Dari The Missing Sampai Kindaichi Case File

Tahun 2015, sama dengan tahun sebelumnya, saya menargetkan diri saya sendiri untuk berhasil menamatkan 40 buah buku. Alasan kenapa saya menargetkan diri saya sendiri jumlah yang sama simple aja: tahun kemarin saya tidak dapat melampaui target itu. Maka saya setel batasnya sama. Daaan, yah, nasibnya sama juga, sih. Saya masih belum berhasil melewati batas tersebut.

Bukan maksud apa-apa, sebenernya. Mungkin hanya kurang kerjaan saja. Atau apalah, ya. Tapi yang jelas, terkadang saya agak terganggu dengan kenyataan bahwa itu buku-buku saya sudah menumpuk dengan jumlah koleksi yang sudah melampaui koleksi buku bacaan di SD tempat saya mengajar (buku bacaan, loh, ya. Bukan koleksi plus referensi de el el).

Agak capek juga karena barang-barang di ruangan saya musti digeser terus-terusan demi buku-buku itu (Sampe lemari pakaian saja ngalah dengan rak buku).

Orang-orang di sekitar saya juga selalu ‘rese’ komentar bahwa saya selalu terlihat sedang membaca. Dari mulai heran, kadang ada yang melihat dengan pandangan kagum gitu yang dengan segera berubah jadi, seperti semua orang di sekitar saya nampaknya, jengkel. Teman serumah saya berkali-kali bertanya (entah serius entah nanya karena terlalu sewot saja) tentang berapa buku sih sebenarnya yang saya tamatkan setiap tahunnya??!!!

*Uh, bawel!!*

Dan saat itulah saya mulai menghitung melalui Goodreads.

Saya cukup terkejut saat menemui hasilnya: bahkan gak melampaui 40 buku pertahun, kok! Gak banyak-banyak amat! Baca lebih lanjut

Pengalaman yang Berharga

Jadi, hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru. Horrayyyy!!

Tahun ini, saya kembali menjadi walikelas anak-anak laki, agak turun ke bawah ke kelas empat. Anak-anak ini, sama gak bisa diemnya dengan kelas terdahulu yang saya ajar, lebih banyak ngomong. Tapi, antusias. Dan nampaknya antusias mereka menular ke saya yang agak-agak kurang semangat menghadapi tahun ajaran yang baru kali ini.
Eniwey, hari pertama, biasanya dipakai buat kegiatan dalam rangka membentuk aturan kelas. Gurunya juga lagi meraba-raba kelas seperti apa yang dia hadapi tahun ini.

Tadi kita melakukan permainan. Saya membacakan sebuah kalimat, seorang anak akan memperagakan, yang lain menebak apa yang diperagakan anak itu. Salah satu pertanyaannya adalah:

‘Pengalaman paling menyedihkan selama di sekolah’

Beberapa anak menunjuk tangan. Tau-tau, ada si-anak-baru-tahun-kemarin, kita sebut saja namanya Fikih, yang saya sering kasihan melihat neneknya.

Loh, kok!

Iya, ini anak pindahan itu tukang ngeberantemin temannya. Gak bisa salah sedikit saja, temannya kena tending, pukul, dan jitak. Ini anak tiap hari diantar jemput oleh neneknya yang sudah tua dan mulai melamban. Dan saya sering kasihan melihat si nenek berusaha untuk menasihati cucunya sambil duduk kelelahan di pelataran masjid sementara si cucu terus nyerocos meledak-ledak ke neneknya.

Ini si Fikih tiba-tiba berteriak:

‘AKU TAHU PENGALAMAN HIDUP YANG MENYEDIHKAN, AKU TAHUU!! Aku punya pengalaman hidup yang menyedihkan tahun kemarin, Bu.’

Anak-anak pada sewot,’Pengalaman menyedihkan di sekolah. Bukan pengalaman hidup.’

‘Iya, niiih, Fikih.’

‘Tapi aku tahu, Bu. AKU TAHU!’

Saya memang ingin menyilahkan ini anak yang memeragakan pengalamannya. Tapi belum apa-apa, si Fikih sudah berteriak duluan.

‘Aku mendapatkan pengalaman hidup yang menyedihkan saat ayah dan ibuku bercerai.’ Baca lebih lanjut

Lompatan Jauh ke Depan

‘Makan di kantin,’ kata Ketua Regu, sambil melambaikan tangan. ‘Dusun sudah dibikin kantin. Wajan sudah dihancurkan, siapa pun tak perlu lagi masak di rumah. Kalian semua hemat tenaga, supaya kita semua bersama berlari menuju komunisme. Kalau kalian lapar cukup angkat kaki berangkat ke kantin sana. Mau ikan, mau daging, semua boleh makan sekenyang-kenyangnya sampai mati.’

Sambil baca tulisan di bawah ini, cobalah sekalian browsing dengan kalimat yang saya tuliskan menjadi judul dan lihat apa yang ada di hasilnya. Yep, bencana kelaparan paling parah yang melanda manusia yang tercatat pada abad ke-20. Angkanya tentu tidak kompak tergantung kepentingan masing-masing yang mencari data.

Pemerintah Cina mengatakan bahwa jumlah korban mencapai 21 juta jiwa, sementara ada pihak yang mengatakan bahwa korban mati karena kelaparan mencapai 70 juta jiwa. Namun, dari banyak data, yang sering keluar adalah bahwa korban tewas dalam waktu beberapa tahun itu saja mencapai lebih dari 45 juta jiwa. Sebagian besar dari mereka mati kelaparan, kelelahan, dan dikubur hidup-hidup karena ketahuan mencuri makanan.

Pertama kali saya mengetahui tentang bencana kelaparan di Cina akibat ‘Lompatan Jauh ke Depan’ itu sekitar 15 tahun yang lalu saat saya membaca sebuah buku di perpustakaan yang berisi beragam fakta menarik di dunia. Di situ dituliskan, bencana kelaparan terparah yang tercatat adalah pada suatu masa pemerintahan Mao Zedong, rakyat Cina terpaksa harus menjadi kanibal. Bahkan sebelum mati, terkadang seseorang sudah mewanti-wanti anak-anaknya agar memakan bagian yang ini darinya, dan yang itu. Mayat-mayat, atau anak kecil yang sudah tidak sanggup bergerak lagi dijual dan dipertukarkan untuk dimakan keluarga yang lain.

Pada tahun 2010, Frank Dikotter, seorang ahli sejarah menulis buku berjudul Mao’s Great Famine: The History of China’s Most Devastating Catastrophe, 1958–62. Buku ini mengulas tentang apa yang terjadi dibalik politik ‘Lompatan Jauh ke Depan’ yang digagas oleh pemimpin besar Cina yang sampai sekarang masih di elu-elukan, Mao Zedong.

Baca lebih lanjut

Buku 2015 Part 1: The Missing, 3360, Kemayoran, The Casual Vacancy, dan The Twits

1. The Missing karya Chris Mooney

Knowing someone isn’t coming back doesn’t mean you ever stop waiting (Toby Barlow)

Belasan wanita hilang diculik. Berpuluh tahun kemudian mereka semua ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan—baik mati mauoun hidup. Mereka dijadikan permainan, seperti tikus yang dikurung dalam labirin penyiksaan. Tiap perubahan yang terjadi pada mereka, sejak diculik hingga mati diabadikan si pelaku dengan foto. Mereka yang masih bisa bertahan hidup ditemukan tinggal tulang berbalut kulit yang telah ditumbuhi bulu-bulu halus seperti layaknya binatang.

Paragraph diatas saya ambil dari cuplikan sampul belakang buku. Serem, ya? Well, kenyataannya, kisahnya sih gak seserem itu.

Diawali dengan tiga cewek SMA—Darby, Melanie, dan Stacy–yang hangout di hutan nyoba-nyoba minum minuman keras. Tak disangka, mereka malah jadi saksi dari suatu percobaan pembunuhan. Saat polisi tiba, si penyerang sudah tidak ada. Satu bulan kemudian, Darby yang sedang sendirian di rumah diserang oleh seseorang yang memakai topeng. Berhasil melindungi diri, Darby mendapati sahabatnya Melanie yang sudah berada di tangan penyerang memanggil-manggilnya untuk menemuinya. Awalnya Darby ingin keluar dari persembunyian, tapi karena melihat Stacy yang sudah tergeletak mati, dia memilih untuk melarikan diri dan membiarkan Melanie menangis memanggil-manggilnya sampai suaranya hilang.

Pada tahun 2007, Darby yang sudah dewasa bekerja sebagai CSI (forensik) di Boston Police Department menemukan seorang perempuan dalam kondisi sangat mengenaskan berada di sekitar TKP yang sedang ditanganinya. Perempuan ini menderita mallnutrisi yang parah dan terganggu secara psikologis. Penyelidikan Darby kemudian menemukan bahwa perempuan yang ditemukannya ini adalah seseorang yang sangat berkaitan dengan Melanie, sahabatnya yang hilang duapuluh tiga tahun yang lalu.

Beneran saya agak kesel karena merasa dibohongin sama cuplikan dan gambar sampul depannya yang bikin merinding. Well, don’t judge a book by the cover, ya, kan?

Sebenernya kisahnya lumayan juga, Cuma gak sesuai dengan yang saya harapkan aja yang bikin saya agak kecewa. Gak horror, dan terlalu ‘tipis’ juga kalau mau dibilang novel. Premisnya asik, tapi kurang dielaborasi aja. Atau mungkin karena inimemang ini adalah buku pertama dari serial CSI Darbie McCormick.

Baca lebih lanjut

Detektif Detektif II: Junior

Baca ini dulu sebelumnya.

Warner TV menayangkan lagi serial Veronica Mars! Ya, ampun! Ini salah satu seri TV fave saya jaman dulu. Yaa, gak dulu-dulu amat, sih, ya. Eniwei, karena saya demen bikin daftar-daftar sesuatu, ini best 3 detektif remaja yang menurut saya yang sampai saat ini masih tetep suka.

1. Trio Detektif

Dari kanan: Bob, Jupe, dan Pete. Pas banget, ya..

Dari kanan: Bob, Jupe, dan Pete. Pas banget, ya..

Kenapa mereka bertiga mendapat posisi yang tertinggi dalam daftar saya? Sederhana saja, mereka adalah detektif pertama yang saya baca.

Saat ini, sudah sangat lama sejak saya membaca serial Trio Detective terakhir kali. Bukunya juga udah hilang semua! Tapi, setiap kali melihat buku tersebut, kenangan saya akan tahun-tahun ketika saya membuat orangtua saya bosan setengah mati gara-gara saya gak berhenti ngomongin mereka masih teringat seakan baru kemarin saja.

Sesuai namanya, Trio Detektif sebenarnya tiga sahabat berusia 13-14 tahun yaitu Jupiter Jones, Pete Crenshaw, dan Bob Andrew. Mereka bertiga tinggal di kota fiktif Rocky Beach, California.

Jupiter sang penyelidik pertama adalah mantan actor cilik yang dikenal dengan sebutan Baby Fasto, karena bobotnya. Jupe adalah anak yang sangat cerdas dengan kemampuan memori yang luarbiasa. Jupe menggemari teka-teki dan sepertinya sih teka-teki pun menggemarinya, hehe..

Jupe adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibi yang mengelola tempat jual beli barang bekas. Diantara tumpukan barang inilah, markas Trio Detektif didirikan. Orang tua Jupe dikatakan sudah meninggal dunia. Kalau menurut buku-buku originalnya, ayah dan bunda Jupe adalah penari professional. Namun adaptasi terakhir The Three Investigators and the Secret of Skeleton Island, ayah dan bunda Jupe adalah ilmuwan yang, sama kayak anaknya, hobi menyelidiki fenomena-fenomena aneh. Lebih masuk akal daripada professional dancer kalau menurut saya.

Pete adalah orang kedua di tim ini. Digambarkan sebagai pemuda yang atletis, tapi juga paling bodoh, hehe.. Walau bagaimanapun, berguna di dalam tim. Orang ketiga adalah Bob Andrew, jago masalah teknis dan riset.

Kasus mereka biasanya begini: mereka menemukan barang atau tempat yang membuat mereka bertanya-tanya, jam yang bukannya berdering malah ngejerit-jerit misalnya. Atau burung yang gagap. Nah, mereka selidiki itu sampai ujungnya, biasanya, mereka akan menemukan harta karun!

Nah, anak kecil mana yang gak tertarik kisah itu cobaaaaa

Anak jaman sekarang… lebih tertarik main get rich*sigh*

2. Veronica Mars

Serial Veronica Mars hanya berjalan 3 season plus satu kisah layar lebar. Singkat, tapi bikin saya jatuh hati juga.

Jadi si Veronica adalah anak satu-satunya sheriff yang beralih profesi menjadi penyelidik swasta. Anak perempuan 17 tahun ini bersekolah di Neptune High, salah satu SMA yang siswa-siswanya kebanyakan anak-anak artis atau anak orang kaya.

Walaupun bukan anak orang kaya, tapi dulunya Veronica adalah cewek popular. Itu hanya gara-gara dia pacaran dengan Duncan, cowok popular di sekolah yang ayahnya adalah pemilik perusahaan besar. Ditambah pula, ayah Veronica, Keith Mars, adalah sheriff di kota itu. Tapi setelah Lily, sahabat Veronica, mati dibunuh orang, dia putus dengan Duncan. Sang ayah dipecat setelah berkonflik dengan ayahnya Lily yang merupakan salah satu orang terpenting di kota itu. Maka, kehidupan Veronika di sekolah ikut terpuruk. Ditambah dengan kaburnya sang ibu, jadilah Veronica berubah menjadi anak yang sinis memandang segala sesuatu.

Diawali dengan penasaran apa yang sebetulnya terjadi dengan Lily, Veronica pun semakin tertarik masuk ke dalam dunia penyelidikan bersama sang ayah. Dan karena keterpurukan statusnya di sekolah membuat dia menjadi berkenalan dan bersahabat dengan anak-anak yang sebelumnya tidak dia kenal. Eli Navaro, misalnya, seorang anggota gank motor tukang buat onar yang dia selamatkan dan akhirnya banyak menyelamatkan dan membantunya nanti. Walace si anak yatim yang menjadi korban bully, dan Mac yang jago computer. Tiga orang terdekatnya inilah yang nantinya banyak membantu Veronica dalam memecahkan kasus-kasusnya.

Saya suka seri ini karena kasus-kasus yang dipecahan si Veronica, anak SMA, ya memang urusan yang bisa dipecahkan anak seusianya. Misalnya, mencari tahu siapa yang menyebarkan email-email jahat di sekolah, kecurangan dalam pemilihan ketua murid, atau kesalahan dalam tes narkoba. Kalaupun ada kasus yang akhinya besar—misalnya masalah domestic abuse terhadap salah satu anak yang di jaga seorang siswa yang part time sebagai babysitter—itu pada akhirnya akan diambil alih oleh sheriff setempat.

 

3. Hajime Kindaichi Hajime Kindaichi

Hampir sama ceritanya Cuma aja gak seterkenal Conan Edogawa kalo di kita. Buat saya pribadi, saya lebih suka dengan Detektif Kindaichi daripada Detektive Conan. Soalnya si Kindaichi itu tengil.

Berbeda dengan Conan yang digambarkan anak baik-baik ganteng tukang berpose keren pinter jago maen bola, Kindaichi adalah anak SMA yang pemales, badung, tukang ngeluh, dan hobi ngintipin rok anak cewek. Kindaichi sih lebih suka hidupnya tenang saat dia bisa males-malesan. Hanya saja, kasus-kasus criminal seakan tertarik berada di sekitarnya, tuh.

Ebuset, kan?

Kalo gw sekelas sama Kindaichi, gua bakalan ngelakukan apapun biar bisa pindah sekolah aja. Ngeriiii…

Nah, kalo si Conan langsung kepengen ikutan terlibat menyelidiki, si Kindaichi ini biasanya ogah-ogahan dulu. Barulah saat makin genting, dia mulai tertarik dengan embel-embel ngomong, ‘Demi reputasi kakekku, akan kupecahkan kasus ini..’ Yah, gitulah kira-kira, ya.. Kakeknya Kindaichi ini adalah seorang detekif yang terkenal di Jepang. Saya lebih suka seri Kindaichi karena lebih sadis dibanding Conan, hehe… Tapi juga lebih, agak, masuk akal. Maksud saya, dalam kisah-kisah Kindaichi kan si pembunuh memang selalu sudah merencanakan matang-matang aksinya. Terkadang sampai bertahun-tahun. Kalau dalam Conan, kadang dalam kisahnya si pelaku bertindak impulsive aja gitu. Karena terpicu sesuatu atau perkataan saat itu juga yang menjadi motif. Tapi anehnya, walaupun impulsive, tapi kok pembunuhannya sangat rumit yang harusnya butuh perencanaan yang seksama. Gak masuk akal!

The Casual Vacancy

All these kind words. They’ve made up for what has been truly rubbish day, so thank you, and there’s to be an election to take my place.

Now, come on, Pagford, did you think I wouldn’t have something to say about this? Of course I do. A little thing like death isn’t going to hold me back.

But what am I going to say and when am I going to say it?
You’ll know, when I’m ready.

It’s impossible to keep secrets in this place, isn’t it?

Oh, you’d surprised, Pagford. Everyone’s got skeletons rattling in their cupboard.

Everyone’s got something.

I am the ghost of Barry Fairbrother…
.. and I am watching you.

Jadi ceritanya ada sebuah kota kecil di Inggris yang jauh dari keramaian kota. Semacam St. Mary Mead tempat tinggalnya Miss Jane Marple-nya Agatha Christie, lah. Nama kota ini adalah Pagford, berbatasan dengan Yarvil. Kemudian berbatasan juga dengan dua kota kecil tersebut adalah suatu wilayah yang disebut Field. Tiga wilayah ini adalah latar dari kisah The Casual Vacancy.

Kehidupan di pagford berjalan seperti layaknya sebuah kota kecil. Kemudian pada suatu hari, Berry Fairbrother meninggal dunia secara mendadak di lapangan parkir sebuah rumah makan. Dia dan istrinya, Mary, hendak makan malam merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Tiba-tiba saja Berry terjatuh, muntah, lalu menghembuskan nafas terakhirnya.

Barry meninggal dunia pada usia 40 tahun dalam rengkuhan istrinya, tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-19. Penyebabnya, Aneurisma. Pecahnya pembuluh darah di otak.

Well, isn’t that beautiful?

Barry dan Mary Fairbrother

Barry dan Mary Fairbrother

Barry bukan penduduk biasa. Dia adalah ketua dewan kota yang benar-benar memberikan seluruh hatinya demi kepentingan semua. Tentu saja, kematiannya ini akan memicu beberapa pergerakan dan perubahan di dalam kota. Dalam suasana Casual Vacancy (kekosongan jabatan), suhu politik di kota kecil ini mulai menghangat.

Saya kira, dari segambreng tokoh yang ada dalam kisah–beneran sumpah banyak banget!–dapat dikerucutkan dalam tiga kelompok calon pengganti Barry. Baca lebih lanjut

Six Suspects

Never judge a man’s actions until you know his motives

Ini kisah pembunuhan, genre yang selalu menjadi pilihan pertama bahan bacaan saya. Kedua, penulisnya orang India dan bersetting di India. Itu juga salah satu daya tarik bagi saya.

Eits, jangan salah, saya bukan penggemar kisah-kisah India dalam bentuk film apalagi sinteron. Gak ada satupun film India atau sinetron India yang saya suka—dan karena itu saya ogah nonton. My Name is Khan ataupun Tiga Idiot yang kata orang bagus pun saya baru nonton seperempat jam udah ngantuk berat. Jangan masupin Slumdog Millionaire, deh. Itu kan film Hollywood besutan Danny Boyle, sama kayak Life of Pi yang dari novelnya yang bikin orang Kanada filmnya dibikin Hollywood disutradarai orang Cina.

Tapi buku India, itu lain soal.

Dari jaman Apparajito-nya Barneji sampe The God of Small Things, saya selalu menyukai novel India khususnya karya moderennya. Karena itulah Six Suspects dengan tanpa ragu saya ‘klik’ beli dari toko buku online tempat saya membeli. Baru ngeh kemudiannya kalau ini adalah karya Vikas Swarup. Itu, loh, yang nulis Slumdog Millionaire.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian yang langsung ngingetin saya dengan Tokyo Zodiac Murder, namun ketika mulai membacanya saya malah jadi kayak baca proposal atau makalah, hehe.. Kalau seringnya baca buku susah membayangkan bagaimana jika dibuat film, kisah ini justru dari awalnya kita langsung seakan berada di dalam sebuat film.

Bagian-bagian buku ini adalah sebagai berikut: Baca lebih lanjut