Buku 2014 II: Dari Haruki Murakami sampai Jonas Jonasson

Sebelumnya, baca ini dulu saja..

15. Norwegian Wood karya Haruki Murakami

Seperti biasa karya Haruki Murakami selalu memberikan rasa dinginnya kesepian. Entah kenapa ini orang selalu membuat tokoh-tokoh utamanya penyendiri dan seakan hidup dalam kepalanya sendiri. Tidak mudah, walaupun tidak sulit untuk bertahan saat mulai membacanya.

Jadi, ini ceritanya tentang Watanabe yang dikelilingi oleh orang-orang yang depresif. Sahabatnya bunuh diri, kekasihnya bunuh diri, kekasih sobatnya juga bunuh diri. Saya kira ini lebih mengenai penerimaan dan apa yang terjadi kemudiannya.

16. Extremely Loud and Incredibly Close karya Jonathan Safran Foer

Saya sudah banyak menuliskan tentang kisah ini di sini.

17. Ordeal by Innocence karya Agatha Christie

Saat saya kira sudah tidak ada yang baru lagi yang saya temui di kisah-kisah Agatha Christie, saya pun membaca buku ini. Buset, Agatha Christie emang hebuaaaaat!!!

Ini dianggap adalah salah satu dari dua karya tergelap Agatha Christie (yang satu lagi adalah Ten Little Nigger), berkisah tentang suami istri yang mengumpulkan anak-anak terlantar dan kemudian mengadopsinya. Salah satu anak, Jacko, ternyata tumbuh menjadi trouble maker. Saat Sang Ibu tewas dibunuh, semua tangan mengancung ke Jacko, walaupun dia bersikeras menyatakan diri tidak bersalah. Dan bahwa pada saat pembunuhan terjadi dia sedang berada di perjalanan menumpang mobil seseorang. Pemuda itu tetap ditahan dan meninggal dunai di penjara.

Beberapa tahun kemudian, datang seseorang yang mengakui bahwa dialah orang yang memberi tumpangan Jacko, dan karena itu, maka dipastikan bahwa Jacko tidak bersalah, karena dia memang berkata jujur bahwa dia tidak berada di tempat kejadian pada saat pembunuhan.

18. Harun and The Sea of Stories karya Salman Rushdie

Oh, men, membicarakan buku ini kayaknya gak bakalan cukup kalo Cuma beberapa paragraph aja. Intinya ini adalah salah satu buku klasik yang saya senang sekali mengulang-ngulang membacanya lagi. Seperti To Kill a Mockingbird atau The Adventures of Huckleberry Finn.

Pada suatu negeri yang bernama Alifbay, di sebuah kota yang sedih (saking sedihnya sampai dia sendiri gak inget namanya sendiri), hiduplah seorang anak bernama Harun. Ayahnya, Rasyid Khalifa adalah seorang pendongeng dan sang ibu, Soraya, adalah seorang pendendang lagu. Nah, pada suatu hari, Sang Pendendang Lagu ini kabur dengan tetangganya. Hal ini menyebabkan Harun menderita amnesia 11 menit serta samudera dongeng ayahnya tersumbat. Dan untuk menyelamatkan ayahnya, Harun harus mengarungi Samudera Dongeng untuk membuka kembali saluran langganan ayahnya.

Saya tahu, nama ‘seram’ Salman Rushdie mungkin membuat kebanyakan kita berkerut, walaupun gak gitu ngeh juga kenapa. Salman Rushdie terkenal saat dia dijatuhi fatwa mati oleh pemimpin spiritual Iran Imam Ayatullah Khomaini akibat dari bukunya yang berjudul The Satanic Verses yang dianggap menghina Islam.

Buat saya pribadi, masakah hanya karena satu buku bermasalah maka semua bukunya kita tidak baca? Lagian, kalo hanya gara-gara baca buku aja kadar keimanan kita jadi terancam, lah, yang perlu dipertanyakan sebetulnya keimanan kita itu sendiri. Emang sebegitu goyah, kah? Lagian, terkadang sebuah fatwa (Fatwa itu apa sih? Fatwa itu kan hanya pendapat, bukan keputusan hukum yang disepakati) terpengaruh pada perasaan atau kesalahfahaman. Contohnya, Nawal el Saadawi pernah dijatuhi talaq dari pengadilan agama di Mesir yang menyatakan bahwa pernikahannya dengan suaminya, Dokter Syarif Hetata, dianggap berakhir karena Nawal telah murtad.

Laaah, Nawal-nya sewot. Gak tau apa-apa, mendadak dicerai oleh negara.

Ternyata ini diawali karena suatu kali, tetangganya Nawal datang minta nasihat, atau lebih tepatnya curhat khas ibu-ibu. Tetangganya ini sedih karena anaknya tidak bisa melanjutkan sekolah gara-gara tabungannya untuk sekolah anaknya diambil secara paksa oleh suaminya untuk biaya pergi haji. Menurut Nawal, kewajiban suami memenuhi nafkah keluarganya lebih tinggi daripada kewajiban haji yang hanya jika mampu. Nah, pendapatnya ini tersiar kemana-mana yang mungkin aja ditambah-tambahin jadilah seakan dia menghujat haji yang menurutnya warisan jahiliah (etapi kan emang bener haji itu sudah ada dari jalan jahiliah hanya ‘di-Islam-kan’ oleh Nabi Muhammad SAW). Ada seorang imam yang mengatakan bahwa karena pendapatnya ini, Nawal el Saadawi telah murtad dari Islam. Dan karena itu, pernikahannya dengan suaminya tidak lagi sah.

Ebuset! Tapi untungnya pengadilan memutuskan pembatalan perceraian-paksa itu.

Ibu Nawal dan anak perempuannya, Mona Helmy, juga pernah dituduh murtad atas tulisan-tulisan mereka agar menghormati nama ibu. Tapi kasus ini justru malah menimbulkan hukum di Mesir bahwa seorang anak harus meletakkan nama ibunya jika dia tidak tahu (atau tidak diakui) ayahnya. Sesuai dengan hukum islam, kan, malahan. Seseorang anak diluar pernikahan sah harus ber-bin (atau binti) kepada ibunya.

Hahaha..Lo kebayang gak sih kalo musti mengalami hal-hal kayak Ibu Nawal ini? Kalo dipikir-pikir, kalo sesuai tuduhan orang, itu Ibu Nawal udah murtad berapa kali, tuh?

19. Buddha karya Karen Armstrong (non fiksi)

Buku ini tipis, namun karena sedikit sekali informasi tentang agama Buddha yang saya tahu, maka jadinya buku yang sangat bergizi. Dan cocok juga karena ini memang ditulis orang luar yang ingin mengenal sedikit tentang Sang Buddha.

 

 

20. They Came to Baghdad karya Agatha Christie

Buku ini, seperti banyak kisah-kisah Agatha Christie dengan setting negara-negara timur jauh, terinspirasi dari perjalanan-perjalanannya mendampingi suaminya, Sir Max Mallowan, dalam melakukan penelitian dan penggalian arkeologi. Saya suka tokoh utamanya si Vitoria yang tukang bohong dan impulsive!

 

 

 

21. Selamatkan Islam dari Muslim Puritan karya Khaled Abou el Fadl (non fiksi)

Saya tidak suka dengan judul buku ini, terlalu provokatif. Isinya, bukan sesuatu yang baru. Beberapa hal adalah hal-hal yang sudah kita ketahui bersama bahwa apa yang dikatakan organisasi-organisasi macam ISIS, itu hanya salah satu wajah dari umat Islam. Tapi karena buku ini terbit di Amerika ditulis oleh orang Amerika, mungkin memang jadinya penting.

 

 

 

22. Death in The Cloud karya Agatha Christie

Ini kasus yang biasa saja menurut saya. Ada sekelompok orang di dalam satu tempat tertutup (dalam pesawat terbang mewah), dan salah satu terbunuh. Pak Hercule Poirot ada di situ. Ampun, dah, kalo saya lagi traveling trus ada bapak-bapak berpakaian necis norak kepalanya bulat telur kumisnya gede, saya bakalan kabur dari situ. Takut ada yang mati, cuy…

 

 

23. Kumpulan Cerpen: Janda Muda karya Nh. Dini

Hal yang menarik saat saya membaca buku ini justru bukan karena ceritanya, tapi karena judulnya yang nampaknya menarik. Bikin bête juga karena selama saya membaca buku ini, semua orang yang disekitar saya akan berkomentar atau bertanya-tanya isi bukunya tentang apa. Lama-lama, bikin bête juga. Lah, saya kan emang selalu baca buku. Selama ini gak ada tuh yang iseng nanya-nanya lagi baca apa—kecuali anak-anak yang justru selalu nanya bukunya bagus gak ceritanya tentang apa. Tapi ini mungkin karena judulnya menggelitik, jadilah saya diganggu sana dan sini.

 

 24. Murder is Easy karya Agatha Christie

Selain membaca karya-karya Agatha Christie, saya juga mengikuti serial Agatha Christie’s Poirot dan Agatha Christie’s Marple di BBC, tapi saya tidak pernah membaca dan menonton satu kisah yang sama…sebelumnya. Murder is Easy adalah yang pertama.

Saya suka cara tv serinya mengintepretasikan karya Agatha Christie. Gak plek seperti buku—yang menurut saya okey aja toh cucunya Agatha, pemilik hak cipta seluruh karya Agatha Christie, gak keberatan dengan itu. Dan BBC menerjemahkan dengan mulus.

Luke Friswilliam, polisi Inggris yang baru saja pulang dari masa tugas di luar negeri bertemu dengan seorang perempuan di kereta. Perempuan itu mengatakan kepadanya bahwa membunuh itu gampang. Bahkan, di desanya telah terjadi serangkaian pembunuhan yang luput dari kecurigaan. Dan bahwa dia saat ini sedang dalam perjalanan ke Scotland Yard untuk melakukan pelaporan. Luke menganggap itu hanya omongan ibu-ibu di kereta (Hayo siapa yang sering mengalami juga? Sering kan kita di kereta atau di bis mendadak ibu-ibu di sebelah cerita yang enggak-enggak?), bukan sesuatu yang perlu diseriusi. Namun, saat si ibu itu dibunuh orang, Luke mulai menyadari bahwa apa yang dikatakan ibu itu mungkin benar.

25. Naked Traveler 1 karya Trinity (non fiksi)
26. Naked Traveler 2 karya Trinity (non fiksi)
27. Naked Traveler 3 karya Trinity (non fiksi)
28. Naked Traveler 4 karya Trinity (non fiksi)
29. Naked Traveler 1 Year Around The World Part 1 karya Trinity (non fiksi)
30. Naked Traveler 1 Year Around The World Part 2 karya Trinity (non fiksi)

Karya-karya Trinity perjalanannya mengelilingi dunia. Saya lebih suka karya-karya awalnya yang lebih merupakan kumpulan sesuai tema. Dua buku terakhir jadi semacam kayak panduan traveling menurut saya. Agak ‘bolong-bolong’ di tengah. Kurang padat.

31. Tirai Menurun karya Nh. Dini

Tepat disaat saya berpikir nampaknya sudah agak bosan dengan karya-karyanya Ibu Nh. Dini, dan saya membaca buku ini!

Menceritakan empat tokoh utama yang awalnya tak saling mengenal tapi akhirnya bertemu di sebuah panggung pewayangan Kridopangangarso. Empat orang itu adalah Kedasih, Kintel, Sumirat, dan Wardoyo.

Saya sangat suka karya-karya Ibu Dini yang berlatar Indonesia kalau dibandingkan yang berlatar di luar negeri, dan khususnya yang berseting tahun awal-awal kemerdekaan. Mungkin karena bagi saya—yang lahir jaman sekarang di Jakarta pula—jadi mengingatkan cerita-cerita almarhum nenek saya pada kehidupan beliau saat masih muda.

32. The 100-Year Old Man Who Climbed Out of The Window and Dissappeared karya Jonas Jonasson

Ini seperti kisah Forest Gump versi lebih pinter dan udah tua. Bayangin, kakek-kakek 100 tahun lompat dari jendela dan kabur dari pesta ulang tahunnya sendiri.

Selanjutnya, karena bingung mau apa dan kemana, si kakek duduk di terminal. Kemudian datang seorang anak muda tergopoh-gopoh nitipin tas kopernya. Si kakek ini mendadak berdiri dan masuk ke dalam bus dengan koper anak muda itu dibawanya—entah kenapa. Maka mulailah pengejaran yang aneh. Wartawan dan pemerintah menyangka si kakek diculik oleh sekawanan geng motor Never Again (yang dulunya bernama The Violence etapi karena yang jahit gak bisa ngeja, jadilah namanya The Violins, hahaha…), si anak muda ngejar-ngejar si kakek karena kopernya yang berisi penuh uang kebawa sama si kakek yang mungkin gak tahu isi koper itu, dan sekelompok geng ngejar-ngejar anak muda yang ngejar si kakek karena nyangka duitnya dibawa kabur!
Sambil kejar-kejaran, kisah beralih pada masa lalu si kakek yang ternyata, kayak Forest Gump, sangat terlibat dengan berbagai peristiwa sejarah dunia, termasuk Indonesia!

Buku-buku yang masih hutang alias udah mulai dibaca tapi belom selesai-selesai juga sampai di akhir tahun 2014:

1. Perjalanan ke Atap Dunia karya Daniel Mahendra
2. Luka and The Fire of Life karya Salman Rushdie
3. Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco
4. Inferno karya Dan Brown
5. In Cold Blood karya Truman Capote (non fiksi)
6. The Mysterious Mr. Quin karya Agatha Christie
7. The Silkwoorm karya Robert Gilbraith alias JK Rowling
8. The Monogram Murder karya Sophie Hannah
9. The Bible: A Biography karya Karen Armstrong (non fiksi)
10. A Brief History of Time karya Stephen Hawking (non fiksi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s