Dari The Missing Sampai Kindaichi Case File

Tahun 2015, sama dengan tahun sebelumnya, saya menargetkan diri saya sendiri untuk berhasil menamatkan 40 buah buku. Alasan kenapa saya menargetkan diri saya sendiri jumlah yang sama simple aja: tahun kemarin saya tidak dapat melampaui target itu. Maka saya setel batasnya sama. Daaan, yah, nasibnya sama juga, sih. Saya masih belum berhasil melewati batas tersebut.

Bukan maksud apa-apa, sebenernya. Mungkin hanya kurang kerjaan saja. Atau apalah, ya. Tapi yang jelas, terkadang saya agak terganggu dengan kenyataan bahwa itu buku-buku saya sudah menumpuk dengan jumlah koleksi yang sudah melampaui koleksi buku bacaan di SD tempat saya mengajar (buku bacaan, loh, ya. Bukan koleksi plus referensi de el el).

Agak capek juga karena barang-barang di ruangan saya musti digeser terus-terusan demi buku-buku itu (Sampe lemari pakaian saja ngalah dengan rak buku).

Orang-orang di sekitar saya juga selalu ‘rese’ komentar bahwa saya selalu terlihat sedang membaca. Dari mulai heran, kadang ada yang melihat dengan pandangan kagum gitu yang dengan segera berubah jadi, seperti semua orang di sekitar saya nampaknya, jengkel. Teman serumah saya berkali-kali bertanya (entah serius entah nanya karena terlalu sewot saja) tentang berapa buku sih sebenarnya yang saya tamatkan setiap tahunnya??!!!

*Uh, bawel!!*

Dan saat itulah saya mulai menghitung melalui Goodreads.

Saya cukup terkejut saat menemui hasilnya: bahkan gak melampaui 40 buku pertahun, kok! Gak banyak-banyak amat! Baca lebih lanjut

Iklan

Lompatan Jauh ke Depan

‘Makan di kantin,’ kata Ketua Regu, sambil melambaikan tangan. ‘Dusun sudah dibikin kantin. Wajan sudah dihancurkan, siapa pun tak perlu lagi masak di rumah. Kalian semua hemat tenaga, supaya kita semua bersama berlari menuju komunisme. Kalau kalian lapar cukup angkat kaki berangkat ke kantin sana. Mau ikan, mau daging, semua boleh makan sekenyang-kenyangnya sampai mati.’

Sambil baca tulisan di bawah ini, cobalah sekalian browsing dengan kalimat yang saya tuliskan menjadi judul dan lihat apa yang ada di hasilnya. Yep, bencana kelaparan paling parah yang melanda manusia yang tercatat pada abad ke-20. Angkanya tentu tidak kompak tergantung kepentingan masing-masing yang mencari data.

Pemerintah Cina mengatakan bahwa jumlah korban mencapai 21 juta jiwa, sementara ada pihak yang mengatakan bahwa korban mati karena kelaparan mencapai 70 juta jiwa. Namun, dari banyak data, yang sering keluar adalah bahwa korban tewas dalam waktu beberapa tahun itu saja mencapai lebih dari 45 juta jiwa. Sebagian besar dari mereka mati kelaparan, kelelahan, dan dikubur hidup-hidup karena ketahuan mencuri makanan.

Pertama kali saya mengetahui tentang bencana kelaparan di Cina akibat ‘Lompatan Jauh ke Depan’ itu sekitar 15 tahun yang lalu saat saya membaca sebuah buku di perpustakaan yang berisi beragam fakta menarik di dunia. Di situ dituliskan, bencana kelaparan terparah yang tercatat adalah pada suatu masa pemerintahan Mao Zedong, rakyat Cina terpaksa harus menjadi kanibal. Bahkan sebelum mati, terkadang seseorang sudah mewanti-wanti anak-anaknya agar memakan bagian yang ini darinya, dan yang itu. Mayat-mayat, atau anak kecil yang sudah tidak sanggup bergerak lagi dijual dan dipertukarkan untuk dimakan keluarga yang lain.

Pada tahun 2010, Frank Dikotter, seorang ahli sejarah menulis buku berjudul Mao’s Great Famine: The History of China’s Most Devastating Catastrophe, 1958–62. Buku ini mengulas tentang apa yang terjadi dibalik politik ‘Lompatan Jauh ke Depan’ yang digagas oleh pemimpin besar Cina yang sampai sekarang masih di elu-elukan, Mao Zedong.

Baca lebih lanjut

Buku 2015 Part 1: The Missing, 3360, Kemayoran, The Casual Vacancy, dan The Twits

1. The Missing karya Chris Mooney

Knowing someone isn’t coming back doesn’t mean you ever stop waiting (Toby Barlow)

Belasan wanita hilang diculik. Berpuluh tahun kemudian mereka semua ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan—baik mati mauoun hidup. Mereka dijadikan permainan, seperti tikus yang dikurung dalam labirin penyiksaan. Tiap perubahan yang terjadi pada mereka, sejak diculik hingga mati diabadikan si pelaku dengan foto. Mereka yang masih bisa bertahan hidup ditemukan tinggal tulang berbalut kulit yang telah ditumbuhi bulu-bulu halus seperti layaknya binatang.

Paragraph diatas saya ambil dari cuplikan sampul belakang buku. Serem, ya? Well, kenyataannya, kisahnya sih gak seserem itu.

Diawali dengan tiga cewek SMA—Darby, Melanie, dan Stacy–yang hangout di hutan nyoba-nyoba minum minuman keras. Tak disangka, mereka malah jadi saksi dari suatu percobaan pembunuhan. Saat polisi tiba, si penyerang sudah tidak ada. Satu bulan kemudian, Darby yang sedang sendirian di rumah diserang oleh seseorang yang memakai topeng. Berhasil melindungi diri, Darby mendapati sahabatnya Melanie yang sudah berada di tangan penyerang memanggil-manggilnya untuk menemuinya. Awalnya Darby ingin keluar dari persembunyian, tapi karena melihat Stacy yang sudah tergeletak mati, dia memilih untuk melarikan diri dan membiarkan Melanie menangis memanggil-manggilnya sampai suaranya hilang.

Pada tahun 2007, Darby yang sudah dewasa bekerja sebagai CSI (forensik) di Boston Police Department menemukan seorang perempuan dalam kondisi sangat mengenaskan berada di sekitar TKP yang sedang ditanganinya. Perempuan ini menderita mallnutrisi yang parah dan terganggu secara psikologis. Penyelidikan Darby kemudian menemukan bahwa perempuan yang ditemukannya ini adalah seseorang yang sangat berkaitan dengan Melanie, sahabatnya yang hilang duapuluh tiga tahun yang lalu.

Beneran saya agak kesel karena merasa dibohongin sama cuplikan dan gambar sampul depannya yang bikin merinding. Well, don’t judge a book by the cover, ya, kan?

Sebenernya kisahnya lumayan juga, Cuma gak sesuai dengan yang saya harapkan aja yang bikin saya agak kecewa. Gak horror, dan terlalu ‘tipis’ juga kalau mau dibilang novel. Premisnya asik, tapi kurang dielaborasi aja. Atau mungkin karena inimemang ini adalah buku pertama dari serial CSI Darbie McCormick.

Baca lebih lanjut

The Casual Vacancy

All these kind words. They’ve made up for what has been truly rubbish day, so thank you, and there’s to be an election to take my place.

Now, come on, Pagford, did you think I wouldn’t have something to say about this? Of course I do. A little thing like death isn’t going to hold me back.

But what am I going to say and when am I going to say it?
You’ll know, when I’m ready.

It’s impossible to keep secrets in this place, isn’t it?

Oh, you’d surprised, Pagford. Everyone’s got skeletons rattling in their cupboard.

Everyone’s got something.

I am the ghost of Barry Fairbrother…
.. and I am watching you.

Jadi ceritanya ada sebuah kota kecil di Inggris yang jauh dari keramaian kota. Semacam St. Mary Mead tempat tinggalnya Miss Jane Marple-nya Agatha Christie, lah. Nama kota ini adalah Pagford, berbatasan dengan Yarvil. Kemudian berbatasan juga dengan dua kota kecil tersebut adalah suatu wilayah yang disebut Field. Tiga wilayah ini adalah latar dari kisah The Casual Vacancy.

Kehidupan di pagford berjalan seperti layaknya sebuah kota kecil. Kemudian pada suatu hari, Berry Fairbrother meninggal dunia secara mendadak di lapangan parkir sebuah rumah makan. Dia dan istrinya, Mary, hendak makan malam merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Tiba-tiba saja Berry terjatuh, muntah, lalu menghembuskan nafas terakhirnya.

Barry meninggal dunia pada usia 40 tahun dalam rengkuhan istrinya, tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-19. Penyebabnya, Aneurisma. Pecahnya pembuluh darah di otak.

Well, isn’t that beautiful?

Barry dan Mary Fairbrother

Barry dan Mary Fairbrother

Barry bukan penduduk biasa. Dia adalah ketua dewan kota yang benar-benar memberikan seluruh hatinya demi kepentingan semua. Tentu saja, kematiannya ini akan memicu beberapa pergerakan dan perubahan di dalam kota. Dalam suasana Casual Vacancy (kekosongan jabatan), suhu politik di kota kecil ini mulai menghangat.

Saya kira, dari segambreng tokoh yang ada dalam kisah–beneran sumpah banyak banget!–dapat dikerucutkan dalam tiga kelompok calon pengganti Barry. Baca lebih lanjut

Six Suspects

Never judge a man’s actions until you know his motives

Ini kisah pembunuhan, genre yang selalu menjadi pilihan pertama bahan bacaan saya. Kedua, penulisnya orang India dan bersetting di India. Itu juga salah satu daya tarik bagi saya.

Eits, jangan salah, saya bukan penggemar kisah-kisah India dalam bentuk film apalagi sinteron. Gak ada satupun film India atau sinetron India yang saya suka—dan karena itu saya ogah nonton. My Name is Khan ataupun Tiga Idiot yang kata orang bagus pun saya baru nonton seperempat jam udah ngantuk berat. Jangan masupin Slumdog Millionaire, deh. Itu kan film Hollywood besutan Danny Boyle, sama kayak Life of Pi yang dari novelnya yang bikin orang Kanada filmnya dibikin Hollywood disutradarai orang Cina.

Tapi buku India, itu lain soal.

Dari jaman Apparajito-nya Barneji sampe The God of Small Things, saya selalu menyukai novel India khususnya karya moderennya. Karena itulah Six Suspects dengan tanpa ragu saya ‘klik’ beli dari toko buku online tempat saya membeli. Baru ngeh kemudiannya kalau ini adalah karya Vikas Swarup. Itu, loh, yang nulis Slumdog Millionaire.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian yang langsung ngingetin saya dengan Tokyo Zodiac Murder, namun ketika mulai membacanya saya malah jadi kayak baca proposal atau makalah, hehe.. Kalau seringnya baca buku susah membayangkan bagaimana jika dibuat film, kisah ini justru dari awalnya kita langsung seakan berada di dalam sebuat film.

Bagian-bagian buku ini adalah sebagai berikut: Baca lebih lanjut

Buku 2014 II: Dari Haruki Murakami sampai Jonas Jonasson

Sebelumnya, baca ini dulu saja..

15. Norwegian Wood karya Haruki Murakami

Seperti biasa karya Haruki Murakami selalu memberikan rasa dinginnya kesepian. Entah kenapa ini orang selalu membuat tokoh-tokoh utamanya penyendiri dan seakan hidup dalam kepalanya sendiri. Tidak mudah, walaupun tidak sulit untuk bertahan saat mulai membacanya.

Jadi, ini ceritanya tentang Watanabe yang dikelilingi oleh orang-orang yang depresif. Sahabatnya bunuh diri, kekasihnya bunuh diri, kekasih sobatnya juga bunuh diri. Saya kira ini lebih mengenai penerimaan dan apa yang terjadi kemudiannya. Baca lebih lanjut

Buku 2014 I: Dari JK Rowling ke Nh. Dini

Jadi ceritanya, awal tahun 2014 saya sok-sok-an gitu pengen ikutan reading chalange-nya Goodreads. Yaaa, masalahnya juga saya emang demen baca, hanya saja beberapa tahun belakangan ini, jumlah buku yang saya baca rasa-rasanya berkurang. Tentu saja karena kesibukan kerjaan jadilah kecepatan saya menghabiskan buku bacaan menyurut tajam. Pun sebenernya ikutan reading chalange ini bukan juga buat mem-push diri saya, tapi pengen tahu dan bikin catatan sebenarnya berapa buku sih yang berhasil saya baca dalam jangka waktu satu tahun?

Buku bacaan, loh, ya.. Buku yang saya baca karena kesenangan saja. Tapi kalau bahan bacaan, sih, kayaknya sama saja banyaknya. Tapi gak gitu menyenangkan misalnya buku-buku pelajaran sekolah (Apa asiknya itu?) atau diktat kuliah, lghhhhhh…. Itu, kan, karena musti aja, ya, kan?

Baidewei, saya mencoba menuliskan target akan bisa menyelesaikan 40 buah buku bacaan—yang menyenangkan tidak termasuk dua majalah yaitu National Geography dan Cinemags setiap bulannya —sepanjang tahun 2014. Ternyata hanya mampu menyelesaikan 32 buku saja. Masih ada hutang delapan buku, cuy…

Ini adalah daftar buku yang dapat saya selesaikan sepanjang tahun 2014. Saya tulis sesuai dengan urutan saya menyelesaikannya, bukan urutan saya mulai membacanya.

1. The Cuckoo’s Calling karya Roberth Galbraith alias JK Rowling. Baca lebih lanjut