Buku 2015 Part 1: The Missing, 3360, Kemayoran, The Casual Vacancy, dan The Twits

1. The Missing karya Chris Mooney

Knowing someone isn’t coming back doesn’t mean you ever stop waiting (Toby Barlow)

Belasan wanita hilang diculik. Berpuluh tahun kemudian mereka semua ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan—baik mati mauoun hidup. Mereka dijadikan permainan, seperti tikus yang dikurung dalam labirin penyiksaan. Tiap perubahan yang terjadi pada mereka, sejak diculik hingga mati diabadikan si pelaku dengan foto. Mereka yang masih bisa bertahan hidup ditemukan tinggal tulang berbalut kulit yang telah ditumbuhi bulu-bulu halus seperti layaknya binatang.

Paragraph diatas saya ambil dari cuplikan sampul belakang buku. Serem, ya? Well, kenyataannya, kisahnya sih gak seserem itu.

Diawali dengan tiga cewek SMA—Darby, Melanie, dan Stacy–yang hangout di hutan nyoba-nyoba minum minuman keras. Tak disangka, mereka malah jadi saksi dari suatu percobaan pembunuhan. Saat polisi tiba, si penyerang sudah tidak ada. Satu bulan kemudian, Darby yang sedang sendirian di rumah diserang oleh seseorang yang memakai topeng. Berhasil melindungi diri, Darby mendapati sahabatnya Melanie yang sudah berada di tangan penyerang memanggil-manggilnya untuk menemuinya. Awalnya Darby ingin keluar dari persembunyian, tapi karena melihat Stacy yang sudah tergeletak mati, dia memilih untuk melarikan diri dan membiarkan Melanie menangis memanggil-manggilnya sampai suaranya hilang.

Pada tahun 2007, Darby yang sudah dewasa bekerja sebagai CSI (forensik) di Boston Police Department menemukan seorang perempuan dalam kondisi sangat mengenaskan berada di sekitar TKP yang sedang ditanganinya. Perempuan ini menderita mallnutrisi yang parah dan terganggu secara psikologis. Penyelidikan Darby kemudian menemukan bahwa perempuan yang ditemukannya ini adalah seseorang yang sangat berkaitan dengan Melanie, sahabatnya yang hilang duapuluh tiga tahun yang lalu.

Beneran saya agak kesel karena merasa dibohongin sama cuplikan dan gambar sampul depannya yang bikin merinding. Well, don’t judge a book by the cover, ya, kan?

Sebenernya kisahnya lumayan juga, Cuma gak sesuai dengan yang saya harapkan aja yang bikin saya agak kecewa. Gak horror, dan terlalu ‘tipis’ juga kalau mau dibilang novel. Premisnya asik, tapi kurang dielaborasi aja. Atau mungkin karena inimemang ini adalah buku pertama dari serial CSI Darbie McCormick.

Baca lebih lanjut

Iklan

The Casual Vacancy

All these kind words. They’ve made up for what has been truly rubbish day, so thank you, and there’s to be an election to take my place.

Now, come on, Pagford, did you think I wouldn’t have something to say about this? Of course I do. A little thing like death isn’t going to hold me back.

But what am I going to say and when am I going to say it?
You’ll know, when I’m ready.

It’s impossible to keep secrets in this place, isn’t it?

Oh, you’d surprised, Pagford. Everyone’s got skeletons rattling in their cupboard.

Everyone’s got something.

I am the ghost of Barry Fairbrother…
.. and I am watching you.

Jadi ceritanya ada sebuah kota kecil di Inggris yang jauh dari keramaian kota. Semacam St. Mary Mead tempat tinggalnya Miss Jane Marple-nya Agatha Christie, lah. Nama kota ini adalah Pagford, berbatasan dengan Yarvil. Kemudian berbatasan juga dengan dua kota kecil tersebut adalah suatu wilayah yang disebut Field. Tiga wilayah ini adalah latar dari kisah The Casual Vacancy.

Kehidupan di pagford berjalan seperti layaknya sebuah kota kecil. Kemudian pada suatu hari, Berry Fairbrother meninggal dunia secara mendadak di lapangan parkir sebuah rumah makan. Dia dan istrinya, Mary, hendak makan malam merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Tiba-tiba saja Berry terjatuh, muntah, lalu menghembuskan nafas terakhirnya.

Barry meninggal dunia pada usia 40 tahun dalam rengkuhan istrinya, tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-19. Penyebabnya, Aneurisma. Pecahnya pembuluh darah di otak.

Well, isn’t that beautiful?

Barry dan Mary Fairbrother

Barry dan Mary Fairbrother

Barry bukan penduduk biasa. Dia adalah ketua dewan kota yang benar-benar memberikan seluruh hatinya demi kepentingan semua. Tentu saja, kematiannya ini akan memicu beberapa pergerakan dan perubahan di dalam kota. Dalam suasana Casual Vacancy (kekosongan jabatan), suhu politik di kota kecil ini mulai menghangat.

Saya kira, dari segambreng tokoh yang ada dalam kisah–beneran sumpah banyak banget!–dapat dikerucutkan dalam tiga kelompok calon pengganti Barry. Baca lebih lanjut

Buku 2014 II: Dari Haruki Murakami sampai Jonas Jonasson

Sebelumnya, baca ini dulu saja..

15. Norwegian Wood karya Haruki Murakami

Seperti biasa karya Haruki Murakami selalu memberikan rasa dinginnya kesepian. Entah kenapa ini orang selalu membuat tokoh-tokoh utamanya penyendiri dan seakan hidup dalam kepalanya sendiri. Tidak mudah, walaupun tidak sulit untuk bertahan saat mulai membacanya.

Jadi, ini ceritanya tentang Watanabe yang dikelilingi oleh orang-orang yang depresif. Sahabatnya bunuh diri, kekasihnya bunuh diri, kekasih sobatnya juga bunuh diri. Saya kira ini lebih mengenai penerimaan dan apa yang terjadi kemudiannya. Baca lebih lanjut

Hari Buku

Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca setiap kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibanding sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas (Jostein Gaarder)

Foto saya ambil dari 1000 foto kepergok membaca dan koleksi pribadi.

Detektif Detektif

Ini adalah daftar 7 detektif paling keren dalam buku. Menurut versi saya, loh, ya.. Gak berdasarkan penelitian apapun. Cuma iseng aja

Kalo diurut-urut, detektif pertama dalam cerita ternyata ada di kesusastraan arab, yaitu Ja’far ibn Yahya dalam kisah Seribu Satu Malam. Dikisahkan disana bahwa seorang nelayan menemukan locker berat terkunci yang ia jual ke the one and only Khalifah Harun al Rasyid. Begitu dibuka, jreng-jreng!!!! Isinya mayat seorang perempuan dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya terpotong-potong. Sang khalifah kemudian menyuruh penasihatnya, Ja’far ibn Yahya, untuk memecahkan kasus tersebut. Baca lebih lanjut

Ma Yan

Aku harus menahan lapar selama lima belas hari hanya untuk membeli sebatang pena

Ibunda Ma Yan hanya tahu, bahwa menjadi perempuan itu mudah. Tidak perlu sekolah dan pintar. Cukup di rumah, memasak lalu membersihkan rumah. Dan segala kesulitan hidup akan sirna setelah menikah. Ya, menikah akan menyelesaikan banyak hal. Namun ternyata, yang ditemuinya justru, pernikahan adalah awal dari perjuangan keras yang panjang. Tidak, tidak… Dia tidak menyesalkan pernikahannya, ataupun suami yang dipaksakan oleh orangtuanya. Kepada suaminya, dia menghormati dan mendampinginya dengan hati. Disesalkannya adalah kemiskinan. Karena itu, dia berjanji, bahwa anak-anaknya tidak akan hidup seperti dirinya. Semua anaknya musti sekolah. Dia rela melakukan apapun untuk itu.

Namun, keadaan toh akhirnya memaksanya untuk mengeluarkan Ma Yan, anak perempuannya dari sekolah.

Ma Yan tidak mau terima. Dia marah dan memberontak. Anak perempuan berusia 13 tahun ini memang keras kepala. Jarak tempuh antara desa ke sekolah yang sepanjang 12,5 mill telah ditempuhnya selama ini dengan berjalan kaki. Ditengah hantaman musim panas dan dingin, kaki yang membengkak, serta terkadang musti menantang bahaya bertemu bandit di tengah jalan. Dia tidak mau menyerah. Keras kepala. Demi membeli sebatang pena, pernah suatu kali dia menghapus jatah lauk makan siangnya selama lima belas hari. Tidak mengapa. Dia sudah terbiasa lapar.

’Kenapa kedua adik laki-lakiku bisa tetap bersekolah sedangkan aku tidak?’

’Saat dewasa nanti, kamu akan mengerti.’ Kata ibunya.

Tapi Ma Yan tetap tidak mau tahu. Dia menulis surat permohonan yang langsung dibacakannya kepada ibunya yang buta huruf tersebut. Dia memohonkan agar ibunya bersedia untuk memberikan jalan agar dia keluar dari kutukan kemiskinan yang melibat mereka. Sebab, dia tidak mau hidup seperti ibunya yang sengsara dan tidak dapat berbuat apa-apa, atau seperti ayahnya yang selalu dilecehkan dan ditipu orang.

Ibu, Kumohon jangan hentikan langkahku. Aku akan tetap bersekolah, aku harus terus bersekolah! Lakukan sesuatu Ibu, sehingga aku bisa tetap meneruskan sekolahku. Lakukan apa saja, Ibu, meski itu harus mengosongkan mangkok nasiku

Baca lebih lanjut

Tak Selesai

Menonton film The Hours kembali, yang pertama muncul di benak saya adalah: Sial itu Mrs. Dalloway!

Sungguh sial sebab entah berapa kali saya membacanya, saya gagal untuk menyelesaikan. Bukunya tipis, dan menarik sekali sesungguhnya. Tapi entah kenapa, saya tidak pernah sanggup berjalan lebih dari halaman 20-an.

Setiap membaca, saya akan kembali memulai dari awal. Biasanya, tidak selalu. Saya dapat saja membaca beberapa buku, berselang-seling, bahkan terkadang dijeda waktu sampai lama, berbulan-bulan, dan kembali ke halaman yang saya tinggalkan tanpa merasa terganggu atau kehilangan suasana. Yup, suasana langsung kembali saat itu juga. Tapi Mrs. Dalloway, saya akan kehilangan arah. Lalu mulai dari pertama lagi. Sampai pada adegan paling sialan dari seluruh buku, yaitu saat Mrs. Dalloway berada di toko bunga dan mendengar suara letusan kecil, yang sesungguhnya baru awal-awal cerita, maka saya akan tersesat.

Damn!

Tapi Mrs. Daloway bukan satu-satunya. Baca lebih lanjut