hundreds who were ill are now well once more.

We fight

We fight with all the skills we may muster. Beyond that, we may do no more.
Men say some are born evil, others blameless. The truth, in my experience, is simpler. They are mirrors, as evil, or as innocent as the world that gives life to them.

(Inspecture Reid)

Owh, saya sukaaaa serial BBC Ripper Street. Eits, jangan salah. Bukan karena nama besar Jack the Ripper yang diset jadi judul serial (walaupun emang itu juga sih yang bikin saya nonton seri ini pada awalnya), tapi lebih karena settingnya jaman Victoria. Gak tau saya suka aja kisah-kisah berseting jaman ini. Tentunya juga karena banyak nama besar sastra yang berasal dari zaman ini.

Okey, sesuai judulnya, Ripper Street memang ada hubungannya dengan serial killer Jack the Ripper, tapi cuman dikiiiiiit banget.

Kisah dimulai pada bulan April 1889, enam bulan sejak pembunuhan terakhir Jack the Ripper. Warga distrik Whitechappel di London Timur kembali kepada keseharian mereka yang penuh perjuangan. Bagaimana tidak, distrik ini adalah distrik ‘pembuangan sampah’ dimana sekitar 67 ribu warganya yang miskin bertahan dan berusaha mengais-ngais kehidupan.

Kita tahu pada masa itu, revolusi industri di eropa memperlihatkan setengah wajahnya yang buruk rupa. Munculnya golongan orang-orang kaya baru melahirkan kembarannya, yaitu kaum tertindas yang juga baru. Penemuan-penemuan progresif dalam bidang medis dan ilmu pengetahuan pun dibarengi dengan masuknya opium dari Chinna (yang ironisnya memang disuplai oleh kerajaan Inggris dari India ke China sebagai upaya tandingan sebagai barter atas tingginya harga teh cina yang digila-gilai penduduk Inggris) Nantinya, Opium akan diekstrak menjadi morfin dan kemudian heroin. Dua jenis kesenangan yang dianggap aman, bahkan dianjurkan, untuk kaum perempuan.

Yep, Morfin dan heroin saat itu dianggap sebagai kesenangan yang lebih feminin dibanding rokok dan alkohol.

Tau gak kalau pada saat itu, bahkan morfin merupakan campuran obat batuk! Bahkan ada semacam syrup yang diresepkan, dan dijual secara bebas di apotik, yang isinya morfin dan diperuntukkan untuk anak-anak yang gak bisa diam!

Yah, kita tahulah anak-anak itu kan mau ras-nya apa negaranya apa juga emang aja gak bisa diam dan terkadang bisa bikin gila orangtuanya. Nah, dengan dicekokin syrup morfin itu, dijamin anak-anak akan segera tenang setelahnya!

Lah, orang anaknya teler!

Baidewei, prilaku pengguna narkoba berbeda-beda, ya.. Kalo jenis psikotropika macam Amphetamine (sabu atau ekstasy) emang bikin orang jadi lasak, gelisah, gembira kayak orang baru dapet duit satu trilyun, gampang terpancing emosi, dan horny berat (makanya ada hubungan antara pecandu psikotropika dengan penyakit seksual). Nah, kalo jenis narkotik macam morphine, atau yang 10 kali lebih kuatnya yaitu heroine, pas teler ya cengo abis-abisan gitu. Perasaan pingin selalu menyendiri dan akan semakin menarik diri dari siapapun.

Zaman Victoria juga dianggap jaman dimulainya London kelebihan jumlah perempuan. Konon sampe sekarang perbandingan cewek dan laki di London adalah 4:1! Waduh, gimana dulu? Etapi jangan salah, itu London. Secara umum di dunia justru tren-nya laki lebih banyak dari cewek. Soalnya kan terjadi pembatasan kelahiran, baik dipaksa dari negara maupun emang orang sekarang gak pengen banyak punya anak. Dan sampai detik ini pun anak lelaki lebih dihargai dari anak perempuan.

Meledaknya populasi wanita pada saat itu, yang disinyalir karena memang faktanya bahwa bayi dan anak perempuan lebih mampu bertahan hidup di lingkungan yang tidak bersahabat dibanding bayi lelaki, ternyata tidak dibarengi dengan pengakuan atas kesejajaran kemampuan intelektual mereka. Hasilnya, perempuan-perempuan ini seakan terserak di jalanan.

Beruntung yang mendapatkan pekerjaan jadi buruh dan berkeluarga. Biar dibayar murah, namun memiliki kehidupan walau tidak layak. Agak beruntung jika memiliki paras lumayan dan body rada mendingan, bisa bekerja jadi wanita penghibur di rumah-rumah bordil yang harganya lebih mahal dan mendapatkan sedikit perlindungan. Paling kasihan sama perempuan yang terpaksa melacukan dirinya dan sekaligus tinggal di jalanan. Profil korban-korbannya si Jack tentunya.

Yah, jangankan perempuan yang biasa-biasa aja, yang jenius melintir macam Marie Curie aja saat itu tidak akan diakui dan tidak akan pernah mendapatkan nobel pertamanya di bidang kimia itu kalau suaminya, Pierre, tidak menulis surat ancaman ke lembaga nobel yang menyatakan bahwa dia menolak nobel kalau istrinya gak dapet juga! Dan Pierre memang punya alasan untuk itu. Karena sesungguhnya, orang yang berhasil memisahkan Radium itu emang bininya. Pierre adalah partner kerja dan pemilik laboratorium mereka.

Di salah satu kisah serial ini, ada cerita tentang seorang ahli mesin yang tewas. Ini menyebabkan perusahaan agak gempar. Bagaimana tidak, justru yang meninggal itu sang ahli, kepala proyek. Pihak perusahaan tidak pernah tahu bahwa sebenarnya pria yang tewas itu hanya seorang insinyur yang bodoh. Istrinya yang selama ini bekerja di balik layar karena pada saat itu, perempuan dianggap memiiki kecerdasan setengah dari laki-laki.

Drake, Reid, dan Jackson

Drake, Reid, dan Jackson

Kisah serial ini bersentral pada Detective Inspecture Edmund Reid, kepala polisi di distrik merah ini. Reid digambarkan sebagai seorang detektif yang bukan hanya handal, namun juga bersih. Maksudnya bersih dalam artian bahwa dia orang yang selalu berusaha membela kebenaran, tapi juga tetap mendengarkan hati nuraninya. Kisah ini tidak akan sehitam-putih CSI dimana yang jahat ya jahat. Tapi ada beberapa kisah (tiap episode berbeda) yang seakan kita diajak untuk bernegosiasi dengan hati kita. Bagaimana jika ada seorang anak 13 tahun membunuh orang dan harus dihukum gantung karena itu sementara dia adalah anak yatim piatu yang terjebak di dalam jaringan geng anak jalanan dimana pilihan tidak pernah ada untuknya?

Kasus-kasus semacam itu yang dikisahkan dalam seri ini. Tapi, ini serial yang dark. Reid sendiri punya beberapa masalah yang akhirnya mengganggu rumah tangganya, membuatnya berselingkuh, dan mengakibatkan kehancuran bagi istrinya.

Bersama dengan Edmund Reid adalah Detective Sergeant Bennet Drake. Mantan tentara yang kini bekerja untuk kepolisian. Seperti tampangnya dan latar belakangnya. Drake setangguh Reid, namun dalam hal fisik. Bisa dibilang juga, dia itu tukang pukulnya Reid. Sama seperti Reid, Drake pun punya masalahnya sendiri. Kemiskinannya menyebabkan dia akan berkali-kali tergoda untuk tidak lagi lurus, pun ditambah lagi dia musti jatuh cinta kepada salah satu pelacur yang merupakan primadona di rumah bordil tempatnya bekerja.

Long Susan dan Kapt. Jackson

Long Susan dan Kapt. Jackson

Melengkapi tim ini adalah Captain Homer Jackson dan istrinya, Long Susan. Jackson sebenarnya adalah dokter tentaranya amrik. Yah, macam Watson, lah. Tapi ini watsonnya beneran pinter walaupun acakadul. Gila aja tu orang kalo ada komponen kimia baru (serbuk atau cairan) ditemukan deket mayat, maen langsung telen aja! Parah banget slengeannya!

Jackson sih sebenernya ogah deketan sama polisi. Dia lebih seneng menikmati dirinya di rumahnya yang berupa rumah bordil yang dikelola oleh bini-nya yaitu Long Susan. Enak kan telentang males-malesan sepanjang hari dengan cewek-cewek berbodi yahud seliweran yang bisa dipakainya gratisan kapan saja (Yup, mereka adalah pasangan yang unik. Ribut mulu tapi saling cinta mati-matian). Cuman aja Insp Reid yang terus-terusan nongol ngegeret-geret dia meriksain mayat gitu. Dan seperti kata istrinya, kalau ogah berteman dengan polisi, lebih baik gak usah bikin polisi gak suka sama kita. Jadi kalau Reid nungul minta tolong, ya tolong aja jangan protes!

Jangan coba-coba menyakiti pekerja saya, ya!

Jangan coba-coba menyakiti pekerja saya, ya!

Tokoh Long Susan pada awalnya saya gak suka. Kayak yang nyebelin. Bayangin aja pemilik usaha rumah bordil! Tapi lama kelamaan, Long Susan menjadi figur yang menurut saya patut untuk dihormati. Alasan kenapa rumah bordilnya populer adalah karena para pelacur-pelacur yang punya pilihan (artinya ya kalau gak cantik pasti layanannya memuaskan dong) memilih untuk bekerja di rumahnya Long Susan. Itu semua karena sang pemiliknya ini, selain memberikan presentase yang jauh lebih tinggi dibanding rumah bordil lain, dia juga mampu menjaminkan pekerjanya. Long Susan akan berdiri membela cewek-ceweknya saat mereka berhadapan dengan tamu yang kasar dan menyakiti mereka. Dia juga akan berpihak kepada pekerjanya saat mereka harus berhadapan dengan hukum.

Selain tokoh-tokoh utama tersebut, ada juga tokoh-tokoh yang menurut saya minor. Seperti Emily, istrinya Reid, yang ketidakbahagiaannya dengan sang suami membawanya pergi meninggalkan rumah dan memilih lebih banyak tinggal di gereja bergabung dengan relawan kegiatan amal. Kemudian Rose, pelacur fave-nya Drake yang kepadanya Drake jatuh cinta.

Dari serial killer sampai menghadapi paniknya virus outbreak, saya kira memang yang menarik di serial ini adalah bagaimana kehidupan pada masa dan tempat itu.

Genre Drama
Mystery
Created by Richard Warlow
Written by Richard Warlow
Starring Matthew Macfadyen
Jerome Flynn
Adam Rothenberg
Theme music composer Dominik Scherrer
Composer(s) Dominik Scherrer
Country of origin United Kingdom
Original language(s) English
No. of series 2
No. of episodes 16 (List of episodes)
Production
Executive producer(s) Greg Brenman
Will Gould
Simon Vaughan
Andrew Lowe
Ed Guiney
Polly Hill
Producer(s) Stephen Smallwood
Katie McAleese
Location(s) Dublin, Ireland
Cinematography Julian Court
PJ Dillon
Peter Robertson
Camera setup Single-camera setup
Running time 58–60 minutes
Production company(s) Tiger Aspect Productions
Lookout Point
Distributor BBC Worldwide
Broadcast
Original channel BBC One
Picture format HDTV 1080i
Original run 30 December 2012 – 16 December 2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s