Angry Little Kid

little-boy-angerTidak banyak orang yang tahu bagaimana rasanya marah, sampai ke tulang. Maksudku, mereka MENGERTI. Orangtua angkat, semua orang MENGERTI, untuk sementara. Lalu mereka menuntut si anak marah untuk melakukan sesuatu yang tidak sanggup dilakukannya, untuk move on. Dan mereka berhenti mengerti. Mereka kirim anak pemarah itu ke panti asuhan. Saya menyadarinya terlambat, kau harus belajar untuk menyembunyikan amarah. Belajar tersenyum di depan kaca. Mengenakan topengmu.
(Blake to Bruce Wayne, The Dark Knight Rises)

Salah seorang anakku, mari kita sebut namanya Laksmana, dua tahun yang lalu adalah si tukang ngambek di kelas. Kadang kita tidak tahu sama sekali salah apa kali ini yang membuatnya marah-marah. Kalau sudah murka, ini anak tidak tanggung-tanggung. Menggeram, menyobek-nyobek kertas, berteriak, menjerit, lalu lariiiii entah kemana. Terkadang saya bisa mengejarnya, terkadang tidak. Biasanya drama kali itu akan berakhir dengan dia kembali ke kelas, tanpa minta maaf atau penjelasan apapun selain diam seribu bahasa.
Lalu percakapan diantara kita akan dilanjutkan lewat WhatsApp pada malam saat Laksmana akan menceritakan semua keluhannya dan saya akan menasihatinya atau hanya bercerita ini dan itu kepadanya.

Tapi seringnya kami hanya mengobrol tentang berita, film, atau yang seperti itu.

Saya menganggap itulah caranya meminta maaf. Buat saya, itu sudah cukup.

Beberapa rekan saya menganggap bahwa saya terlalu sabar menghadapi Laksamana. Dia tidak bisa dibiarkan seperti itu terus. Sudah besar, harusnya sudah tahu bagaimana bersikap. Masa suka ngebentak-bentak guru gitu. Saya katakan pada rekan-rekan saya kalau saya pernah berada di tempat Laksmana saat ini, dulu, saat saya masih remaja .

Entahlah tapi mungkin amarah selalu menjadi bagian dari dalam diri seorang anak yatim. Jika anda mengalaminya, mungkin anda mengerti. Kami selalu merasa marah terhadap apapun atau terkadang pada siapapun. Rasanya pengen ngelawan apapun dan siapapun! Kau tidak begitu mengerti kenapa selalu merasa marah, atau apa saja sebetulnya yang akan memancing marah kita. Bagaimanapun, fase itu akan berakhir nantinya. Tapi tidak secepat yang orang duga.

Mungkin tidak sebelum kita ‘terlanjur’ menyakiti atau menyinggung perasaan orang-orang yang menyayangi dan peduli terhadap kita.

Pada akhir tahun ajaran, ngamuknya Laksamana di kelas sudah mulai berkurang. Teman-temannya juga sudah mulai mengerti untuk tidak macam-macam kepadanya. Laksaman sendiri adalah anak yang penyendiri. Dia lebih memilih buku dan menggambar komik daripada ngobrol dengan teman, apalagi main bola.

Satu tahun yang lalu saat mengajar di kelasnya, saya tiba-tiba menggoda Laksmana mengenai seorang anak perempuan. Dia langsung menggebrak meja dan melototi saya. Seluruh teman sekelasnya terdiam, memandang saya dengan pandangan haduh-ibu-ngapain-sih-bikin-dia-marah.

Beberapa anak terang-terangan berbisik:

‘Hayo lo, Bu. Laksamana marah, loh…’

‘Ibu sih becandanya jangan ke Laksmana dooong.’

Tapi saya sudah terbiasa menghadapi anak yang ngamuk. Tahun pertama saya mengajar, saya pun berhadapan dengan anak yang tukang ngamuk dan bahkan meludahi muka saya. Jadi saya balas tatap muka Laksama sambil senyum-senyum nyengir gitu.

Si Laksamana melakukan hal yang tidak disangka. Dia menghela nafas panjang, dan tersenyum. Lalu melanjutkan pekerjaannya.

Itu pertama kali dia berhasil menahan dirinya sendiri.

Beberapa jam kemudian, dia mengirim WhatssApp kepada saya:

‘Aku agak marah tadi, Bu.’

Saya jawab, ‘Ibu becanda. Kamu tau kan Ibu Cuma becanda?’

‘Tau. Tapi ibu kalau becanda harusnya kasih tau kalau ibu becanda.’

‘Okey. Noted. Makasih, ya, kasih tau ibu..’

Lalu kita ngobrol ke sana ke mari.

Tadi, saya sedang berhadapan dengan pekerjaan saya di kantor saat tiba-tiba Laksmana sudah berada di hadapan saya. Ingin bertanya mengenai tugas yang saya berikan di kelasnya. Tau-tau, Pak Ustadz nungul (ruangan saya berbagi dengan ruangan Pak Ustadz) yang langsung berceloteh riang-riang.

‘Weh, Laksamana. Kutu buku yang pemarah. Kamu mirip banget sama papa kamu..’

Laksmana terkejut. Dia refleks menatap saya dengan wajahnya yang sangat-sangat memancarkan amarah. Saya balas menatapnya sambil (berusaha) terus tersenyum kepadanya.

Pak Ustadz terus ngoceh-ngoceh tentang betapa mirip Laksamana dengan ayahnya. Dan selama itu juga, Laksamana terus diam.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Pak Ustadz pergi keluar ruangan untuk mengisi gelas minumnya. Saya menggunakan kesempatan itu untuk bertanya:

‘Memang Pak Ustadz kenal sama ayah kamu?’

Laksmana menggeleng. Matanya berusaha menjauhi pandangan saya..

Saya tahu kalau setelah ayah Laksamana ‘pergi’ sebelum dia pindah ke sekolah ini. Jadi bagaimana Pak Ustadz bisa tahu?

‘Sepertinya Pak Ustadz salah orang,’ kataku pada Laksamana.

Anak itu agak bimbang sebentar, lalu tersenyum.

‘Harus berusaha mengendalikan marahku,’ katanya pelan sekali. Sepertinya sia bicara kepada dirinya sendiri.

Beberapa detik setelahnya, saat Pak Ustadz kembali masuk ruangan, Laksmana mencium tangannya dan mengucapkan salam, lalu lari keluar ruangan, masuk ke kelasnya.

…….

Anak-anak, ya, kan? Manja, cengeng, awut-awutan, melelahkan, tapi tidak berhenti mengejutkan bagaimana mereka kadang bisa tangguh, pada suatu ketika.

One thought on “Angry Little Kid

  1. I am officially adore you.🙂

    Karena ceritanya saya punya keponakan tiga dan kecil-kecil. Lucu aja kalau baca ternyata anak-anak itu bisa mengeluarkan reaksi-reaksi semacam ini. (atau kayaknya saya juga masih masuk kategori anak-anak, jadi semacam refleksi diri).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s