Di Selat Sunda

61404_2457468133406_1956015398_nWeekend ini saya dan beberapa kawan lama ngetrip ke Krakatau. Standar ajalah acaranya, snorkeling dan hiking nyari-nyari sunset dan sunrise. Berangkat hari Jumat sore (atau tengah malem ngumpul di Merak lebih tepatnya), acara berakhir kembali ke Merak hari Minggu malam saat kita semua bubar jalan tanpa ngeh buat pamit, hehe…

Kita gak sopan emang!

Baidewei, hari Sabtu pagi kita nyampe di pulau Sebesi, homestay kita nanti malamnya. Gak gitu ngehin juga sih sebab begitu nyampe, kita langsung ini itu siap-siap buat snorkeling dan lain-lain sebagainya, deh. Malamnya saya baru sadar saat mendengan suara mesin menderu di belakang rumah tempat kami menginap.

Itu mesin.

Saya ingat beberapa menit sebelum tiba di rumah, kami melewati sebuah lapangan yang diseberangnya ada sekolahan.

Apa hubungannya dengan mesin?

Well, karena saat memasuki pulau, saya melihat ada spanduk besar dengan tulisan bangga: Pulau Sebesi 100 persen listrik.

Kenapa musti ada generator di belakang rumah tempat kami tinggal.

Sambil mengunyah makan malam, saya ngobrol dengan seorang penduduk asli. Tentang listrik tentunya.

‘Emang ada listrik di sini, Mbak. Tapi mesinnya rusak. Jadi mati semua. Kecuali yang punya generator. Itu juga nyalanya malem aja, Cuma sekedarnya.’

Udah berapa lama rusaknya? Lama, ya?

‘Iya, sih. Tapi kalau nyala juga Cuma jam enam sampai jam lima-an aja.’

Dan pikiran saya beralih ke kurtilas alias kurikulum dua ribu tiga belas alias kurikulum tidak jelas itu (dasar guru, kemana-mana pikirannya tetep aja ke sekolah).

Kenapa pelajaran TIK tidak ada lagi? Ya, karena teknologi di integrasikan pada setiap mata pelajaran. Anak harus menguasai ilmu dan teknologi. Bla…bla..bla… Jangan disuapin melulu, anak didorong aktif yadada… yaddada.. Dengan kurtilas ini ada kesamarataan. Apa yang dipelajari anak-anak di Jakarta sama dengan yang dipelajari anak-anak di Papua.

Matamu Papua! Ini baru di selat Sunda. Di kaki gunung yang kesohor kemana-mana.

pulau sebesi

Saya di pinggir Jakarta aja buku datangnya dua minggu telat, lah gimana di pulau Sebesi ini? Gimana mereka mau diminta kreatif cari informasi lewat internet, buku, dan sebagainya kalau listrik saja tidak ada.

…..

Tapi angin segar optimism berhembus saat bos-nya Indonesia Mengajar jadi menteri untuk pendidikan dasar dan menengah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s