The Casual Vacancy

All these kind words. They’ve made up for what has been truly rubbish day, so thank you, and there’s to be an election to take my place.

Now, come on, Pagford, did you think I wouldn’t have something to say about this? Of course I do. A little thing like death isn’t going to hold me back.

But what am I going to say and when am I going to say it?
You’ll know, when I’m ready.

It’s impossible to keep secrets in this place, isn’t it?

Oh, you’d surprised, Pagford. Everyone’s got skeletons rattling in their cupboard.

Everyone’s got something.

I am the ghost of Barry Fairbrother…
.. and I am watching you.

Jadi ceritanya ada sebuah kota kecil di Inggris yang jauh dari keramaian kota. Semacam St. Mary Mead tempat tinggalnya Miss Jane Marple-nya Agatha Christie, lah. Nama kota ini adalah Pagford, berbatasan dengan Yarvil. Kemudian berbatasan juga dengan dua kota kecil tersebut adalah suatu wilayah yang disebut Field. Tiga wilayah ini adalah latar dari kisah The Casual Vacancy.

Kehidupan di pagford berjalan seperti layaknya sebuah kota kecil. Kemudian pada suatu hari, Berry Fairbrother meninggal dunia secara mendadak di lapangan parkir sebuah rumah makan. Dia dan istrinya, Mary, hendak makan malam merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Tiba-tiba saja Berry terjatuh, muntah, lalu menghembuskan nafas terakhirnya.

Barry meninggal dunia pada usia 40 tahun dalam rengkuhan istrinya, tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-19. Penyebabnya, Aneurisma. Pecahnya pembuluh darah di otak.

Well, isn’t that beautiful?

Barry dan Mary Fairbrother

Barry dan Mary Fairbrother

Barry bukan penduduk biasa. Dia adalah ketua dewan kota yang benar-benar memberikan seluruh hatinya demi kepentingan semua. Tentu saja, kematiannya ini akan memicu beberapa pergerakan dan perubahan di dalam kota. Dalam suasana Casual Vacancy (kekosongan jabatan), suhu politik di kota kecil ini mulai menghangat.

Saya kira, dari segambreng tokoh yang ada dalam kisah–beneran sumpah banyak banget!–dapat dikerucutkan dalam tiga kelompok calon pengganti Barry. Baca lebih lanjut

Iklan

Guru dalam Buku dan Film: LouAnne Johnson, Clement Mathieu, Erin Gruwell, dan Joe Clark (Guru di Sekolah Yang Keras)

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba untuk membuat daftar guru terbaik dalam kisah menurut versi saya sendiri, dan menemukan bahwa itu bukan hal yang mudah. Karena walaupun hanya secara subjektif, terserah saya, dan gak gitu serius (biar bagaimanapun ini cuma blog pribadi), namun ternyata gak sesimpel itu.

Pada awalnya, saya ingin memasukkan guru dengan metode-metode inovatif dengan nomor urut paling atas. Saya kira, penting untuk menunjukkan bahwa menjadi guru, atau seorang guru yang ideal, bukan hanya sekedar miskin dan bekerja di daerah terpencil aja. Penggambaran yang nampaknya begitu dominan dalam benak orang. Bahwa menjadi guru, itu artinya seperti Bu Muslimah. Atau menjadi guru yang keren itu adalah berontak pada institusi. Well, pikiran muda kita (saya) memang lebih menyenangi pemberontakan. Tapi kemudian, saya menyadari bahwa ada banyak hal lain yang bisa menjadi pertimbangan atas banyak hal.

Guru bukanlah suatu profesi yang bisa dinilai secara gampang. Misalnya saja, Annie Sulivan terkenal dalam mengasuh dan mendidik satu orang saja, Helen Keller, tapi apakah itu artinya dia guru yang menurut penilaian kita lebih rendah dibandingkan Bu Ema yang mengajar SLB dekat rumah orangtua saya yang notabene telah mendidik puluhan anak tuna netra sepanjang karirnya? Dalam serial Harry Potter, ada Prof. Lupin yang mengajar dengan metode yang bisa dikatakan cukup inovatif, namun apakah itu berarti dia adalah guru yang lebih hebat daripada Prof. McGonagall yang notabene mengajar dengan metode yang klasik dan usang terus begitu selama puluhan tahun karirnya di Hogwarts? Siapa yang lebih keren? Bu Muslimah yang mengajar 10 anak miskin di pulau kecil dengan nyaris tanpa bayaran atau Bu Suci yang mengajar 100 anak di kota Semarang sambil berputar dengan kewajibannya sebagai seorang istri, seorang ibu yang salah satu anaknya sedang sakit cukup parah? Bu Muslimah berangkat sekolah dengan sepeda sementara itu Bu Suci terbirit-birit lari bolak-balik antara rumah sakit dan dua kelas yang menjadi tanggungjawabnya. Well, mereka berdua sama-sama tokoh yang benar-benar nyata. Hidup dan bernafas. Dan saya yakin, dua-duanya sama sekali gak pernah menyangka bahwa pada suatu ketika, ada orang yang mengisahkan hidupnya melalui sebuah novel.

Jadi, bukan sesuatu yang gampang bukan?

Saat menonton Dangerous Minds lagi beberapa hari yang lalu, saya langsung menyadari bahwa LouAnne Johnson adalah seorang guru yang menghadapi masalah yang sama dengan Joe Clark, Clement Mathieu, dan Erin Gruwell. Yep, mereka berempat mendapat kehormatan untuk mengajar di sekolah yang keras, dengan murid-murid yang berasal dari kaum yang terpinggirkan dan terlupakan. Dari empat figur guru ini, tiga orang menggunakan pendekatan yang sama sementara satu orang lebih memilih untuk melawan kekerasan dengan kekerasan juga. Dalam batas yang masih dapat diterima tentu saja. Baca lebih lanjut

Guru dalam Buku dan Film: Pak Guru Gao dan Wei Minzi (Not One Less)

Not One Less memotret kisah di sebuah desa di China, pada akhir decade 90-an. Di desa Shuiquan, hanya ada satu sekolah dengan satu kelas dimana seluruh anak duduk di tempat yang sama berdesakan dengan kondisi yang jauh dari layak Ya, ya.. Kita tahulah selanjutnya bagaimana. Sebuah kisah yang terus berulang, dan merupakan perwakilan, dari jutaan kisah lain yang nyata dan pernah, dan masih bergulir di atas muka bumi ini.

Sekolah dijalankan Pak Guru Gao, oleh seorang guru yang sudah tidak muda lagi. Pak Guru Gao harus menghadapi masalah-masalah ‘biasa’ yang normalnya dihadapi oleh para guru di pedalaman. Kelas yang jauh lebih layak untuk dikatakan sebagai kandang ternak, peralatan yang seadanya, dan upah kerja yang tidak kunjung dibayar. Namun kali ini Pak Guru Gao sedang terkena musibah. Ibundanya sekarat, sehingga beliau harus pergi selama satu bulan meninggalkan anak-anaknya. Sang guru pengganti, adalah Wei Minzi. Seorang anak perempuan berusia 13 tahun. Wei Minzi bukan guru tentu saja, hanya anak petani miskin yang kebetulan pernah mengecap pendidikan setingkat SD sebelumnya. Satu-satunya alasan dia hadir di sekolah adalah bahwa Kepala Desa menjanjikan bayaran sejumlah 50 Yuan (sekitar 75 ribu rupiah) sebagai upah dia menjadi guru pengganti sementara.

Baca lebih lanjut

Guru dalam Buku dan Film: Sister James, Sister Aloisyus, dan Father Flyn (Doubt)

Wuoh, I just love this kind of movie!!!!

Adalah suatu sekolah bernama St. Nicholas. Seperti reputasinya sekolah katolik, sangat disiplin dan ketat. Sang kepsek adalah seorang sister Aloisyus yang begitu tegas, keras kepala, dan seakan menguasai semuanya. Guru disini seperti tidak punya hak untuk memanagemen kelasnya, karena apa-apa, harus selalu lapor kepadanya. Setiap pelanggaran disiplin, setiap keusilan apapun bahkan untuk hal-hal yang wajar dan kecil. Berani bikin ulah, langsung dikirim ke ruang kepsek.

Sister James adalah guru muda yang bisa dikatakan sangat naif. Dia punya banyak harapan dan idealis. Patuh pada aturan, namun diam-diam menyimpan keresahan mengenai sekolah yang menurutnya dijalankan seperti penjara. Tapi dari segenap guru lain, dia adalah satu-satunya orang yang berani bicara. Dan Father Flyn, sejak awal mungkin akan langsung menarik simpati kita sebagai tokoh guru favorit di sekolah ini. Tidak seperti yang lain, dia ramah dan hangat, lebih terbuka, dan mau menyentuh siswanya. Baca lebih lanjut

Pertanyaan Anak II: Asalnya Bayi

Gak bersambung sih, tapi silahkan baca dulu deh tulisan ini.

Sex adalah topik yang paling ngeri dibahas orang dewasa ke anak-anak. Pokoknya deg-deg-gan dah kalo udah makhluk-makhluk kecil manis itu mulai tanya-tanya menyerempet itu. Saya sendiri bingung, apakah lebih ngeri menghadapi anak-anak kecil yang nanya, ataukah remaja tanggung?

Tentu remaja tanggung yah, hiks…

Padahal sebenernya gak gitu serem juga saat sudah melampauinya

Tahun ajaran kemaren saya sempat deg-deg-gan setengah mampus saat harus membahas mengenai pubertas di kelas 5. Saya sudah membaca di banyak artikel dan berdiskusi dengan para guru yang sudah berpengalaman. Tapi tetep aja saya gak bisa ngebayangin gimana bisa berdiri di depan kelas menerangkan tentang mimpi basah atau payudara yang membesar.

Duuuuh!!!! Pengen kabur aja dari kelas lima rasanya!!! Baca lebih lanjut

Belajar dari Serial TV

Akhir-akhir ini saya senang menonton sitkom keluarga tahun 80-an di Channel B. Waktu kecil, saya gak punya TV. Jadi bagi saya, serial ini selalu baru. Dan mengerti saat Oprah suatu hari mengatakan bahwa apa yang hilang pada masa kini adalah sitcom keluarga 80-an. Ringan, lucu, tapi banyak mengajarkan nilai-nilai keluarga pada masyarakat. Maka gak heran, yang namanya keluarga masa kini, jadi gak begitu bermakna lagi.

Saya kira, keluarga jaman sekarang atau dulu tetaplah sama. Hanya bahwa segalanya begitu biasa sampai kita lupa memberi makna atas kejadian sehari-hari yang kita alami. Jadi nampaknya, seperti lenyap begitu saja.

Beberapa kali saya membaca ulang lagi seluruh kisah yang pernah saya tuliskan di blog ini. Sebuah tulisan tentu tidak lepas dari si penulisnya, baik itu kedewasaan berpikir, maupun suasana hati. Bahkan untuk suatu kisah sederhana. Kita memang tidak dapat merubah apa yang telah terjadi, tapi kita bisa merubah pandangan kita terhadap apa yang telah terjadi. Dan kita selalu bisa melihat sesuatu lebih jernih setelah waktu memberi jarak antara kita dan si kisah yang bergulir. Maka dengan menuliskannya, saya tidak hanya punya catatan dan kenangan, namun saya telah memberi makna atas apa yang telah saya lalui. Selain belajar karena otomatis dipaksa untuk merenungi, saya juga bisa lebih bangga pada diri saya sendiri. Baca lebih lanjut

Guru dalam Buku dan Film: Ms. Lee (I Not Stupid)

Daaan, film ini sukses membuat air mata saya meleleh-leleh, hiks… Saya gak cengeng, tapi filmnya emang sedih.

Jack Neo, sutradara, penulis naskah, sekaligus pemain film ini, mendapat inspirasi setelah dia menonton Children of Heaven. Begitu tersentuhnya sampai dia dan istrinya saling berpelukan dan menangis sama-sama, lalu berjanji akan membuat sesuatu seperti itu. Film tentang anak-anak, dari mata anak-anak

I Not Stupid adalah kritik, terhadap kebijakan pemerintah terkait dengan system pendidikan di Singapura, juga satir politik social secara umum. Tapi jangan khawatir, biarpun sarat kritik, film ini ringan dan dapat dinikmati.

Film dibuka oleh adegan di kelas, saat seorang murid bertanya: Baca lebih lanjut