Sampai Nanti Entah Kapan

Dua tahun saya istirahat dari walikelas. Gak banyak bertemu dengan anak-anak lagi, kecuali yang dikirim guru mereka ke ruangan saya saja tentunya, dan menyesakkannya, yah hubungan saya dan anak-anak yang dikirim ke ruangan saya jadinya ngeselin: yang ngasih hukuman dan yang dihukum.

*lgh*

Tahun ini, karena sertifikasi saya, maka saya harus menjadi guru kelas lagi.

Jadi….saya kembali ke kelas.

Rasanya?

Yaa hepi banget, laaaah…

Kelas saya kali ini adalah kelas lima, salah satu kelas laki-laki.

Dari awal saja saya sudah dapet banyak cerita bikin sesak nafas tentang anak-anak saya yang bikin guru paling sabar—di sekolah saya tentunya–sempat ngamuk-ngamuk gak keruan.

‘Hati-hati, Bu. Itu mah anak-anak paling bikin ngeselin, deh…’

Paling gak bisa diem?

Kata rekan-rekan sih, enggak juga. Ada beberapa kelas yang lebih jumpalitan dibanding kelas saya itu. Tapi masalahnya, ini kan kelas besar. Harusnya, sudah saatnya lah agak lebih serius.

Ya, tapi, dari pengalaman saya, kelas dengan anak-anak paling jumpalitan justru nantinya jadi kelas yang paling berat kita tinggalkan. Dan kalau boleh milih, saya lebih suka kelas yang jumpalitan.

Masuk kelas yang semuanya laki-laki emang rada ribet juga. Untungnya saya tomboy, jadi banyak hal saya langsung nyambung ajalah gitu sama mereka. Justru yang rada kaku, mereka ke saya.

Tahun kemarin, dan tahun kemarinnya lagi, walikelas mereka laki-laki. Tahu kan, kelas laki walikelasnya laki. Maka ketika nama saya diumumkan sebagai walikelas, langsunglah saya mendapat sorotan benci gituuu..

Kok walikelasnya perempuan? Kelas laki dengan walikelas perempuan itu kelas satu dan dua. Kelas anak kecil! Emang kita masih kecil?

Idih, walikelasnya guru yang tukang ngehukum kita—yep, itulah derita saya selama dua tahun terakhir jadi guru yang paling dibenci di sekolahan!

Well, bagaimanapun, perasaan ‘kita kan udah gede’ rada bikin saya menghela nafas juga. Saya merasa banyak dalam kegiatan anak-anak saya yang sekarang, seakan tidak lagi dibutuhkan.

Waduh, jadi merasa seperti orangtua yang anaknya beranjak remaja, ya, hehe…

Walikelas anak-anak gede enggak enak, ah!!

Tapi bagaimanapun, perasaan itu Cuma bertahan beberapa hari aja. Pada hari ketiga, akhir hari pada saat itu saya sedang di SMP, tau-taulah segerombol anak-anak saya manggil-manggil dari luar.

Saya keluar. Ke depan gerbang SMP.

Anak-anak saya langsung berebutan cium tangan.

Iya, iyaaaa… Itu tradisi kita di Indonesia, anak-anak sekolah cium tangan ke gurunya. Tapi kalau gurunya gak ketemu pada saat pelajaran terakhir kan gak dicari-cari gitu, dong. Biasanya ya kita pulang aja, kan? Kalo ketemu gurunya baru cium tangan.

‘Ibu kita cari-cariin, gak taunya di SMP.’

Kalian cari-cari ibu Cuma mau cium tangan aja?

‘Yaiyalaaaaaaah…’

Arick, anakku yang paling gak bisa lepas dari bola kakinya, tau-tau berkata:

‘Tadi pelajaran terakhir kan yang ngajar Ustadzah Irma, Bu. Terus, pas kita abis berdoa pulang gitu, kita mau cium tangan, masa tidak boleh, Buuu.’

Hanya dua guru perempuan yang mengajar di kelas saya: Ustadzah Irma dan saya tentunya.

Oh, ya? Kalian tanya kenapa?

‘Katanya kita sudah besar. Sudah kelas lima jadi kita sudah termasuk dewasa. Jadi gak boleh cium tangan perempuan lagi…’

Ooooo…. Walaupun guru?

‘Iyaaaaaa……’

‘…….’

Oooo.. Kok saya jadi mendadak sedih, ya….

Terus, karena gak boleh cium tangan sama Ustadzah Irma, kalian jadi cari-cari Ibu buat cium tangan, gitu?

‘……’

‘Gak papa, kan, Bu? Kita cium tangan ibu. Kita kan masih anak-anak, Bu..’

‘Iya, aku di rumah masih suka nangis, loh, Bu..’

‘Gak papa, ya, Bu. Gak papa, dong.’

Dan mereka nyengir beramai-ramai di depan saya.

Hoahahhaha…

Iya, iyaaa… Buat ibu, kalian masiiiiih anak-anak. Dan memang kenyataannya masih anak-anak, kok!

Sampai nanti, entah kapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s