Kasihan Cewek

Jadi saat itu, beberapa hari yang lalu, saya memberi tugas kepada anak-anak untuk membuat kalimat dari kata-kata tertentu. Kata-kata ini adalah nama-nama organ pencernaan manusia.

Daaan, salah satu anak kalimatnya membuat saya mengangkat alis.

‘Adikku membuang air kecil dengan menggunakan anus.’

Hah?

‘Akbar, ini kok isi kalimatnya gak biasa? Kenapa si adik buang air kecil menggunakan anus?’

Saya ketawa. Saya mengira si Akbar salah menulis. Harusnya ‘buang air besar’, tapi dia salah menuliskannya menjadi ‘buang air kecil’

‘Lah, ibu, kan adikku ini ceritanya perempuan.’

….

‘Teruuuuus….’

‘Iya, makanya buang air kecilnya di anus.’

Saya mengernyitkan alis. Si Akbar kemudian menghela nafas.

‘Kasihan, ya, Bu. Perempuan itu. Ibu juga. Soalnya buang air kecilnya lewat anus.’ Dia menggeleng-geleng kepala. Baca lebih lanjut

Iklan

Buku 2014 II: Dari Haruki Murakami sampai Jonas Jonasson

Sebelumnya, baca ini dulu saja..

15. Norwegian Wood karya Haruki Murakami

Seperti biasa karya Haruki Murakami selalu memberikan rasa dinginnya kesepian. Entah kenapa ini orang selalu membuat tokoh-tokoh utamanya penyendiri dan seakan hidup dalam kepalanya sendiri. Tidak mudah, walaupun tidak sulit untuk bertahan saat mulai membacanya.

Jadi, ini ceritanya tentang Watanabe yang dikelilingi oleh orang-orang yang depresif. Sahabatnya bunuh diri, kekasihnya bunuh diri, kekasih sobatnya juga bunuh diri. Saya kira ini lebih mengenai penerimaan dan apa yang terjadi kemudiannya. Baca lebih lanjut

Baru Lagi!

Beberapa saat yang lalu, saya membaca postingan lama tentang tahun depan mau ngapain. Yaelaaah, ribet banget, gua dulu, yak..

Tapi dalam beberapa hal, saya merindukan diri saya yang dulu, yang meledak-ledak optimis dan doyan ngelucu. Sekarang saya gak lucu lagi. Apalagi enam bulan belakangan, saya jadi pemarah. Kerjaannya sewot melulu ke rekan-rekan kerja khususnya. Makanya cukup kaget pas bagi rapot beberapa saat yang lalu, para orangtua murid saya bilang: Baca lebih lanjut

Buku 2014 I: Dari JK Rowling ke Nh. Dini

Jadi ceritanya, awal tahun 2014 saya sok-sok-an gitu pengen ikutan reading chalange-nya Goodreads. Yaaa, masalahnya juga saya emang demen baca, hanya saja beberapa tahun belakangan ini, jumlah buku yang saya baca rasa-rasanya berkurang. Tentu saja karena kesibukan kerjaan jadilah kecepatan saya menghabiskan buku bacaan menyurut tajam. Pun sebenernya ikutan reading chalange ini bukan juga buat mem-push diri saya, tapi pengen tahu dan bikin catatan sebenarnya berapa buku sih yang berhasil saya baca dalam jangka waktu satu tahun?

Buku bacaan, loh, ya.. Buku yang saya baca karena kesenangan saja. Tapi kalau bahan bacaan, sih, kayaknya sama saja banyaknya. Tapi gak gitu menyenangkan misalnya buku-buku pelajaran sekolah (Apa asiknya itu?) atau diktat kuliah, lghhhhhh…. Itu, kan, karena musti aja, ya, kan?

Baidewei, saya mencoba menuliskan target akan bisa menyelesaikan 40 buah buku bacaan—yang menyenangkan tidak termasuk dua majalah yaitu National Geography dan Cinemags setiap bulannya —sepanjang tahun 2014. Ternyata hanya mampu menyelesaikan 32 buku saja. Masih ada hutang delapan buku, cuy…

Ini adalah daftar buku yang dapat saya selesaikan sepanjang tahun 2014. Saya tulis sesuai dengan urutan saya menyelesaikannya, bukan urutan saya mulai membacanya.

1. The Cuckoo’s Calling karya Roberth Galbraith alias JK Rowling. Baca lebih lanjut

Satu Rindu

Tadi lagi browsing aja tulisan orang-orang di blog mengenai lagu tentang Ibu yang menurut mereka terbaik. Kebanyakan menulis Bunda-nya Melly atau lagu Ibu-nya Iwan Fals. Dua lagu yang gak saya lihat tertulis adalah dua lagu tentang ibu fave saya yaitu Number One For Me-nya Maher Zain dan Satu Rindu Opick feat Amanda.

Mungkin karena keduanya adalah artis dalam bingkai agama, jadi terasa kurang umum.

Satu Rindu, Opick feat Amanda

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamuTerbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu

Alloh izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu oh ibu kau ibu

Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu

Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu oh ibu kau ibu
oh ibu oh ibu

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu kau ibu kau ibu

Tapi bagaimanapun, lagu fave saya tentang Ibu adalah lagunya P Project yang judulnya Tuk Ibu, hehehe…. Kena banget aja gitu. Emak gua banget, dah, tuh!
Waktu ku kecil hidupku amatlah senang
Senang di pangku di pelukan ibuku sayang
Serta dicium dimanjakan membahagiakan
Itu semua namanya kesayangan seorang  Bunda
Heeeeeeey!
Harus nurut!
Kalau tidak Ibu ngancam awas awas awas awas awaaaaas!!
Bila diriku sedang sakit ibuku bilang
‘Sayang, jangan lupa pake jaket baru jalan-jalan.’
Apabila ku telat makan obat, atau vitamin
Diomelin di jewernya kupingku sampai merah jambu
Dimarahin, dinasehatin.
Aku tak pernah sakit hati
bagiku Ibu nomor satu
Aku turuti nasihatmu kini
Dan Aku akan selalu berbaktiiiiiiiiiii, yeaaaaah!!
Itu menjadi satu bukti
Cinta kasihku
Karena di telapak kakinya adanya surga
Ibu kasihmu pada beta, sepanjang masa
Hanya memberi dan tak pernah sampai meminta
Kalau aku dimarahin, aku digamparin
Kalau aku diomelin, gak boleh main
Kalau aku gak boleh main, aku jadi pusing
Kalau aku lagi pusing, aku tendang kucing
Kalau tidak ada kucing, aku banting piring
Kalau aku membanting piring, banyak beling-beling
Lalu aku makan beling, kayak kuda lumping
Maaf, Ibu, Aku hanya main-main
Bagiku, Ibu, adalah….istri bapakku
Salam dari kami, anakmu….METALICA!!!

Tersinggung?

Ini ceritanya kita di tengah-tengah acara classmeting. Seorang anak, anggap aja namanya Redo, anakku, keluar kelas tempat lomba spelling bee diadakan.

Hey, Redo. Gimana lombanya?

‘Hancur, Bu. Sepertinya aku kalah. Dan sepertinya aku bikin Bu Guru Juri tersinggung.’

Oh, ya? Tersinggung kenapa?

‘Kan, gini,’ dia mulai memeragakan kembali semua yang terjadi di dalam kelas. ‘Nah, trus, saya gak tahu, tuh, Bu. Bu Gurunya tetep senyum-senyum ke saya. Lalu saya jawab, eh Bu Gurunya menghela nafas.’

Menghela nafas kayak gimana? Emang kamu ngomong apa, sih, kok Bu Guru Tersinggung?

‘Gak ngomong apa-apa, Bu. Begitu aja. Trus Bu Gurunya tersinggung sebab saya gak berhasil jawab.’

…..

Bu Gurunya tersinggung karena kamu gak berhasil jawab?

‘Iya, Bu. Kayaknya Bu Guru ngarepin aku bisa, tapi ternyata gak bisa. Yaudah, deh, Bu Gurunya tersinggung.’

Yaelah, Redo. Itu bukan tersinggung namanya. Tapi kecewa.

‘Oooo… oh, iya, Bu. Kecewa!’

Ya, jadi Bu Gurunya kecewa kamu gak berhasil jawab. Soalnya Bu Guru mengharap kamu bisa jawab, tapi ternyata tidak bisa.

Okey, Bu. Kecewa, ya..

Well, jangan tersinggung saat anak kecil mengatakan sesuatu hal. Mereka kadang belum ahli meletakkan kata yang tepat pada kalimat yang mereka maksudkan.

Janji Tidak Nangis

Suatu kali, saya sedang di lapangan memperhatikan anak-anak saya sedang bermain laaa…. lalu tiba-tibaaa… Ups! Bola yang sedang ditendang anak saya melambung jauh dan berakhir menyerempet dengkul salah satu anak kecil yang sedang berdiri di pinggir lapangan.

Anak itu terjatuh.

Tentu saja kami jadi merubung anak kecil itu yang hebuatnya, dia tidak menangis!

Tapi mukanya mengernyit menahan sakit.

Anakku yang menendang bola itu segera meminta maaf, dan membantu memapah anak kelas satu laki-laki yang terkena bola.

Teman-temannya, anak lelaki kelas satu, megikuti sambil mengingatkan:

‘Firza jangan nangis…. Jangan nangis, ya…’

‘Iya. Firza, kuatkan dirimu. Jangan nangis..’ Baca lebih lanjut