Sertifikasi Guru V: La Realite Depasse I’imagination

Seseorang yang berhenti belajar adalah orang lanjut usia, meskipun umurnya masih remaja. Seseorang yang tidak pernah berhenti belajar akan selamanya menjadi pemuda.
(Henry Ford)

Saya dan Kirsan sepakat untuk membagi barang bawaan. Selain barang-barang pribadi, tentu ada pula hal-hal yang kami persiapkan dan bisa kami gunakan berdua bersama-sama. Buku-buku misalnya, dan tentu saja peralatan standar kantoran. Maka, perjanjian kami adalah bahwa seluruh barang bersama itu urusannya Kirsan, dia yang akan mempersiapkan. Sementara urusan saya adalah masalah transportasi kami berdua. Sejak berangkat, selama di sana, serta perjalanan pulang akan ditanggung oleh saya. Agar lebih praktis, tentu saja itu artinya saya harus membawa mobil.

Tapi, yah, dasar kepala udah disetel berkemas ala mau naik gunung, ya biar bawa kendaraan pribadi juga saya teteup aja akhirnya bawa seadanya. Sementara Kirsan membawa satu tas koper serta dua kardus (itu belum termasuk printer laptop), saya hanya membawa satu tas ransel saja. Isinya, hanya barang pribadi, hehe…

Dikira kami pasti akan sekamar nantinya.

Lah, kan nyampenya bareng.

Ternyata masalah kamar sudah ditetapkan oleh panitia. Kami ditempatkan berdasarkan kelas-kelas yang diurut berdasarkan hasil nilai Uji Kompetensi Guru.

Yailaaaaaah… Apa-apa pake nilai UKG! Buset, dah, kayaknya status sosial kite selama PLPG ntu ya berdasarkan itu ituuuu aja.

Masalahnya, walaupun kami sama-sama mendapatkan gelombang pertama, hasil nilai kami ternyata terpaut cukup jauh. Saya ditempatkan di kelas A dengan kamar berada di gedung utama lantai empat yang cukup lega. Sementara itu Kirsan berada di kelas E dengan kamar di sayap kanan lantai dasar.

Haduuuhh!!!! Jauh amat, ya…

Udahlah itu barang-barang (ceritanya) bersama diletakkan saja di kamarnya si Kirsan. Saya dengan cengar-cengir naik ke lantai empat hanya menggemblok ransel saja.

Taro-taro barang…

Langsung WA si Kirsan dengan noraknya:

‘Woy, kamar gua ada ruang tamunya, dooong… Ada meja makannya, dooong…’

Si Kirsan ngomel-ngomel. Kamarnya sempit banget soalnya. Mana kagak ada meja sama sekali, pula..

Jadi, ya, sempet juga nyante-nyante sendirian gitu baring-baring baca buku. Soalnya kita datang kepagian juga, sih. Acara baru mulai nanti setelah Dzuhur, kita udah nungul jam setengah sepuluh. Lah, ngapain, yak?

Lagi asik-asik, muncul teman sekamar saya. Ibu-ibu! Anaknya yang pertama sudah kuliah. Mukanya mirip Aung San Suu Kyi!

Jangan-jangan emang Aung San Suu Kyi.

‘Hai,’ dia duluan yang menyapa. ‘Saya (nama samaran) Suci. Dari SD Katolik xxxxxx (sebuah SD Katolik yang sudah memiliki nama besar dan banyak cabang di negeri ini).’

Kenalan.

Jabat tangan.

Saya AL, dari SDS Islam xxxxxxxx

Dia sama dengan saya, tidak membawa apa-apa.

Kelihatannya.

Beberapa detik kemudian, muncul dua laki-laki berseragam hotel. Membawakan barang-barangnya.

Dua koper besar.

Dua kardus besar.

Satu tas lagi.

Satu kantong pelastik berisi penuh karton-karton dan kertas-kertas warna-warni.

Printer.

Dua buah laptop. (Eh, dua buah?)

In focus! Waduh!!!

Saya bengong….

Yailaaaaah….

Bingung, maka saya pun jongkok di lantai bertopang dagu (saya hakkul yakin Anda pasti bisa membayangkannya) memperhatikan ibu ini membuka tas-tasnya dan mulai memindahkan barang-barangnya ke lemari.
Barang-barangnya banyak banget, cuy!

Saya langsung merasa tertampar.

Lah, gua kagak bawa apa-apa, ya?

Rasanya mau pingsan!

…..

Enggak. Saya enggak pingsan karena tiba-tiba datang suara ribut masuk ke kamar kami.

Itu si Mischa! Panggil-panggil Bu Suci.

‘Aaaaahhhh, Bu Suciiiiiiiiii…’ trus dia lihat saya, ‘Ya Ampun ada AL jugaaaaaa!!!’

Cipika cipiki cipika cipiki…

Saya refleks mundur ngeri ngeliat dua cewek ini jejingkrakan kayak temen udah lama gak ketemu!

(Lo kebayang gak adegannya dua cewek yang beda jauh umurnya ini jejingkrakan cipika cipiki saling tanya kabar sementara gua merapat di dinding pegangan daun pintu dan buku di tangan satu lagi dengan muka ngeri ngeliatin)

Ternyata mereka memang teman yang udah lama gak ketemu, huahahaha… Dan gak sengaja banget ketemu di sini! Saling bertumbukan di loby depan.

Singkat cerita, ternyata si Mischa pernah bekerja menjadi guru di sekolahannya Bu Suci. Waktu itu, Bu Suci sudah guru senior sementara Mischa masih menjadi asisten guru. Nah, menurut cerita mereka berdua, si Mischa ini banyak sekali mendapatkan tekanan berupa kritik yang pedas dari orangtua murid. Bu Suci-lah yang dulu selalu membela dan membimbing Micha. Menurut Bu Suci, Mischa itu seseorang yang sangat cerdas, khususnya dalam bidang eksakta (nanti gua akan lihat buktinya di kelas saat presentasi), tapi masih bingung gimana caranya mentransfer ilmunya ke bocah-bocah kecil. Namanya juga bukan dari sekolah guru.

Menurut Bu Suci, Mischa itu sabar dan telaten. Nanti dia akan bisa juga menjadi seorang guru.

Tapi pihak sekolah nampaknya tidak sependapat. Akhir tahun itu, kontrak kerja Mischa tidak diperpanjang. Dia tidak diangkat menjadi guru tetap. Maka Mischa pun melamar di SD Katolik lain(yang juga sudah mempunyai nama besar) di ujung kabupaten yang satunya lagi, yang ternyata diterima.

Mereka putus kontak, sampai hari ini.

Trus, mereka ketemu lagi deh disini!

Ebuset, bisa, ya….

Bagaimanapun, itu kisah nyata. Seperti sebuah ungkapan Perancis La realite depasse I’imagination. Kenyataan hidup melampaui imajinasi.

Kamar Micha berada tiga kamar di sebelah kamar saya dan Bu Suci. Dia sekamar dengan seorang dosen (Iyaaa… Dosen. Beneran! Seorang dosen yang ternyata merangkap juga jadi guru SD. Eh, bukan deh, kebulak! Seorang guru SD yang memiliki gelas S2 dan kalo sore jadi dosen di salah satu fakultas keguruan swasta) yang kerjaannya tiap hari enggak enak badan melulu dan ngeborehin badannya pake remason! Beuh, kamarnya si Mischa jadilah selalu bau remason yang terkadang bercampur bau asap rokok! Dan kami semua berada di kelas yang sama.

Beberapa jam kemudian, saya menemukan bahwa temen-temen saya satu lantai dan satu kelas memang tipe-tipe orang yang sama juga, hehe.. Gak laki gak cewek gak tua gak muda, gituuuu aja.

Sementara itu di bawah sana, Si Kirsan langsung mendapat kawan sekamar yang cocok sama dirinya. Sama-sama ibu-ibu akhwat beranak satu yang anaknya seumur! Yaudahlah mereka seru saling bertukar cerita ala ibu-ibu muda. Teman sekamarnya ini berasal dari SDN yang berada jauh di ujung kabupaten satunya. Ternyata dekat dengan sekolahannya Bu Suci.

Nah, temen sekamarnya si Kirsan ini cocok. Seleranya sama kebiasannya sama. Dua-duanya lebih suka tenang dan hobi tilawah baca qur’an. Kalo iseng, sama-sama seneng dengerin murotal qur’an juga. Buku-buku bacaannya pun sama. Tipe-tipe buku Ayat Ayat Cinta, gitu.. Trus, paling nonton tv juga berita aja.

Nah, lo kebayang gak sih. Diatas, di lantai empat abis pada shalat Isya (kalo yang muslim) ya kita semua kerjaannya kongkow ngopi-ngopi ada yang sambil ngudut (ngerokok) baca buku ngobrol nonton film main game di komputer sampe lewat tengah malem (kebetulan di depan kamar kami-kami ada semacam balkon yang luas dan seru banget buat ngumpul-ngumpul), di bawah si Kirsan dan teman-temannya abis Isya ngaji trus sepi udah pada tidur cepet.

Tapi itu malem-malem pertama, men! Begitu menginjak malam kelima, yaaa, kita tetep sih konkow-kongkow, tapi sibuk semua ngadepin laptop masing-masing belajar, ngerjain tugas, sambil sesekali diskusi yang rada serius!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s