Pengalaman yang Berharga

Jadi, hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru. Horrayyyy!!

Tahun ini, saya kembali menjadi walikelas anak-anak laki, agak turun ke bawah ke kelas empat. Anak-anak ini, sama gak bisa diemnya dengan kelas terdahulu yang saya ajar, lebih banyak ngomong. Tapi, antusias. Dan nampaknya antusias mereka menular ke saya yang agak-agak kurang semangat menghadapi tahun ajaran yang baru kali ini.
Eniwey, hari pertama, biasanya dipakai buat kegiatan dalam rangka membentuk aturan kelas. Gurunya juga lagi meraba-raba kelas seperti apa yang dia hadapi tahun ini.

Tadi kita melakukan permainan. Saya membacakan sebuah kalimat, seorang anak akan memperagakan, yang lain menebak apa yang diperagakan anak itu. Salah satu pertanyaannya adalah:

‘Pengalaman paling menyedihkan selama di sekolah’

Beberapa anak menunjuk tangan. Tau-tau, ada si-anak-baru-tahun-kemarin, kita sebut saja namanya Fikih, yang saya sering kasihan melihat neneknya.

Loh, kok!

Iya, ini anak pindahan itu tukang ngeberantemin temannya. Gak bisa salah sedikit saja, temannya kena tending, pukul, dan jitak. Ini anak tiap hari diantar jemput oleh neneknya yang sudah tua dan mulai melamban. Dan saya sering kasihan melihat si nenek berusaha untuk menasihati cucunya sambil duduk kelelahan di pelataran masjid sementara si cucu terus nyerocos meledak-ledak ke neneknya.

Ini si Fikih tiba-tiba berteriak:

‘AKU TAHU PENGALAMAN HIDUP YANG MENYEDIHKAN, AKU TAHUU!! Aku punya pengalaman hidup yang menyedihkan tahun kemarin, Bu.’

Anak-anak pada sewot,’Pengalaman menyedihkan di sekolah. Bukan pengalaman hidup.’

‘Iya, niiih, Fikih.’

‘Tapi aku tahu, Bu. AKU TAHU!’

Saya memang ingin menyilahkan ini anak yang memeragakan pengalamannya. Tapi belum apa-apa, si Fikih sudah berteriak duluan.

‘Aku mendapatkan pengalaman hidup yang menyedihkan saat ayah dan ibuku bercerai.’

Mendadak kelas hening. Saya juga bingung mau ngomong apa.

‘Jadi ibu gak usah tanya-tanya nomer telpon ayahku, buat apa? Ayahku udah pergi ninggalin mama sama aku. Kayak gak pernah ada. Aku aja nelpon gak pernah diangkat, apalagi ibu?’

Mukanya mengkerut jengkel.

Sebelumnya, saya memang memberi PR anak-anak yaitu mencatat nomor telpon dan pin BB semua anak di kelas. Itu biasa, semua guru memberikan ‘PR’ itu di kelasnya. Walaupun kami punya arsip nomor dari TU atau guru sebelumnya, tapi suka ada saja yang sudah tidak aktif lagi.

Fikih kemudian bertanya, tadi, apakah nomor ayahnya juga? Saya bilang, ya, nomor ayah dan ibu.

‘Buat apa?’

Kadang, kalau ibumu tidak dapat dihubungi, ibu akan menghubungi ayahmu.

‘Ibu hubungin aku aja, nanti aku kasih tahu ibu, atau nenek.’

Tapi saya bersikeras. Ibu minta nomor ayahmu kalau ada.

….

‘Itu pengalaman hidup yang berharga kata mamaku. Aku dapetin tahun kemarin.’

Dan Saya mendapatkan pengalaman yang berharga hari ini darimu, Nak.

One thought on “Pengalaman yang Berharga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s