Pesawat Kardus dan Kasti

Alkisah, dulu banget, ada sebuah sekolah dasar yang memutuskan untuk membuat kompetisi merancang pesawat terbang dari kertas dan kardus. Sederhana sekali dan mungkin kompetisi ini muncul karena para guru saat itu bingung mau membuat acara apa. Sudah selesai ulangan umum dan belum saatnya libur. Pelajaran telah selesai.

Kompetisi ini terbuka bagi murid laki-laki dan perempuan, walaupun tentu saja kebanyakan peserta berjenis kelamin laki-laki. Alasannya wajar saja, anak-anak perempuan tidak banyak yang tertarik untuk membuat pesawat terbang kertas. Anak perempuan lebih tertarik duduk dan ngobrol. Maka alhasil, kompetisi ini, secara jenis kelamin peserta, sangat tidak seimbang. Tigapuluh tujuh laki-laki dan empat perempuan.

Ya, tapi toh ini kompetisi individu, bukan kerja kelompok.

Seorang guru yang mengampu pelajaran IPA mulai mengumpulkan peserta, lalu menjelaskan bagaimana cara dan bahan-bahan yang dibutuhkan. Semua siswa mendengarkan. Pada akhirnya, kata sang guru tersebut, penilaian hanya satu: pesawat yang lama bertahan di udara, dia yang memenangkan kompetisi tersebut.

Siswa mulai sibuk bekerja.

Ada yang membuat pesawatnya terlihat sekeren mungkin. Kayak di filem-filem perang itu.

Ada yang mewarnai pesawat menjadi terlihat cantik.

Ada yang memusatkan perhatiannya kepada desain pesawat baik itu bagian ekor maupun sayapnya.

Dan sebagainya.

Waktu habis.

Moment of truth!

Peserta dibagi atas dua kelompok. Agar mudah, kita beri saja nama: kelompok A dan kelompok B.

Pertama maju, kelompok A dulu. Satu persatu memperlihatkan kebolehannya.
Tidak pakai perhitungan waktu. Cukup mata yang memandang. Pesawatnya siapa yang paling lama diudara.

Pemenang kelompok A adalah seorang anak perempuan yang mari kita sebut saja namanya A1, sementara pemenang kedua kita sebut A2, laki-laki. Dan pemenang ketiga, juga laki-laki, A3.

Sekarang kelompok B. Kali ini tepuk tangan lebih riuh. Bagaimana tidak, siswa-siswa yang tergabung di kelompok B ini adalah anak-anak keren di sekolah. Pemenangnya, B1, B2, dan B3 seluruhnya laki-laki.

Guru pun memberi pengumuman.

‘Anak-anak, sesuai dengan hasilnya, maka pemenang kompetisi ini adalah B1!’

Anak-anak bersorak girang. Horeeee!!!

Kemudian tiba-tiba, seorang anak laki-laki menyeletuk keras. Itu si A2, juara kedua dari kelompok A.

‘Kok gitu, Pak? Terus si A1 gimana? Kan tadi dia menang juga. Harusnya A1 dan B1 diadu lagi, dong.’

Sang guru terkejut. Nyata sekali bahwa dia sudah sama sekali lupa dengan kelompok pertama itu. Mendadak yang diingatnya hanya kelompok kedua saja.

Lalu guru itu menatap muka si A1, anak perempuan yang sedang menatap mukanya menunggu keputusan.

‘Yaudah, A1 juara kedua aja,’ katanya kemudian. ‘Anak perempuan gak mungkin menang lawan anak lelaki.’

Sang guru itu lupa nampaknya, bahwa si A1, pada kenyataannya, sudah mengalahkan semua anak di kelompoknya, baik lelaki maupun perempuan.

Dan walaupun memang misalnya benar apa yang dikatakan guru tersebut, bahwa perempuan gak mungkin menang melawan laki-laki, yang sudah jelas salah, tetap saja seharusnya kesempatan diberikan juga. Dia sudah bekerja dan berpikir keras saat mendesain pesawatnya, lebar sayap, bentuk ekor, dan seberapa besar beban badan pesawat maksimal yang harus dia buat. Sama kerasnya dengan B1. Dan si A1 tidak peduli walaupun nanti dia kalah abis-abisan, tapi dia kalah secara adil. Bukan dikalahkan begitu saja atas asumsi tanpa dasar, atau hanya karena gurunya terlalu malas untuk menyelenggarakan final.

Itu hanya anak kecil, mungkin itu yang ada dalam pikiran sang guru. Entahlah saya tidak tahu perasaan gurunya, tapi saya tahu persis bagaimana perasaan anak perempuan itu.

Karena anak perempuan itu saya, pada saat kelas 4 SD. Dan saya tidak pernah melupakan pahit rasanya saat itu.

…..

Saya mengutarakan kisah ini karena kejadian seperti ini terulang lagi, beberapa minggu yang lalu.

Ulangan umum baru selesai, maka tiba saatnya classmeeting. Hari itu saya baru saja keluar menuju lapangan, bertemu dengan anak-anak kelas 4 Akhwat sedang asik duduk-duduk. Beberapa diantara mereka membawa bola kasti.

Kalian lagi apa?

‘Nunggu, Bu. Kita kan masuk final.’

Owh, lawan kelas apa?

‘Kelas 5 ikhwan.’

Beberapa menit kemudian, anak-anak ini keluar lapangan dengan lesu.

Hay, udah selesai finalnya?

‘Kata Pak Guru Olahraga, gak usah final. Kita juara dua.’

Loh, kok gitu?

Guru Olahraga: Kelas lima ikhwan jago-jago, Bu, mainnya. Lagian ini kan anak-anak cewek, mana bisa menang lawan kakak kelasnya, cowok pula. Udahlah, juara dua aja. Gak usah capek.

Dan tiba-tiba saja saya sewot.

Lalu kenapa kalau pasti kalah? Lalu kenapa kalau nanti mereka dibantai. Masa dikalahkan begitu saja tidak diberi kesempatan?

‘Lagian, ini anak-anak cewek. Mana mungkin menang melawan anak-anak cowok.’

Hey, ini sudah final. Itu artinya kelas ini sudah mengalahkan beberapa kelas sebelumnya. Termasuk kelas-kelas cowok, dong. Gimana sih!

Pertandingan pun akhirnya diadakan. Dan benar saja, anak-anak perempuan ini dibantai kakak kelasnya. Kecewa, pastinya. Siapa tidak kecewa jika kalah? Tapi minimal, tidak menyimpan perasaan sakit karena merasa disepelekan.

2 thoughts on “Pesawat Kardus dan Kasti

  1. ini… ceritanya nyewotin tapi miris banget ya, kak.
    Aku kesel banget bacanya. Diskriminatif banget. Efek dari kasus yang dulu itu berdampak besar untuk sekarang ndak ke kakak?

    Ceritanya aku punya tiga keponakan di rumah, Keponakan sulungku ada gejala autis ringan (menurut kata dokternya), dia masih belum lancar berkomunikasi secara verbal di sekolah padahal sudah kelas 1 SD. Sedangkan temen-temennya udah lancar ngomong. Sebetulnya keponakanku ini bisa diajarin baca tulis, tapi gurunya udah terlanjur nyepelehin dia karena kekurangannya itu. Jadi dia sering dicuekin setiap lagi pelajaran. Sebel sama gurunya itu sebenernya, tapi sempet kepikiran untuk masukin ponakanku ke sekolah alam atau pindahin ke sekolah yang lebih bisa toleransi sama dia. Soalnya kayaknya ponakanku jadi tertekan setiap berangkat sekolah.

    Meskipun kasusnya mungkin beda, tapi kurang lebih aku bisa ngerasain kisah di atas. Senewen bacanya. -_-

    Makasih untuk sharingnya ya.

  2. ingat pengalaman pas TK dulu deh
    dulu aku suka main di tiang yg buat panjat panjatan itu, gimana jelasinnya ini ya -_-
    desainnya kayak 2 tangga vertikal dan 1 tangga horizontal di bagian atas yg menghubungkan keduanya

    dulu diajarin sama temenku buat gelantungan pakai kaki di atas, kepala di bawah. dan bentar langsung mahir aja lho
    iye, kalau sekarang dipikir sih bahaya banget ya. tapi anak kecil ya gak mikir bahaya deh :p

    sayangnya seorang guruku langsung menarikku turun darisana
    katanya, “anak cewe kok main panjat panjatan”

    sebagai anak TK saat itu, pikiranku cuma, “emang nape anak cewe gak boleh main panjat panjatan?? -__-”

    kalau dengan pikiranku sekarang, misalnya dulu gak boleh karena bahaya main gelantungan kepala di bawah sih, maklum aja deh.
    tapi kenapa alasannya saat itu adalah karena anak cewe gak boleh main panjat panjatan??? -____-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s