It Takes A Life to Learn How to Live

Extremely Loud and Incredibly Close[9]My life story is the story of everyone I’ve ever met
Jonathan Safran Foer, Extremely Loud and Incredibly Close

Apakah ada kalimat yang sanggup mendefenisikan kata ‘kehilangan’?

Film Extremely Loud and Incredibly Close—duileh ribet bener judulnya—sama sekali tidak menarik saya ketika pertama kali muncul. Pertama, mungkin karena yang (terlalu) dimunculkan adalah hubungannya dengan tragedi 11 September, yang tentu saja membuat saya sebagai penganut Islam sudah keburu malas duluan. Bukan tidak simpati, tapi yah, seperti kata orang-orang di All American Muslims, sampai kapan sih kita terus dituntut untuk merasa bersalah atas hal yang sebenernya gak ada hubungannya dengan kita?

Kedua, karena dari bermacam review yang saya baca saat itu menyatakan bahwa film tersebut kering dan tidak meyakinkan.

Tapi, siapa peduli dengan review, ya, kan? Semua review yang saya baca tentang seri The Walking Dead juga mengatakan itu seri yang keren etapi saya tidak suka.

Suatu hari, saya diberi buku tersebut sebagai hadiah. Betapa terkejutnya saya saat mulai membaca tulisan yang seakan-akan dituliskan oleh seorang anak kecil yang gila!

Bagaimana dengan cerek? Bagaimana kalau lubang di lehernya membuka dan menutup waktu uap keluar, seperti mulut, lalu ia bisa menyiulkan melodi yang indah atau melafalkan kata-kata Shakespeare, atau sekedar mengoceh bersamaku? Aku bisa menciptakan cerek yang membaca dengan suara ayah, agar aku bisa tertidur mendengarkannya, atau mungkin satu set ceret yang bisa menyanyikan chorus “Yellow Submarine”, lagu yang dinyanyikan Beatles, yang kugemari, karena entomologi adalah salah satu raisons d’etre-ku, dan itu ungkapan Perancis yang aku tahu. Kalau aku mau dianggap tukang melucu terlucu, aku akan melatih anusku berkata, “Bukan aku!” setiap kali mengeluarkan kentut yang keras dan bau. Dan, kalau aku bisa kentut yang keras dan bau di Ruang Cermin, yang ada di Versailes, yang ada di luar Paris, yang ada di Perancis, tentu saja anusku akan bilang, “Ce n’etais pas moi!”

Itu adalah paragraf pertama, pembukaan kisah. Saat itu juga saya tahu, bahwa kisah ini akan sangat mengasikkan–karena pasti melelahkan–untuk diikuti.

Pada halaman-halaman selanjutnya akan semakin jelas bahwa untuk menuntaskan buku ini, butuh kesabaran yang tidak main-main. Tapi toh saya sanggup menyelesaikannya selama dua hari saja.

Lagi liburan soalnyaaaa…

u3lHalaman-halaman pertama dipenuhi dengan celotehannya si Oskar, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun tentang apapun yang rasanya tidak berkesudahan dan tidak berhubungan. Bagaimanapun, Oskar sedang berusaha memaparkan tentang dirinya sendiri dan keluarganya. Bahwa ayahnya seorang pemilik toko perhiasan, ibunya seorang pengacara, dan neneknya adalah perempuan tua yang sudah kehabisan air mata tinggal di gedung sebelah.

Oskar menyatakan dirinya adalah penganut pasifisme (Suatu paham yang menentang kekerasan. Seperti Mahatma Ghandi) sehingga dia harus keluar dari kelas jujitsu karena menolak menendang kemaluan sensei-nya (Dia disuruh untuk itu oleh senseinya dan dia memilih untuk mengeluarkan dirinya sendiri). Dia suka bermain tamborin, yoyo, dan mengutak atik kamera setelah diberi hadiah ulang tahun berupa langganan National Geographie oleh sang nenek (walaupun sebenarnya Oskar masih berusia minus tiga tahun untuk menjadi pembaca majalah itu).

Oskar adalah mantan ateis, katanya sendiri, yaitu paham yang menolak percaya hal-hal yang tidak dapat diamati. Tetapi karena nampaknya segalanya semakin rumit, maka dia tidak yakin lagi.

Well, latar sudah disiapkan dan begitu pula tokoh. Maka tidak ada pilihan lain, kisah pun harus bergulir.

So many people enter and leave your life! Hundreds of thousands of people! You have to keep the door open so they can come in! But it also means you have to let them go!
Jonathan Safran Foer, Extremely Loud and Incredibly Close

Thomas Horn

Thomas Horn

Bicara tentang kisah, tentu saja kita harus bicara tentang Oskar (Thomas Horn memerankan Oskar dengan sangat amat pas, baidewei! Mantap, lah!). Pada buku hanya disebutkan bahwa Oskar adalah seorang anak kecil yang kritis dan memiliki empati yang besar, sementara pada film dinyatakan bahwa Oskar memiliki kecenderungan Asperger Syndrome—yang saya pribadi kurang yakin tentang hal itu.

Saya kira lebih aman jika kita melihat Oskar sebagai seorang anak lelaki pemikir dan penyendiri yang sedang berusaha mengatasi trauma-nya. Sebuah kesedihan mendalam atas kehilangan sang ayah yang ikut menjadi korban pada tragedi 11 September. Karena untuk menyembuhkan trauma terkadang kita harus berani untuk menghadapi trauma itu sendiri.

Ayah Oskar, orang yang paling dekat dengannya, meninggal dunia. Dadanya semakin terasa sesak saat Oskar menyadari bahwa orang-orang terdekatnya mulai terlihat move on dari tragedi kehilangan tersebut. Kini, ada orang-orang baru muncul pada kehidupan mereka. Seorang laki-laki tua yang disebut ‘The Renter’ bagi neneknya dan Ron untuk ibunya. Oskar yang masih tenggelam dalam kesedihan, mulai memusatkan perhatian kepada apa yang tersisa dari ayahnya: Ekspedisi Pengintaian.

EL-00513Ekspedisi Pengintaian adalah semacam permainan yang diciptakan ayahnya. Awalnya sih bermaksud untuk melatih puteranya ini menjadi lebih berani menghadapi hal-hal asing yang pastinya nanti harus dihadapinya pada suatu saat. Dalam permainan itu selalu terdapat perjalanan dan wawancara kepada orang lain. Ternyata itu menjadi kenangan yang membekas bagi Oskar saat dia berusaha merancang ekspedisi-nya sendiri. Misteri yang harus dia pecahkan kali ini adalah sebuah anak kunci yang terdapat pada sebuah amplop yang dimasukkan ke dalam sebuah vas berwarna biru. Pada amplop tertulis ‘Black’ dan tidak ada petunjuk apapun lagi. Oskar menantang dirinya sendiri untuk menemukan jawaban atas kunci tersebut: itu kunci apa dan buat apa.

Kunci itu membawa Oskar berkeliling kota New York.

Oskar mulai menyadari bahwa ‘Black’ pada tulisan di amplop adalah sebuah nama. Mudah saja, karena kata itu diawali dengan huruf besar. Maka logikanya, dia harus mencari orang dengan nama Black itu untuk menemukan apa arti dari anak kunci tersebut. Karena jika ada kunci, maka pasti ada lobang kuncinya. Jika ada nama, maka pasti ada orang (Padahal bisa jadi itu nama kucing, kan?). Satu hal yang tidak diprediksi oleh Oskar sebelumnya adalah bahwa jika ada orang, maka ada kisah. Dan setiap kisah tersebut ingin untuk diungkapkan.

Extremely-Loud-and-Incredibly-Close-UK-Poster-Sandra-Bullock-796x600Buku dan film Extremely Loud and Incredibly Close menghadirkan kisah yang sama tapi dengan pengalaman yang berbeda. Buat yang tidak begitu suka membaca, saya kira lebih baik nonton saja filmnya. Bagus dan jauh lebih ringan sehingga dapat diterima siapa saja. Saya berpikir, salah satu tricknya adalah, pada film, cerita dimudahkan dengan sudah sejak awalnya diberi penjelasan mengenai beberapa hal,misalnya bahwa Oskar adalah menderita Asperger Syndrome yang pada buku itu sama sekali tidak disebutkan, dan dipotongnya beberapa plot sehingga kisah bisa lebih ramping dan terfokus pada satu hal saja. Sementara untuk bukunya, well, kalau halaman pertama saja sudah bikin lieur, maka semakin ke belakang semakin bikin kening berkerut nantinya.

He promised us that everything would be okay. I was a child, but I knew that everything would not be okay. That did not make my father a liar. It made him my father.
Jonathan Safran Foer, Extremely Loud and Incredibly Close

Jika pada film lebih menitik beratkan kepada petualangan, pada buku lebih memokuskan kepada perjalanan menghadapi trauma. Bukan hanya Oskar yang memiliki trauma di sini, tentu saja ibunya, nenek kakek, dan bahkan Ron, sahabat ibunya  yang tokohnya dihilangkan pada film. Ron menghadapi kesedihan yang sama karena istri dan anaknya juga meninggal dunia sehingga dia semakin menganggap Oskar dan ibunya sebagai pengganti keluarganya.

Gak usah sewot kalau kisah di film berbeda dengan bukunya. Itu kan dua karya yang bicara pada medium yang berbeda, tentu saja butuh penyesuaian. Salah satu yang berbeda lagi, kakek-kakek yang nemenin Oskar ke sana ke mari pada paruh kedua cerita di film kan itu kakeknya sendiri, nah kalo di buku bukan. Ada orang lain.

THOMAS-HORN-as-Oskar-Schell-and-MAX-VON-SYDOW-as-The-Renter-in-Warner-Bros.-Pictures-drama-EXTREMELY-LOUD-INCREDIBLY-CLOSE-A-WARNER-BROS.-PICTURES-RELEASE.-Photo-by-Francois-Duhamel-2-960x638

Oskar pada film jelas seorang perancang yang lebih baik daripada Oskar pada buku. Oskar yang di buku adalah pemikir yang lebih dalam daripada yang di film. Sebuah perbandingan yang pas dan sesuai dengan medium yang digunakan. Pada film, si Oskar merancang perjalanannya berdasarkan wilayah, yang tentu saja ini menjadikannya lebih efisien. Sementara Oskar pada buku merancang perjalanannya dengan susunan alfabet. Orang-orang yang dikunjunginya adalah orang-orang yang memiliki nama awal yang berurutan sehingga membuat kisah lebih rumit lagi.

Bayangkan saja saat pertama kali Oskar mulai menjelajah dia harus melintasi setengah kota dengan berjalan kaki sementara tepat di gedung apartemen yang sama sebenarnya terdapat seorang Black yang baru ditemuinya di tengah kisah. Ada pasangan suami istri yang terpaut waktu delapan bulan kemudian baru dikunjungi Oskar kembali. Tapi lucunya, justru karena itu maka label ‘Asperger Syndrome’ menurut saya lebih pantas disematkan pada Oskar yang di buku, hehe..

Saya lebih suka membaca buku yang dirancang sederhana gak usah pake ribet-ribetan, tapi khusus buku ini, saya suka. Mungkin karena menggambarkan cara berpikir Oskar yang tidak biasa. Beneran, bikin saya jadi ketawa-tawa sendiri. Entah karena emang geli, atau karena setres bacanya.

kayaknya sih, dua-duanya.

Misalnya nih, ya, penempatan dialog yang asal banget dilanjutin aja bikin saya pada awalnya benar-benar menyangka bawa saya sedang membaca buku bajakan! Numpuk, cuy, bikin pusing! Trus tahu-tahu halaman kosong hanya berisi beberapa kata yang tidak dapat dibilang kalimat dan tidak dapat juga masuk ke dalam logika. Ada tulisan-tulisan yang dicoret-coret seakan tidak jadi, atau sebelas halaman yang banyak kata dilingkari dengan pena berwarna merah.

Ada juga hampir dua halaman isinya angkaaaaaaaaaa bereretan. Bikin kepala gua nyut-nyutan aja!

Kemudian ada beberapa halaman yang seperti ini:

ur3l

Yailaaaah!!!!

Beneran gw sampe kepikiran ini jangan-jangan gw dikasih buku bajakan!

Tapi ternyata emang begitu. Dan tentu saja itu semua ada artinya.

Jika Anda orang yang suka membaca, saya kira Anda akan suka juga bukunya.

Hal yang mengejutkan buat saya adalah bahwa kisah ini begitu dikaitkan dengan tragedi 11 September yang menurut saya malah bukanlah hal yang benar-benar harus (tentu saya bukan penduduk New York maka saya tidak mengalami). Melihat betapa ruwetnya buku ini ditulis dan betapa populernya di negeri asalnya, saya jadi agak curiga bahwa tragedi 9/11 menjadi alasan marketingnya.

ur5Well, ini kisah tentang kehilangan—itu bisa karena apa saja—dan bagaimana setiap dari orang-orang yang berada di sekitarnya berusaha untuk menghadapi kepedihannya, dengan cara mereka sendiri.

NB: Filmnya okey buat anak-anak usia 8 tahun ke atas, tapi bukunya untuk 13 tahun ke atas, ya..

Jonathan Safran Foer

Jonathan Safran Foer

Author Jonathan Safran Foer
Cover artist Jon Gray
Country United States
Language English
Genre Novel
Publisher Houghton Mifflin
Publication date
1 April 2005 (1st edition)
Media type Print (Hardback & Paperback)
Pages 368 pp (hardback & paperback editions)
ISBN ISBN 0-618-32970-6 (hardback edition)
ISBN 0-618-71165-1 (paperback edition)
OCLC 57319795
813/.6 22
LC Class PS3606.O38 E97 2005

2 thoughts on “It Takes A Life to Learn How to Live

  1. Ping-balik: Buku 2014 II: Dari Haruki Murakami sampai Jonas Jonasson | Teacher's Notebook

  2. Ping-balik: Buku 2014 II: Dari Haruki Murakami sampai Jonas Jonasson | Buku, Film, dan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s