Sertifikasi Guru III: Saltum dan Penelitian Tindakan Kelas

Education is the ability to listen to almost anything without losing your temper or your self-confidence.

Robert Frost

Setelah lulus UKG (Ujian Kompetensi Guru) yang soalnya alihimgambreng susah itu, maka proses selanjutnya yang kita harus lewati adalah PLPG atau Pendidikan Latihan Profesi Guru.

Kita musti dikarantina, men!

Sepuluh hari!

Yah, kalo yang gua sih musti begitu! Ternyata gak se-Indonesia, detil pelaksanaannya sama. Dan, tau gak? Temen sekamar gua di hotel selama karantina itu adalah…Aung San Suu Kyi!

Aung San Suu Kyi yang kawe, maksudnya!

Lahir di Malang tinggalnya di Bogor, hehe…

Well… Diawali dengan datangnya surat (lagi) dari dinas pendidikan setempat dengan nama kita (lagi) tercantum di dalamnya. Isinya, pemberitahuan gitu bahwa kita lulus UKG dan terdaftar sebagai peserta PLPG.

Selanjutnya, silahkan lihat di sendiri di website.

Nah, sampai pada tahap ini, guru yang paling gak biasa sama komputer pun, mau gak mau, musti melek internet. Karena apa-apa adanya di internet.

Dan, saya kasih tahu, ya. Kita tuh sekarang udah gak gatek-gatek amat! Contohnya, sekarang kalau dinas pendidikan setempat mau ngasih pengumuman, udah jarang pisan pake surat.

Pake Facebook!

Jadi kalau dulu sekolah yang selalu update itu sekolah yang kepala sekolahnya sering-sering datang ke kantor dinas cengengesan bawa oleh-oleh, sekarang gak gitu-gitu amat lagi.

Walaupun ada aja sih oknum yang kalo operator sekolah nanya (via FB) ke operator dinas, dia jawab dengan ‘males ah jawab pertanyaan dari sekolah kamu soalnya waktu akhir tahun ajaran kemaren gak ngasih bingkisan buat saya’.

Tapi gak papa, ada operator-operator dari sekolah lain yang kebanyakan dengan senang hati mau berbagi informasi dan berbagi curhat.

*Hidup para operator sekolah*

Ngng, ada juga blog dinas pendidikan setempat!

Ada aplikasinya buat pemakai android!

Nah, gampang, kan?

Informasi resmi sudah dalam genggaman!

Tapi, mengenai listrik sering mati internet gak nyambung dan sinyal Insya Allah gak nyampe tetep jadi hambatan di sana-sini. Begitulah (masih) adanya…

Jadilah kami (saya dan Kirsan) sering-sering ngecek website resmi sertifikasi guru untuk tahu masuk di gelombang berapa dan tanggal berapa.

Penyelenggara PLPG ini adalah universitas-universitas setempat yang ditunjuk oleh pemerintah. Buat yang di kabupaten saya, penyelenggaranya ada dua universitas. Satu universitas negeri, yang satu universitas swasta. Dari yang saya baca-baca di internet, si penyelenggara universitas negeri itu banyak beritanya.

Pernah di demo habis-habisan gara-gara terlalu banyak guru yang gak lulus, etapi sistem penilaiannya gak jelas. Akhirnya pada ngulang, etapi gak jelas juga di bagian mana yang musti diulang. Akhirnya, tetep pada gak lulus dan tetep gak ada transparasi sistem penilaiannya gimana.

Ribet, kan?

Jadilah ketar-ketir juga mengenai hal ini. Haduh, jangan sampe dapet PLPG yang diselenggarakan oleh universitas yang itu.

Doa kami terkabul. Saya dan Kirsan sama-sama ikut PLPG dengan penyelenggara universtas yang satu lagi.

Beberapa hari sebelum lebaran (kita jadwal PLPG pas setelah lebaran), kami dikumpulkan di salah satu sekolah negeri. Karena saat itu saya sudah liburan sekolah, ya saya datanglah dengan pakaian bebas.

Habisnya di surat ditulis pakaian bebas.

Saya berdandan-lah seperti yang biasa nyamannya saya: kemeja lengan panjang dengan tangan digulung dikit, celana (untungnya) bahan (tapi) semi jeans gitu, kaos kaki plus sepatu lari kesayangan saya yang bercirikan logo centang, dan tas ransel.

Cengar-cengir.

Ketemu dengan rekan-rekan guru SD yang pada pake batik!

Mampus!

Si Kirsan juga pake batik!

Saya ngomel-ngomel ke Kirsan yang bilang-bilang ke saya kalau kita pake baju bebas.

Etapi, untungnya saya gak sendirian berdandan kayak gitu! Ada beberapa guru juga yang seperti saya.

Tapi bapak-bapak guru olahraga.

Mereka gak seruangan dengan saya.

Dan ada juga beberapa cewek yang dandanannya persis kayak saya. Bahkan mereka mah pake kaos gambar-gambar kartun Minion Donald Mickey gitu aja!

Guru-guru TK dari sekolah-sekolah national plus.

Maka gak heran kan pas saya masuk ruangan yang diperuntukan untuk guru-guru SD, semua mata memandang saya.

Pisss!!!!

*Nyengir dua jari*

Baru duduk dan ngobrol kanan kiri, masuplah bapak dosen. Panjang lebar ngasih-ngasih tau apa aja yang musti kita persiapkan. Tapi dengan seecepat kilat. Beneran. Kayaknya kalau The Flash ikutan kelas persiapan PLPG ini, The Flash aja ambek-ambekan, dah!

Besok pagi, kita musti datang lagi dan bawa proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang ditulis tangan!

Saya kasih tahu, ya. Itu proposal bisa lebih dari 10 halaman tebalnya. Kayak proposal skripsi gitu, lah!

Buat saya yang emang suka kegiatan-kegiatan akademik sih seneng-seneng aja bikinnya kecuali satu hal yang bikin saya minta-minta ampun pengen nangis….musti tulis tangan!

Ebuset! Tahun 2013 gini masa bikin proposal penelitian harus tulis tangan!!

Gempor, lah!!!

Dan besok pagi harus selesai?

‘Bapak-bapak dan ibu-ibu gak usah panik. Nanti pas PLPG-nya, bapak-bapak dan ibu-ibu harus bisa bikin proposal itu selama beberapa jam saja. Kalau tahun kemarin, dikasih tugas jam satu siang, harus sudah dikumpulkan jam empat sore. Jadi gak usah paniiiik.. slow aja, seloooow!!

SELOW NENEK LO GONDRONG!!

Maka sampai di rumah, saya langsung muter-muter keliling kamar sambil mainin yoyo (itu tanda saya lagi berpikir kreatif). Akhirnya ide untuk judul penelitiannya muncul beberapa saat sebelum berbuka puasa. Selepas tarawih saya langsung tancap gas ngegelar buku-buku diatas meja belajar.

Gak muat, cuy!

Jam sepuluh malem, saya pindahin semuanya ke atas meja makan-makan (di rumah keluarga saya ada dua meja makan. Satu meja makan tempat naro-naro makanan kita sebut meja makanan, satu meja makan yang seringnya kosong dan memang hanya buat tempat kita makan dan kita sebut meja makan-makan). Keluarga saya hanya geleng-geleng kepala saja tapi lanjutin nonton TV.

Yaiyalaaaah… Emang mereka musti apa? Bikinin bandrek mijitin dan nari pompom gitu?

Enaknya tumbuh di pesantren, saya jadi terbiasa untuk bisa berkosentrasi di tengah keramaian.

Lah, kan di pesantren kamar aja rame-rame. Jadi biasa lah kita bisa seratus persen fokus.

Contohnya gua saat itu. Mulai nulis saat masih pada rame nonton tipi (meja makan-makan letaknya tepat di sebelah tipi keluarga) dan tahu-tahu pas gua mau selesai, semua udah nyamperin bawa-bawa piring.

Nyokap gua bilang: ‘AL, ini dirapihin dulu dong sebentar. Ntar abis sahur bisa lanjutin lagi.’

Oh… Okey…

HAH! UDAH SAHUR???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s